
Amirah masuk ke dalam mobil hitam milik Sebastian yang terparkir di seberang jalan. dia cepat menggosok matanya sebelum Sebastian melihat air mata itu mengalir membasahi wajah Cantiknya.
"Tuan Sebastian maaf, apakah anda terluka? punggung anda terkena pukulan botol dari Ayah sampai pecah"
Amirah memegang balik lengan Sebastian. namun sayangnya Sebastian pria yang cukup peka dengan masalah
"hentikan!! aku baik-baik saja. katakan apa yang dia mau dari kamu?"
Amirah tertunduk malu saat Sebastian menatapnya serius. bibirnya kaku untuk menjawab namun ia memberanikan diri membuka mulut.
"Ayah mau Uang" jawabnya singkat, wajahnya terus berpaling enggan menatap balik Sebastian.
"Kamu berikan?"
"Tidak, soalnya saya tidak punya uang" Amirah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebastian mengernyitkan dahi saat Mendengar jawaban Amirah.
"Lalu kenapa kamu menemui dia sedangkan kamu sendiri tidak punya uang" bentak Sebastian kesal.
"Ayah bilang akan mencari saya kemanapun dan ayah tahu tempat saya bekerja. saya takut ayah akan berbuat onar di rumah tuan Diaz dan nyonya Maria. Saya tidak mau membuat masalah di tempat mereka.. hiks... hiks" kini Amirah tak mampu membendung Air matanya.
"Dari Ami kecil ayah selalu kasar, ibu selalu di pukul kalau ayah kalah judi. saya terpaksa berhenti sekolah saat ibu meninggal dan mulai bekerja keras untuk bisa mendapatkan uang-"
"saya pikir kalau bisa memberikan ayah uang, saya bisa di cintai oleh ayah dengan membuatnya senang.. hiks.. hiks.. "
Amirah refleks membenamkan wajahnya di dada bidang Sebastian. air matanya membasahi kemeja yang di pakai Tian.
"hiks... hiks... sakit, ayah pukul Amirah sakit" nafasnya terengah-engah karena tangisan nya yang semakin kuat.
__ADS_1
Sebastian tak mampu mengalihkan tubuh Amirah dari tubuhnya, dia yang tak pernah dan risih bersentuhan dengan perempuan entah mengapa kali ini tak ingin menghindar, kedua tangannya bergerak kaku menyentuh punggung dan kepala Amirah.
"Jangan Menangis... " bisiknya lembut.
"Kamu akan baik-baik saja" sambungnya.
dia mendekap Amirah kuat saat tangis Amirah semakin menjadi, panorama bulan malam ini terang, masuk ke dalam kaca mobil.
Sebastian menginjak pedal gas, saat Amirah tak sadarkan diri dalam dekapannya. pingsan atau tertidur, entahlah. dia menyandarkan lembut Amirah di samping dan mengendarai mobil jauh lebih lambat dari biasanya, terutama karena jalanan sudah sepi saat hari sudah malam namun dia berjalan lambat agar tak mengganggu Amirah.
...****************...
...(di kamar Maria dan Diaz) ...
"Hari ini aku memotret beberapa tanaman di taman samping rumah, ada bunga-bunga juga. kamu mau lihat?"
"Boleh" jawab Diaz lembut
"hasilnya bagus"
"benarkah?"
"tentu saja, bunganya cantik seperti kamu" Diaz tersenyum menatap Maria, membuat Maria salah tingkah.
drrt drrt
Tiba-tiba ponsel Diaz di atas nakas bergetar, cepat Diaz meraih telpon pintar itu. panggilan masuk dari Rumah sakit. membuat Diaz tertegun, reflek dia menoleh menatap Maria di samping nya.
baru ini ia merasakan adanya panggilan telpon yang membuatnya spot jantung. Diaz langsung bangkit dari kasur dan menyingkir jauh dari Maria, pergi keluar kamar.
__ADS_1
"Halo, selamat malam tuan Diaz. saya dari rumah sakit Orton, suster dari ruang rawat tuan Brama. mohon maaf sebelumnya tuan jika mengganggu istirahat malam anda tuan Brama memaksa saya untuk menelpon anda, ada hal penting yang ingin di sampaikan tuan Brama pada anda tuan"
"Berikan padanya" jawab Diaz singkat.
suster kemudian menyerahkan ponselnya kepada ayah Maria yang dari tadi sudah tak sabar ingin mengambil alih ponsel.
"halo Diaz? ini ayah. maaf bila mendadak, apakah Maria sekarang ada di samping kamu?"
"tidak ayah, aku di luar"
"syukur lah, Diaz bisakah besok kamu ke rumah sakit sendirian tanpa Maria? ada yang ingin ayah berikan pada kamu"
"berikan? memangnya apa?"
"Bisakah besok kamu datang sendiri Diaz" Brama mengulangi kembali ucapannya.
"bisa"
"syukurlah ayah lega. dan bisakah kamu rahasiakan hal ini dari Maria? termasuk telpon ini, jangan katakan padanya"
"iya ayah, aku mengerti"
"syukurlah, Terima kasih Diaz ayah matikan telponnya"
tut
entah apa yang ingin di sampaikan ayah Maria padanya besok sampai harus di rahasiakan dari Maria. kepalanya penuh dengan pertanyaan, dia kemudian masuk dan kembali tidur bersama Maria.
"Dari siapa?"
__ADS_1
"Sebastian" jawabnya singkat.