
Diaz masuk ke rumah, para pelayan menyambutnya datang. perlahan dia menaiki anak tangga menuju kamar, menjaga agar hadiah kedua nya untuk Maria tak jatuh dari saku mantel tebal yang ia kenakan.
ddrrtt drrt
ponsel di poketnya berdering, membuat langkahnya terhenti dan merogoh sakunya. Dia menyeringai saat ada panggilan masuk dari Maria, setelah sekian lama sejak ayahnya meninggal, notifikasi yang ia nantikan akhirnya muncul.
"Halo, em maaf apakah aku mengganggu?"
"Kamu tidak pernah mengganggu ku, ada apa? apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?"
"tidak, tidak ada. kamu... apakah masih bekerja? kapan kamu akan pulang?"
"Menoleh lah ke belakang!"
Maria mengikuti perintah Diaz di telpon, dia melihat sosok Diaz yang ia tunggu seharian di muka pintu. dia langsung tersenyum, manis sekali. mengenakan pakaian seperti dalam bayangan Diaz saat tidur di kantor, Rok Motif daisy cantik sekali. rambutnya di sanggul ke belakang di tahan oleh tusuk konde berwarna hitam polos.
dia menatap Diaz, tersenyum. dan Diaz menatapnya balik, tapi dengan mimik dingin, untuk melihat reaksi Maria.
namun, Maria tanpa aba-aba berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya erat. matanya berbinar menatap Diaz saat kepalanya mendongak ke atas.
"Terima kasih untuk cici" katanya lembut.
Diaz langsung tertegun menekan perasaannya, gunung es jiwa Diaz yang lama membeku mencair oleh sentuhan dan tatapan Maria yang hangat bagai lentera yang membakar dunia Sang CEO yang kosong, keras dan gelap.
dia menatap Maria, dengan tatapan tajam seperti biasa meskipun wajahnya memerah saat melihat Maria. kemudian dia berjalan sedikit lebih ke dalam ruangan lalu menutup pintu.
"Kamu suka?"
"Ng" Maria mengangguk senang.
Maria meraih tas kerja Diaz dan berjalan ke arah jendela, untuk menaruhnya di sofa panjang dekat kaca besar itu. ia terpukau saat menatap keluar, melihat langit yang temaram penuh awan kelabu. tadinya cerah, namun sekarang mendung memenuhi malam, bintang-bintang tenggelam di balik kabut yang menebal. hanya lampu-lampu di jalan yang menyala memberi citra yang terang pada kegelapan malam ini.
__ADS_1
air mata memenuhi matanya, dia menundukkan kepala sambil mengusap kelopak mata dengan tangannya, sementara hujan terus menderas.
Diaz berjalan ke depan menuju Maria, dan tanpa ragu, melingkarkan tangannya di pinggang Maria, dia memeluk Maria dari belakang dan mencium pipi dan rambut Maria bertubi-tubi.
"Kenapa Menangis lagi? bukankah cici sudah datang menyenangkan kamu"
"Tidak, tidak menangis. hanya malam ini begitu tentram"
Diaz makin erat memeluk Maria lalu membalikkan tubuh Maria menghadapnya, dia kembali menciumnya, kali ini tak hanya rambut dan pipi, namun juga mata, hidung, dagu, dan kemudian bibir manis Maria. ini lah dia si pria dewasa yang nakal dan Bengal, namun di balik semua itu dia begitu lembut, dia simpan baik-baik sisi itu, sampai-sampai tak semua orang dapat melihatnya.
bibirnya masih bertahan di bibir Maria, Menari-nari seperti hujan memandikan bumi yang gersang. begitu lembut, namun juga penuh tenaga dan kehangatan. rasanya seperti menelan purnama, membuat jiwanya terasa penuh.
"Aku bawa kejutan untuk kamu." katanya setelah melepas bibir di wajah Maria.
"Apa?"
"Sesuatu yang belum pernah kamu nikmati, dan aku beli dari tempat yang mungkin belum pernah kamu kunjungi..."
"Kue Keju?"
"lalu apa?"
"Tutup dulu mata"
Maria mengikuti perintah Diaz dan menutup kelopak mata dengan bulu yang lentik itu.
Diaz membalikkan badan dan mengambil sesuatu dari balik mantel tebalnya. rasanya berat juga menyimpan benda itu begitu lama, sampai membuat pinggangnya lumayan pegal. kini saatnya ia keluarkan benda rahasia itu, di keluarkan layaknya pesulap memberi kejutan pada penonton.
"Buka mata kamu perlahan-lahan, lalu lihat"
Maria membuka matanya, "Ini apa?"
__ADS_1
sebotol anggur menggantung di tangan Diaz, tepat di hadapannya.
"Anggur"
Maria sumringah, "boleh di buka?"
"tentu saja"
"Terima kasih, kamu memberi dunia Baru untukku, lengkap dengan hujan dan anggur ini. humm" Maria mencium botol anggur itu menikmati aromanya.
dia duduk di ranjang lalu membuka botol anggur dengan sangat terampil layaknya pemabuk handal, meskipun pada kenyataannya ia belum pernah menikmati anggur atau alkohol yang memabukkan. dia kemudian langsung meneguknya lembut, anggur mengucur menuju tenggorokannya.
dia juga menuangkan anggurnya untuk Diaz.
"hmm, rasanya nikmat sekali" Maria mulai sempoyongan.
"anggur itu adalah jalan menuju kemurnian hidup. anggur mengajak kita yang meminum terbang melampaui pikiran sadar menuju alam yang belum pernah di jelajahi. di sana jiwa memperoleh sesuatu yang belum tersentuh segala hal yang berasal dari kenyataan yang keruh, minumlah teguk lagi" sergah Diaz.
"indah sekali"
Diaz mengubah posisinya turun ke bawah, kemudian berlutut di hadapan Maria, meraih tangannya, dan menggenggamnya erat-erat. dia menelungkupkan wajahnya di paha Maria. lalu, mendongak ke atas, menyorongkan wajahnya.
"Tatap aku" katanya.
mereka saling berciuman lagi, mula-mula dengan bibir, kemudian lidah. aroma anggur pada lidah Maria terserap oleh lidah Diaz, begitu juga sebaliknya. mereka berciuman dengan lembut, di dalam gairah anggur yang memabukkan.
Malam yang dingin menjadi latar yang lembut, dengan hujan rintik dan angin yang berhembus. mereka masih saling cium, bibir Maria yang hangat menari nari di bibir Diaz dengan lincah.
"Terima kasih" ucap Maria.
"Terima kasih karena sudah kembali tersenyum" timpal Diaz.
__ADS_1
mereka saling melempar senyum, kemudian berpelukan penuh haru dan saling membenamkan diri.
hmm....