Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
Keteguhan, ketegaran dan Ketakutan


__ADS_3

Di dunia ini...


kamu tak akan bisa memilih kapan akan mencintai seseorang. tapi kamu bisa memilih pada siapa cintamu akan di alamatkan..


Begitu baiknya semesta padaku..


mengirimkan kamu dalam sisi lusuh ku


membangkitkan kembali asa yang telah merana


dengan cantiknya wajah dan indahnya cinta...


...****************...


Pagi harinya, Diaz di temani Sebastian segera pergi ke kantor Owen, menemui kakek Martin untuk melancarkan rencana yang sudah di susunnya matang bersama Sebastian.


Sepanjang jalan Diaz berpikir, inilah saat dimana keteguhannya memenuhi janji pada Brama untuk memenuhi hak Maria dan ketegarannya sebagai kekasih menghadapi kemungkinan bila Maria akan meninggalkannya seperti Rena, sedang di uji.


"Mampukah aku hidup tanpa dia? bisakah aku membantunya mendapatkan hak nya?"


Dengan cepat dia meluncur ke tempat kakek Martin, sebab di parkiran Bawah mobil mewah Martin masih terparkir. sesampainya di ruang kerja Kakek Martin, Diaz tak ada basa basi mengetuk pintu, dia langsung menerobos masuk dan menyampaikan maksud kedatangannya.

__ADS_1


"Oh Diaz, kamu yang datang. aku sudah menunggu kunjungan kamu dari kemarin, syukurlah akhirnya kamu datang sebelum aku berangkat" Sambut kakek Martin dengan senyum ramahnya.


"Aku ingin bicara dengan Kakek"


kakek Martin bangkit dari tempat duduknya, sebelah tangannya menyodor ke depan arah sofa panjang di depan meja kerja miliknya.


"ah, baiklah-baiklah tentu saja aku punya waktu, duduklah, kita mengobrol bersama"


Diaz menuruti perintahnya, kini mereka duduk berhadapan.


"Kakek mau pergi berapa lama?" Diaz membuka omongan, meskipun sekarang dirinya sangat tegang, namun ia mencoba untuk tetap terlihat tenang.


"haha santai, jangan tegang begitu. soal itu Belum bisa dipastikan, bisa 1 sampai 1,5 tahun. memangnya ada apa?"


"Kakek sudah menyerahkannya pada Rena untuk mengurusnya sampai kakek kembali lagi"


Diaz diam sejenak lalu berkata, "Jadi Rena sudah memiliki keturunan ya?"


"oh, haha. belum, belum. dia masih belum memiliki keturunan, dan malah sekarang sudah bercerai lagi dari suami keduanya. haahh, kakek pusing sekali memikirkan nasib anak itu ke depannya" kakek Martin menyandarkan punggungnya ke sofa, sambil memijat-mijat perlahan keningnya.


"Apa yang harus di pusingkan? kakek tinggal serahkan saja semua kepada Rena, tak perlu repot dengan urusan keturunan, lagi pula kenapa kakek jadi memberikan syarat aneh begitu untuk sekedar memberi warisan, tentu saja Rena sangat Was-was dengan pernikahannya"

__ADS_1


Kakek Martin tertegun, lalu menghela nafas panjang.


"Seandainya semudah itu, kakek pun tak ingin memberi syarat berlebihan begitu. kamu tahu Diaz, pamanmu Bryan, sudah menghamili perempuan lalu menyekapnya di ruang bawah tanah, perempuan itu meninggal, sedangkan bayinya? cucu kakek, tak tau bagaimana keadaannya. andai kakek mewariskan semua ini pada Rena, sedangkan cucu kakek masih hidup. kakek akan tenggelam dalam kesalahan besar untuk kedua kalinya. kakek terus mengulur waktu berharap dapat bertemu cucu kandung kakek. namun sayang hingga saat ini, tak ada tanda sedikitpun keberadaan nya.


kakek hampir berputus asa, sampai akhirnya mengambil keputusan untuk membagi semua ini antara Rena dengan anaknya nanti, kakek sangat menyayangi Rena, jadi anaknya yang lahir nanti layaknya cucu kakek yang hilang. kira kira begitu lah. setidaknya jika kakek tiada, kakek tak akan memikul kesalahan besar yang sama"


kakek Martin Murung menjelaskannya panjang lebar, Diaz tertegun kini ia paham bahwa kakek Martin memang sosok pria renta yang luar biasa. Namun jawaban kakek Martin bukan hanya membuatnya lega, tetapi juga membuat keteguhan hatinya buyar, ketakutan. dia meremas kuat kedua telapak tangannya, jantungnya berdebar kuat, ingin rasanya mengatakan yang sesungguhnya pada kakek Martin bahwa cucunya masih hidup, dan telah di persunting oleh Diaz, namun mulutnya terlalu kelu, berat untuk mengatakannya.


"Haha... malah jadi menceritakan hal begini" ekspresi kakek Martin seketika berubah total, dia langsung bangkit dari sandaran punggungnya di sofa. dia sedikit menunduk meraih kopi di atas meja.


"Kakek dengar kamu sudah menikah lagi ya? senang mendengarnya. sejujurnya kakek sedikit terkejut dengan perpisahan kamu dan Rena karena dulunya kalian sangat akrab, kemarin malam, Rena nangis-nangis pulang ke rumah, haha perempuan memang sedikit sulit dimengerti ya Diaz?" sambungnya.


"dia tiba-tiba datang di acara makan malam aku dan istriku, dia mengajak ku kembali, tapi aku menolaknya"


Kakek Martin Tersenyum, kedua bola matanya menghilang tertutup kerutan di wajah,


"itu pasti karena kamu sangat Mencintai Istri kamu"


...****************...


mereka turun berbarangan menuju parkiran bawah, Diaz mengantar Kakek Martin hingga masuk ke mobil. dia melambaikan tangan dengan senyum hangatnya kepada Diaz, mobil nya melaju, lama dan semakin lama jauh meninggalkan Diaz dan Sebastian.

__ADS_1


Diaz menyerahkan beberapa helai rambut putih yang ia ambil dari bagian belakang kerah jas milik kakek Martin, kepada Sebastian.


"Biarlah aku katakan yang sebenarnya setelah ada hasil tes biologis" katanya dalam hati.


__ADS_2