
Anderson sumringah masuk ke kamar tak sabar menikmati wanita panggilan yang baru saja di beli, pria gemuk berkumis itu terus tertawa senang karena pertama kalinya berhasil menekan dan mempermalukan Diaz.
Dahinya mengkerut saat melihat perempuan dengan pakaian minim itu malah tertidur.
"Apakah ini teknik baru perempuan penggoda ini untuk melayani ku" dia menggosok gosok kedua telapak tangannya sambil sesekali menjulurkan lidah, bak binatang kelaparan yang melihat santapan di depannya.
namun tiba-tiba kerah kemeja yang ia kenakan menyempit mencekik lehernya, karena di tarik oleh seseorang dari belakang membuat lidahnya sulit untuk masuk kembali ke mulut.
"Pernahkah kamu mendengar bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya? misalnya aku membunuh kamu atau kau yang membunuhku, atau kita saling melukai satu sama lain, itu adalah hal yang wajar kan Anderson?" seseorang berbisik di telinga Anderson.
Anderson berusaha menoleh ke belakang untuk melihat orang yang lancang masuk ke kamar pribadi miliknya di Luxury dan berani menyakitinya.
"Calix?"
"KEP*RAT!!! BERANI SEKALI KAMU MASUK KE SINI, LEPASKAN AKU!!! PENJAGA!!! PENJAGA!!!" dia berusaha memberontak, memekik memanggil beberapa penjaga pribadinya. namun tentu saja tak ada yang datang, tak ada yang berdiri di dekat kamar karena mereka akan menjauh saat dia sedang senang-senang dengan perempuan panggilan.
"waktu kamu menatapnya begitu, ketika perkataanmu beberapa jam yang lalu kau utarakan, aku jadi percaya bahwa kau benar-benar yakin ingin melawan" Bisik Calix kembali dia menatap Anderson tajam seolah-olah tengah mengeluarkan ribuan dendam. bunuh ayo bunuh suara hatinya memanggil-manggil membakar amarahnya agar mereka saling memangsa.
Dia membalikkan tubuh Anderson menghadapnya, dia memukulnya, matanya semakin tajam. Anderson terpelanting dan matanya berkunang-kunang. namun itu bukan pukulan telak, sebab Anderson masih bisa bangun lagi.
darah keluar dari mulut Anderson, dia menyadari bahwa Calix bukan lawan sepadan untuknya, Calix terlalu kuat untuk ukurannya, masih muda, berotot dan mempunyai semangat membunuh yang membara. Anderson merangkak mendekati Calix, dia memohon-mohon memeluk kaki panjang Calix.
__ADS_1
"Calix aku mohon hentikan, aku menyesal aku sungguh tak bermaksud memojokkan kakak mu. aku akan segera minta maaf padanya, sungguh. tolong ampuni aku" Dia menangis di kaki Calix.
"Cukup, mulutmu busuk."
Calix meraih tangan Anderson, membuatnya bangkit dan berdiri di hadapannya.
"pergi sana laki-laki sampah"
JLEB
Calix menusukkan pisau di perut buncit Anderson. darah segar mengalir membuat Anderson langsung meregang nyawa saat itu juga. Dia mendorong tubuh Anderson hingga terjatuh di kasur samping perempuan panggilan yang masih belum sadarkan diri itu, lalu pisau yang ia pegang di pindahkannya dalam genggaman perempuan tadi.
"Semua aman tuan, kita bisa pulang sekarang"
...****************...
satu jam kemudian sejak Calix pergi, Perempuan itu membuka matanya perlahan ia terbangun sambil sesekali menggosok kelopak matanya. ia kebingungan saat satu tangannya memegang pisau dengan sedikit noda darah, matanya terbelalak terkejut saat melihat sosok Anderson bersimbah darah terbaring di sampingnya.
"AAHH" teriak perempuan itu histeris.
para penjaga yang baru datang berdiri di depan kamar Anderson langsung masuk, mata mereka membulat berdiri di muka pintu.
__ADS_1
"Pembunuh!! wanita itu membunuh tuan Anderson" teriak salah satu dari mereka saat melihat perempuan itu masih memegang pisau.
"Tangkap dia!!"
...****************...
Diaz kembali pulang lebih awal, di sayup-sayup langit senja Sebastian mengantarnya pulang. Maria semangat menyambutnya di pintu depan.
"Selamat datang, aku sudah siapkan makan malam. mau langsung makan atau mandi dulu?"
"Nanti saja Maria, aku masih kenyang mau mandi dulu" Diaz kembali menjawabnya dingin.
"Ah, tunggu sebentar ya. aku siapkan air panasnya"
"Tidak, aku ingin mandi air dingin sekarang" Jawabnya lesu menepis semua tawaran Maria.
Dia langsung naik ke kamar meninggalkan Maria dan Sebastian di pintu depan.
Maria Diam sejenak lalu memalingkan pandangannya pada Sebastian.
"Aku pulang dulu, permisi" Sebastian menunduk kemudian pergi.
__ADS_1