
Dia adalah Diaz Dawson, Pria Dewasa berusia 39 tahun, hidup dalam keluarga kelas atas membuat kehidupan sosialnya terbatas Dia tumbuh menjadi pria pendiam yang tak mudah akrab dengan orang lain. namun saat menginjak remaja di usia 15 tahun, dia di kenalkan dengan anak perempuan dari rekan kerja sang ayah yang menjadi cinta pertamanya, dialah Reina Owen, yang akrab dia panggil Rena.
cintanya tak pernah pudar, karena Rena adalah satu-satunya wanita yang hadir melengkapi hidupnya. Sebesar apa cintanya? bila dia dapat berkata mungkin dia akan melancarkan jawabannya, dia rela mengubah seluruh hasil tes Histeroskopi yang selama ini di lakukan Rena untuk mengetahui kesuburan pada dirinya agar Rena tak bersedih hati. Benar, dia tahu bahwa Rena impoten. namun karena cintanya, Dia rela tak memiliki keturunan dari Rena.
Sayang, bak di tusuk ribuan sembilu. Rena justru menceraikannya karena sebuah ambisi rakus. harta yang harus di bayar dengan keturunan. Rena menganggap bahwa Diaz adalah penyebab mereka tak memiliki anak, lalu memilih menikah dengan pria lain dan meninggalkannya.
Menjadi duda, Hidupnya berubah bagai tanah gersang tanpa air hujan. kehidupan yang kering kasih sayang, membuatnya tumbuh tanpa perasaan, orang bilang dia adalah laki laki dingin seperti gunung es, tapi apakah Selamanya akan begitu?
Dia menutup hati pada perempuan dan menikmati mereka merendahkannya dengan uang, karena Rena, baginya perempuan dapat di beli dengan uang.
namun semua berubah saat gadis kecil itu datang namanya adalah Maria Carmonika, wanita cantik yang begitu ramah, dia wanita sederhana namun sangat bersahaja, menikah kontrak dengannya membuat gunung es jiwa Diaz yang lama membeku kembali mencair. Cinta Maria yang hangat bagai lentera yang membakar dunia Sang CEO yang kosong, keras dan gelap.
...****************...
Sudah dua hari sejak pertemuan dewan, Duaz kehilangan muka untuk kembali mendekap Maria. dia membeku, berusaha menekan perasaan pada Maria, Hilang percaya diri? entahlah. bagai menemukan celah kekurangan pada kehidupan sempurna sang CEO.
apakah aku punya salah?
pertanyaan itu jelas selalu muncul di benak Maria, Diaz memang tak memperlakukannya kasar bahkan tetap meresponnya baik seperti biasanya. namun sebagai orang yang paling dekat, jelas merasakan perbedaan pada sikap Diaz.
bila harus di sebutkan satu persatu mungkin tak akan habis, namun ada beberapa yang terlihat jelas. Diaz tak pernah mau menatap matanya. saat pulang Diaz langsung tidur, tak menggodanya seperti biasa, pelukan, sebuah Ciuman selamat pagi, sudah tak ada lagi. bahkan memasangkan Scraft pun Diaz tak memerlukan bantuannya lagi.
__ADS_1
Malam ini, dia memejam paksa mata berpura-pura tidur, Diaz Masuk ke kamar menghela nafas panjang. sedikit lega saat melihat Maria sudah berbaring, karena ia tak perlu susah payah lagi menghindari Maria.
"Aku tidak meyakini perasaanku, bahwa aku tertarik padanya saat pertama kali ku lihat dia, aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku tidak akan jatuh cinta padanya, aku menyusuri waktu namun semakin aku menjauh yang terlihat hanya lah dirinya, aneh" katanya dalam hati dia menyeringai sambil sesekali mengelus rambut Maria.
Namun tiba-tiba...
kelopak mata Maria terbuka dia melotot menatap Diaz di atasnya. Diaz menghindar berusaha berpaling, namun pergelangan tangannya keras di dalam genggaman Maria.
"Jangan menghindar lagi" wajahnya serius menatap Diaz.
Diaz menuruti perintahnya, namun matanya berkeliling enggan menatap Maria.
Diaz kembali menuruti perintah Maria.
"Katakan dengan Jujur, apakah aku berbuat salah padamu? atau kamu mulai jenuh karna aku sampai sekarang belum mengandung? atau kamu sudah bersenang-senang lagi dengan perempuan lain?"
"Tidak, tidak sama sekali"
"Lalu apa? kenapa kamu selalu membuatku bingung, kali ini saja, tolong katakan aku salah dimana? apa yang membuat kamu menghindari ku begini?"
Diaz diam sejenak, lidahnya Kelu berat untuk mengatakan yang mengganjal di hatinya. namun dia memberanikan diri...
__ADS_1
"Maria..." diaz menggantung ucapannya.
"Apakah kamu memiliki cinta lain sebelum mengenalku?" sambungnya.
"Apakah kamu malu menikah dengan seorang duda yang usianya jauh lebih tua dibanding kamu?"
"Apakah Kamu menyesal bertemu denganku?"
"Ap... " ucapannya terpotong saat telunjuk Maria meraih depan bibirnya.
Maria menatapnya tajam, mata indahnya membulat saat bertemu sepasang mata coklat milik diaz, "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?"
"Maria apakah kamu ingat aku pernah membacakan sebuah kalimat dalam bahasa asing di buku filosofi? ....To love unconditionally requires no contracts, bargains, or agreements. Love exists in the moment-to-moment flux of life.... "
"Kamu tahu artinya?" Katanya berjeda.
"Untuk mencintai tanpa syarat, tidak perlu kontrak, tawar-menawar, atau kesepakatan. Cinta ada dalam arus kehidupan..."
"Maria...bisakah aku memiliki cinta tanpa syarat itu?"
Suasana hening, Diaz langsung terdiam dengan ucapannya sendiri. Dia menurunkan pandangannya ke bawah, Maria mematung, matanya membulat menatap wajahnya.
__ADS_1