
Pukul 10.00 pagi, Setelah mengobrol lama dengan Brama mertuanya, Diaz keluar ruangan. Sebastian masih menunggu di kursi panjang depan pintu kamar.
Mereka turun ke bawah naik lift kemudian pergi menuju kantor.
"Kamu, sudah mendengar semuanya kan Tian?" Wajah Diaz datar menatap jalanan di depan.
"iya bos"
"Cari bukti yang bisa menunjukkan bahwa Maria adalah bagian dari keluarga Owen!! Maria harus menemukan jati dirinya, dia harus mendapatkan apa yang menjadi miliknya" Perintah Diaz mengepal tangannya kuat.
"Baik Bos, segera saya laksanakan"
broom broom
Sebastian menginjak pedal gas, wajahnya serius mengendalikan kemudi mobil.
drrt drrt
Ponsel Diaz berdering, ada panggilan masuk dari istrinya, Maria. wajah serius itu langsung berubah cerah, bibirnya menyeringai saat melihat notifikasi telpon.
"Kenapa?" katanya setelah mengangkat telpon.
__ADS_1
"Kamu sedang apa? sudah sampai kantor kan? aku ganggu tidak?" suara Maria sangat nyaring saat di ponsel.
"Tanyakan satu-satu, aku sedang mengerjakan beberapa berkas di kantor, iya aku sudah sampai, tidak, kamu tidak mengganggu sama sekali" Diaz menjawab semua pertanyaan Maria meskipun dua di antaranya adalah kebohongan.
"Nanti siang aku ke rumah sakit ya, aku boleh petik bunga lagi di taman samping? aku ingin merangkainya untuk di taruh di Vas bunga samping tempat tidur ayah"
"tentu saja boleh, taman itu adalah milik kamu sekarang. nanti malam, setelah pulang kerja biar aku yang jemput ya"
"Siap bos, Terima kasih"
Tut, telpon itu kemudian Mati. Diaz kembali menyeringai, dia senyum-senyum sendiri wajahnya sedikit memerah.
"Bos, apakah anda baik-baik saja?" Sebastian menoleh ke arah Diaz, melihat gelagat Diaz yang aneh menutupi mulut dengan kepalan tangannya.
"Hah?" tingkahnya membuat Sebastian semakin heran.
...****************...
Maria mematikan ponsel dan menaruhnya ke nakas samping ranjang. dia cepat keluar kamar dan turun ke bawah menuju taman di samping rumah. tentu saja tak tinggal, Amirah langsung mengikuti nya dari belakang.
"nyonya mau petik bunga lagi?"
__ADS_1
Amirah ikut menunduk saat Maria duduk jongkok memotong beberapa tangkai bunga.
"kemarin bunga-bunga itu aku rangkai memenuhi vas di dalam rumah Amirah dan hari ini aku ingin memetik beberapa bunga cantik ini untuk menghias kamar rawat ayah, ayah pasti senang"
"wah, nyonya benar-benar anak yang berbakti. Ayah nyonya pasti bangga memiliki nyonya sebagai anaknya"
Maria berdiri dan meraih pundak Amirah.
"sama seperti kita bangga memiliki mereka sebagai orang tua kita. Rasanya apapun yang aku lakukan tak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan ayah, tapi kita sebagai anaknya harus selalu berjuang untuk kebahagiaan mereka ya Amirah!!"
senyum lebar penuh semangat dari Maria itu justru berlainan dengan respon Amirah, wajahnya lesu, tak ada senyum sama sekali.
"Amirah? apa kamu baik-baik saja?" dia memajukan wajahnya mendekati muka Amirah.
"Ah.. hah? iya nyonya saya baik-baik saja. maaf nyonya tadi saya sedikit melamun" jawab Amirah gugup.
...****************...
setelah selesai merangkai bunga, Maria diantar ke rumah sakit oleh supir pribadi di rumah. karena Diaz yang akan menjemput saat pulang nanti, Amirah tak ikut, hanya Maria saja yang pergi.
lama bersama ayahnya, beberapa jam mereka habiskan mengobrol, tertawa, dan makan bersama hingga tak terasa hari sudah gelap, mobil Diaz sudah terparkir depan rumah sakit.
__ADS_1
Dia datang ke kamar rawat Brama dan menjemput Maria pulang. wajah Maria sumringah begitu juga Brama ayahnya, mereka saling melambai tangan saat Maria di bawa Diaz keluar ruangan. Diaz tahu, di balik tawa itu matanya tak pernah bohong, ayah menyimpan kesedihan yang tak dapat ia bagi dengan putrinya.