Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
Antara ada dan tiada


__ADS_3

"menurut kamu, kenapa tuan Diaz mau menikahi perempuan itu?" Brox kembali serius.


"entahlah, dia memang Pria yang sulit dimengerti. dia memiliki belas kasih namun juga tak ingin rugi" Sebastian kembali menyeringai.


Brox tak mampu menahan tawa mendengar jawaban menohok Sebastian mengenai tuannya sendiri.


DRRT


ponsel Brox bergetar, tangannya kemudian merogoh poket belakang celana menarik benda elektronik tersebut. dilihatnya notifikasi telpon dari Calix, tuannya.


"Saya sudah di sini tuan, tuan Diaz baik-baik saja" Katanya saat ponsel itu menempel di telinga.


"Aku tidak perduli" jawab Calix.


"cepatlah kembali, pekerjaan kantor sangat banyak. aku mau ke Luxury" sambung Calix.


"Baik tuan" jawab Brox kembali.


tut


Calix langsung mematikan telpon, Brox memasukkan ponselnya kembali ke saku belakang.


"hmph, menyenangkan sekali melayani dua saudara ini kan Tian? haha"


"tentu saja"


Buk


"aku kembali, jaga dia baik-baik" Brox menepuk pundak Sebastian dan bangkit dari kursi.


perlahan langkah Brox semakin jauh, hilang tak terlihat lagi di pandangan Sebastian.

__ADS_1


"akh.. " rintih Sebastian memegang pundak yang baru saja di tepuk Brox.


Amirah yang dari tadi hanya duduk di kursi lain seberang pintu kamar, terus diam. Sebastian kembali menoleh menatap Amirah sinis.


"Aku bahkan tak ingat dengan kehadiran dia di sini, Sejak kapan dia duduk di situ?" katanya dalam hati


sedangkan di sisi lain, Amirah...


"Aku hanya debu, tidak terlihat. aku hanya debu, tidak terlihat" kata Amirah diulang-ulang dalam hati, pandangannya lurus menatap tembok tak berani menoleh, sadar bahwa mata elang Sebastian kembali menatapnya seperti ayam.


Sebastian bangkit dari tempat duduk, namun matanya tak beralih, kelopak mata itu mengecil turun ke bawah melihat gelagat aneh dari Amirah.


kakinya tak diam bergoyang-goyang namun tangannya kaku meremas rok maid yang menutup lutut.


Kening Sebastian mengerut melihat gerik tubuh Amirah yang semakin aneh, mulut Amirah komat kamit terus menatap lurus di tembok depan.


"Sungguh aku adalah debu, aku tidak terlihat. benar-benar tidak terlihat. jangan anggap aku ada, aku hanya debu, hanya debu" ucap Amirah kembali dalam hati ketakutan.


"Brox benar-benar kurang ajar, dia tahu pundakku memar karena di pukul. dia sangat jeli hanya dengan melihat bekas debu di pakaian ku" Sebastian menyeringai mengagumi kepandaian Brox sahabatnya.


rintihan Sebastian membuat keteguhan Amirah menatap tembok buyar, kepalanya reflek menoleh ke samping memperhatikan Sebastian.


"Tuan kenapa?" mulut Amirah kini berbicara jelas.


Sebastian kembali menatap Amirah sinis.


"Kamu duduk saja di situ, mengganggu!"


"oh, baik tuan" Amirah kembali mengulang gerik tubuhnya seperti di awal. pandangan lurus ke depan, mulut komat kamit, kaki bergoyang-goyang, dan tangan yang meremas rok maid di lutut.


Sebastian kembali mengerutkan dahi, kepalanya geleng-geleng heran melihat perangai Amirah.

__ADS_1


"Maria dalam bahaya kalau di layani maid tak waras seperti itu" umpat Sebastian merinding melihat Amirah.


Sebastian kemudian berbalik badan ke arah lift di ujung lorong, meninggalkan Amirah. Amirah langsung menghela nafas panjang saat suara kaki Sebastian sudah tak lagi terdengar.


"huh.. hah.. huh... hah" nafasnya terengah-engah


"Tuan Sebastian pasti sangat kesal melihat aku karena ikut membantu nyonya pergi. kalau tuan Sebastian saja bisa begitu, bagaimana dengan tuan Diaz?"


SEERRR


Amirah merinding, wajahnya semakin kalut menjadi-jadi.


...****************...


"Maria, aku mau pulang" ucap Diaz manja di pelukan Maria.


Maria mendorong tubuh Diaz menjauhkannya dari dekapan tubuhnya, matanya menyipit menggoyang-goyangkan tubuh Diaz ke kiri dan ke kanan.


"Sepertinya tidak ada yang parah, tapi biar aku tanyakan dulu dengan dokter ya"


Maria langsung membalik badan melangkah keluar ruangan.


...************...


Halo ini Diaz 😒


maafkeun karena hari ini author upload malam, tapi tenang saja aku pasti akan berusaha mengawasi agar author kita ini dapat disiplin


( ̄へ  ̄ 凸


Terima kasih karena kalian sudah membaca sampai di bab ini, itu saja. teros hantui kami dengan up up up (ง ͠° ͟ʖ #)ง karena sejujurnya aku menyukai saat author garuk kepala saat menulis.

__ADS_1


ku pantau banyak kali yang marah-marah sama aku ya di bab bab belakang. jangan lupa gabung grup, kita ribut. ku tandai klen ya ( •̀_•́ )


__ADS_2