
udara dingin dari air conditioner yang terpasang di sudut ruang kerja berhembus menyentuh tengkuk Diaz. sejuk. Dia meraih lagi kopi yang nikmat dan segar di atas meja. koran yang baru di beli sudah ditanggalkan nya, koran yang hanya berisi ilusi-ilusi tentang kenyataan, bukan kenyataan konkret nya sendiri.
Diaz menyalakan sigaret dan menghisap asapnya kuat-kuat, menikmati tembakau nikmat itu, membuatnya kembali bergairah. matanya menerawang jauh, jauh sekali.... ke tempat dimana Maria berada. ia duduk manis dan tampak anggun, mengenakan dress sederhana namun pantas dan terlihat menarik. dia tersenyum pada Diaz dan langsung meraih genggaman tangannya.
kemudian tiba-tiba, dengan gerakan yang tak terduga, Maria menarik tangannya hingga dada Diaz merapat ke dadanya. wajah Maria mendekat dan semakin dekat dengan wajahnya dan ketika Maria ingin mencium pipinya, dari arah yang tak jauh terdengar suara pria, tak asing. itu adalah suara Sebastian, mengagetkan nya. Akhirnya, tamatlah riwayat fantasi ciumannya dengan Maria. sial.
"Bos... bos?"
Diaz membuka matanya pelan, dengan malas dia membangkitkan sandaran bahunya dari kursi.
"Tian... kamu mengganggu!! Ada apa?"
"Anda tertidur dari pagi tadi, apakah semalaman anda tidak istirahat bos?"
Diaz menaikkan pergelangan tangannya, melihat arloji. pukul 18.00. dia menoleh keluar jendela dilihatnya langit sudah berwarna jingga, lengkap dengan matahari yang sudah menurun.
__ADS_1
"Tidak"
"Semalam anda pulang lebih awal, apa yang terjadi sampai tidak istirahat yang cukup begini?"
"Bermain di game center, aku berusaha sampai semalaman untuk mendapatkan boneka kelinci di mesin capit untuk Maria"
Sebastian menyeringai mendengar jawaban Diaz.
Diaz meneguk lagi kopi sampai habis, kali ini sungguhan bukan lagi khayal dalam tidurnya. memantik korek dan membakar ujung rokok, menghisapnya sedikit tenang membuat kantuknya sedikit menghilang. namun pikirannya masih panjang untuk memberikan sesuatu lagi saat bertemu Maria ketika pulang nanti, rasanya tak cukup bila hanya dengan kekuatan cici. ia pikir dengan memberi sebuah kejutan, akan membuat perempuan melupakan kesedihannya. anak-anak remaja sering melakukannya dengan memberi cokelat. lagi dan lagi sampai senyum Maria kembali terukir.
"Pulanglah bos, istirahat. biar aku yang melanjutkan pekerjaan kantor malam ini di rumah. Maria pasti senang kalau bertemu kamu lebih awal, bukankah saat seperti ini dia sangat membutuhkan kamu?"
Sebastian memecah lamunannya, dia langsung berdiri senang dan membuang sigaret yang masih panjang, dan kembali memikirkan kejutan lain untuk Maria.
sepanjang jalan, di dalam mobil, pikirannya melayang-layang tidak keruan, bertubrukan dengan panorama kota yang semrawut oleh kendaraan dan orang orang yang berlalu lalang di jalan. Diaz memikirkan gagasan konyol itu, segar sekali rasanya setelah bekerja, melamun dan tidur seharian, cukup untuk mengusir gangguan lemas akibat kurang tidur.
__ADS_1
"banyak yang belum ayah berikan padanya, ia belum tau dan mencoba banyak hal... "
ia ingat betul semua perkataan dan nasihat dari Brama, mertuanya.
"Berhenti, tunggu sebentar!" pekiknya pada supir.
mobilnya berhenti di depan Bar mewah tak jauh dari kantor. dia membeli sebotol anggur dan kemudian berangkat lagi.
taksi berputar pelan, hatinya berdebar senang tak sabar memberi hadiah lagi untuk Maria.
keluar dari mobil, pemandangan Malam tampak begitu indah dan tenang, dengan langit yang sedikit cerah karena sinar rembulan penuh serta udara yang terasa lebih bersih. malam begitu tenteram dalam keagungan, sebuah bintang sendirian berjalan merapat ke arah kerumunan bintang di dekatnya. bintang itu perlahan berbinar-binar dan tampak semakin tegar pada orbitnya di tengah galaksi luar angkasa yang demikian luas dan gelapnya.
mungkin manusia tak beda halnya dengan bintang tadi, setiap manusia harus saling berbagi dengan orang lain segala apa yang di rasakannya, agar ia semakin kokoh dan semakin kuat. berbagi dengan orang lain, memang tak berarti bahwa itu mengurangi kesendiriannya, melainkan sekedar agar tak terlalu menanggung beban berat nasib kesendiriannya.
Diaz menatap bangunan tinggi rumah tenangnya, benar, tak sabar untuk menemani Maria.
__ADS_1