
Pagi ini Sebastian berangkat menuju rumah tenang Diaz, kali ini dia tak sendiri dia pergi bersama Amirah karena semalam Amirah tak kembali ke rumah Diaz dan Maria melainkan di bawa pulang ke rumahnya.
40 menit perjalanan mereka tempuh hingga akhirnya sampai di depan rumah Diaz dan Maria, awal masuk gerbang dapat mereka lihat Diaz dan Maria yang sudah menunggu di depan pintu rumah.
"tu.. tuan Sebastian, soal semalam bisakah anda rahasiakan dari nyonya dan tuan? saya mohon" Ucap Amirah pelan.
dia duduk di samping Sebastian yang mengendarai mobil.
"Kenapa?" Sebastian menatapnya datar.
"Saya malu tuan, saya malu dengan nyonya dan tuan. saya mohon tolong rahasiakan jangan beri tahu siapapun"
Sebastian diam menatap Amirah yang menunduk, wajahnya terlihat lesu matanya sedikit sembab sebab semalaman dia menangis di rumah Sebastian.
Kritt
mobil berhenti di depan, Amirah menarik lengan kemeja Sebastian saat Sebastian melepas seat belt. wajahnya memelas berharap agar Sebastian menuruti keinginannya.
"Baiklah..." jawab Sebastian singkat.
mata Amirah langsung berbinar, dia langsung mengikuti langkah Sebastian keluar dari mobil.
Sebastian mengerutkan kening saat dilihatnya wajah lesu Amirah beberapa menit yang lalu langsung berganti dengan senyum sumringah.
Namun bukan hanya Sebastian yang terkejut saat Amirah keluar. dua orang lain yang berada di depan rumah, Maria dan Sebastian langsung terdiam.
Diaz membelokkan pupil matanya ke sebelah kanan ke arah Sebastian.
__ADS_1
"Amirah?"
"nyonya, maaf saya pulang telat"
"Amirah izin keluar semalam karena ingin bertemu seseorang, maksudnya Sebastian?" Maria menyeringai senang.
"Kamu sampai membawanya menginap?" Diaz menatap datar Sebastian di sampingnya.
"Tidak di sangka kalian bisa sedekat ini Amirah, Sebastian. aku ikut senang!!" Maria meraih telapak tangan Amirah menggenggamnya kuat.
"Aku tak pernah melihat kamu dekat dengan perempuan selama ini, ternyata sudah bisa sejauh ini"
Sebastian langsung kikuk saat Diaz menepuk pundaknya. beberapa kali mulutnya terbata untuk menepis tudingan liar Maria dan Diaz namun matanya tak lepas saat Amirah menggelengkan lambat kepalanya agar Sebastian tak berbicara yang sebenarnya.
Sebastian menghela nafas panjang geriknya langsung tenang seperti ia biasanya.
"Bos, kita harus berangkat sekarang pekerjaan kantor masih banyak"
...****************...
"Tian, kita ke rumah sakit sekarang. aku ingin bertemu ayah Maria"
"Baik Bos"
Sebastian menginjak pedal gas dalam, mobil melaju kencang di jalan. Masih pagi, tidak banyak kendaraan lalu lalang.
...****************...
__ADS_1
pukul 8.00, Diaz dan Sebastian tiba di rumah sakit Orton's tempat ayah Maria di rawat. para pegawai rumah sakit bergantian menyapa saat mereka masuk.
ceklek
Diaz membuka pintu kamar rawat ayah Maria. Brama menyambut hangat kedatangan Diaz, senyum di wajah keriputnya itu begitu sumringah saat melihat Diaz.
"Tuan" para dokter dan perawat yang memeriksa ayah Maria langsung keluar tak lama setelah Diaz masuk ke dalam.
"Diaz"
mulutnya melengkung membentuk senyuman. namun sayang dia salah mengenali menantu, tangannya justru menggenggam hangat tangan Sebastian.
"Ayah, aku di sini" ucap Diaz datar.
"ah haha maaf mata ayah sedikit rabun sampai salah mengenali menantu sendiri" Brama cepat melepas tangan Sebastian, dia langsung salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Diaz hanya datar meskipun ia tahu bahwa sebenarnya ayah Maria memang sudah mengalami penurunan ingatan.
"Saya permisi tuan"
Sebastian pergi keluar ruangan meninggalkan Diaz dan Brama.
"Ah Diaz, pekerjaan kamu di kantor pasti banyak ya! ayah minta maaf karena ayah ingin bertemu kamu di sini, kamu jadi menunda urusan kamu-"
"Ayah, tak perlu sungkan, aku tak ada pekerjaan yang mendesak. ayah ingin bicara apa?"
"Diaz, kamu adalah menantu yang artinya kamu adalah anak ayah juga. ayah pikir mungkin kamu bisa menerima rahasia yang selama ini ayah simpan baik-baik selama 21 tahun karena sejujurnya ayah tidak sanggup untuk mengatakannya sendiri pada putri ayah, ayah selalu berpikir hal ini biarlah menjadi rahasia yang terpendam untuk selamanya. namun, entah mengapa ayah merasa tidak tenang jika sampai suatu saat ayah meninggal, Maria tidak mendapatkan keadilan untuknya karena ayah menyembunyikan kebenaran tentang dirinya"
__ADS_1
Senyum Sumringah itu memudar menjadi tatapan pasi di wajahnya. Diaz berusaha tenang meskipun lagi-lagi Brama memberikan beban pertanyaan di pundak Diaz sejak dia bangun dari Koma.
"Apa maksud ayah?"