
Mereka sampai di taman bermain lebih cepat karena kemampuan mengemudi Diaz yang sudah terampil. Maria melongo melihat keramaian pengunjung dan semua permainan yang pernah ia lihat di televisi, lengkap berada di depan matanya.
Lamunannya pecah saat tangan besar Diaz menggenggam tangannya hangat, dia mengikuti langkah Diaz masuk ke dalam gerbang.
"AAAAKKHHH" jeritan para pengunjung yang menaiki Roller coaster dengan suasana mencekam karena wahana itu di buat berkeliling melewati rumah misteri yang gelap.
dia menoleh lagi mendengar teriakan histeris pengunjung lain yang menaiki wahana baling-baling dan turbo drop. membuatnya semakin semangat untuk mencicipi semua permainan di sana.
Maria menggoyang-goyangkan lengan Diaz, mengajaknya bermain di wahana hysteria, yang membawa pengunjung terbang di atas ketinggian. Diaz menelan saliva, saat berada tepat di depan pintu wahana matanya berkunang mendongak ke atas saat melihat para pengunjung yang sudah berada di atas, di turunkan dengan kecepatan tinggi.
swing
kini bergantian mereka di terbangkan, Diaz tahan nafas saat Maria berteriak kesenangan lain dengan wajahnya yang berubah pasi.
"Kamu tidak apa-apa?" Maria memegang punggung Diaz di belakang setelah turun dari Hysteria.
"Tentu saja" Diaz meremas lututnya yang sudah tak ada rasa.
"Selanjutnya Kita naik itu ya!!" senyum Maria lebar saat menunjuk Roller coaster dengan jalur berkelok-kelok dan naik turun.
Kaki Diaz langsung bergetar, saat mendengar teriakan histeris pengunjung yang sedang menaiki wahana itu.
WUSH WUSH
kereta itu melaju kencang bak angin, membuat Maria semakin kegirangan. Diaz tak berekspresi dia hanya meremas kuat pengaman di dadanya.
"Seru!!! kita main apalagi ya?" ucap Maria saat mereka turun.
__ADS_1
Diaz sempoyongan berjalan di belakangnya, wajahnya semakin pucat. mual, dia menekan perutnya keras.
"Diaz, kamu baik-baik saja?" Maria cepat meraih bahu Diaz lalu memapahnya ke bangku istirahat di pinggir air pancur.
"kita pulang saja ya?" sambungnya.
"tidak, jangan. kita sudah menunggu hari ini tiba, jadi harus senang-senang. ayo kita main lagi"
"Ya sudah, kita main itu saja" Maria menunjuk game center di seberang tempat mereka duduk, ia tahu betul bahwa hanya itu tempat yang sedikit lebih aman dari permainan sebelumnya.
Diaz langsung bangkit, kini ia tak lagi lesu. tangannya cepat meraih lengan Maria dan membawanya menyeberang menuju game center.
"Pilihlah, kamu mau main yang mana?"
"Kelinci"
"Kamu mau itu? aku akan mendapatkan banyak untuk kamu"
Maria mengangguk semangat. Diaz pergi menukar uang dengan semangkuk penuh uang koin.
percobaan pertama, 3 koin masuk. dia santai menyeringai seakan permainan itu terlalu mudah ia mainkan.
Pluk
boneka itu lepas.
"Tanganku licin, seharusnya tadi jangan langsung tekan tombol. biar aku ulang sekali lagi"
__ADS_1
Maria kembali mengangguk.
3 koin kembali masuk, pluk, boneka itu kembali lepas.
"Sial" umpatnya.
"Sekali lagi", dia kembali memasukkan 3 koin dan lagi boneka itu lepas dari capitan yang ia kendalikan.
ia terus mencoba hingga koin di mangkuknya menipis, Maria menghela nafas panjang karena berkali-kali percobaan Diaz hasilnya tetap sama.
DHUAK!!
Diaz bangkit dari tempat duduk dan menendang mesin capit kesal, semua pengunjung menoleh beberapa anak sampai menangis karena terkejut ketakutan melihat Diaz.
"Mesinnya rusak" ucapnya membela diri.
"Maaf ya, Aku akan suruh Tian beli mesin ini dan mengantarnya ke rumah. agar kita bisa memainkannya puas".
"Tidak, tidak perlu. kita bisa main kesini lagi kalau ada waktu. aku akan senang kalau kamu berhasil mendapatkan kelinci itu untuk ku nanti" kedua ujung bibir Maria naik, tersenyum ramah pada Diaz.
Emosi Diaz langsung mereda saat Maria tersenyum manis untuknya. namun tiba-tiba ponselnya bergetar, ada panggilan masuk dari Sebastian.
"Bos kamu ke rumah sakit sekarang, ayah Maria" Pekik Sebastian di telpon.
telpon Mati, Diaz cepat menarik lengan Maria dan berlari menuju mobil.
"Diaz ada apa? kenapa harus berlari-lari?" ucap Maria terengah-engah saat Diaz terus menariknya berlari cepat.
__ADS_1
"kita ke rumah sakit sekarang Maria"