
Seminggu berlalu sejak kematian ayahnya, Maria masih berdiam diri di kamar. duka, tentu saja masih membekas di batinnya.
Diaz tak mampu berbuat lebih untuk membuat Maria bangkit namun tak pula ia menuntut agar Maria segera melupakan kesedihan lekas pemergian ayahnya.
yang di pikirannya saat ini adalah tentang bagaimana Cara menyenangkan Maria, sehingga setidaknya mampu menepikan sedikit duka dalam batinnya.
Dia tak pulang semalaman, sampai Maria terbangun di pagi harinya. matanya membulat saat melihat boneka kelinci putih kecil itu di atas nakas samping tempat tidurnya. boneka yang ia inginkan di mesin capit, game center taman bermain.
tangannya meraih boneka kelinci itu, di depannya ada kertas kecil terpasang.
Aku adalah cici,
kelinci putih penghilang kesedihan kamu. aku akan selalu menjaga kamu, karena kamu adalah kesayanganku.
Maria tersenyum, mendekatkan cici di wajahnya.
"Terima kasih Diaz" bisiknya lembut.
...****************...
...(FLASHBACK ON)...
Diaz menatap sayu Maria, pasca ayah nya tiada Maria masih terselimut kesedihan mendalam, berulang kali dia melayangkan berbagai hal untuk menghibur Maria. namun tak ada hasil, Maria Masih enggan membuka diri.
Pagi ini ia berangkat ke kantor, tentu saja tak ada Maria yang mengantarnya sampai depan pintu rumah. dia tak menyerah, terus memutar otak mencari cara untuk menyenangkan Maria.
Minggu lalu ia malah menggagalkan kencan pertamanya dengan Maria, padahal Maria begitu bersemangat menantikan hari yang ia janjikan. namun tak ada yang berhasil ia lakukan untuk membuat kencan pertama mereka berkesan.
__ADS_1
"Pilihlah, kamu mau main yang mana?"
"Kelinci"
"Kamu mau itu? aku akan mendapatkan banyak untuk kamu"
Tiba-tiba ia teringat saat mereka bermain di game center saat itu Maria bilang menginginkan kelinci di mesin capit, namun sayangnya Diaz gagal mendapatkan itu untuknya.
BRUKK
Diaz menepuk meja keras, dia menjadi bersemangat saat ide itu muncul di pikirannya karena setidaknya kini ia tahu harus melakukan apa.
"Tian, hari ini aku akan pulang lebih awal aku mau pulang setelah makan siang nanti. aku ingin berkunjung ke suatu tempat" pekiknya saat Sebastian muncul dari luar.
"Perlukah saya temani anda Bos?"
"Baik bos, saya mengerti" Sebastian membungkuk dan kembali ke luar ruangan.
Diaz melajukan mobilnya cepat menuju taman bermain saat jam makan siang berakhir. ia sampai di game center, tak lama setelah 15 menit menempuh perjalanan dari kantor.
dia cepat berjalan mendekati mesin capit, dengan membawa semangkuk penuh uang koin. anak-anak yang bermain menatapnya sambil melongo, karena penampilannya dengan setelan jas duduk di kursi mini depan mesin capit.
dia memasukkan 3 koin uang, matanya serius menatap kelinci yang di capit, bola matanya bergerak mengikuti arah capit. sayangnya percobaan pertamanya hari ini gagal, sama seperti minggu kemarin.
dia kembali memasukkan 3 koin uang, namun sayang hasilnya tetap sama, boneka-boneka itu jatuh saat hampir mendekati lobang keluar mesin.
3 koin masuk kembali, lagi dan lagi hingga para pengunjung berkurang dan semakin sepi. ia masih terus berjuang mendapatkan kelinci untuk Maria, dia bahkan sudah menghabiskan 4 mangkuk uang koin hingga tak terasa sudah pukul 17.00 sore, waktunya taman bermain tutup.
__ADS_1
"Tuan, mohon maaf tapi kami harus menutup game center hari ini, harap kembali lagi besok pagi saat taman bermain ini buka"
seorang pria penjaga game center muncul di depan Diaz atau lebih tepatnya ia berdiri di samping mesin capit.
"Tunggu sebentar, aku tidak bisa lagi menunggu besok, harus memenangkan nya hari ini juga. kamu tenang saja aku akan membayar berapapun untuk menyewa game center ini semalaman"
"Sangat menginginkannya ya? kalau Tuan mau aku akan mengajarkan nya" jawab petugas itu kembali ramah.
Diaz langsung sumringah saat pria penjaga itu menawarkan bantuan padanya, meskipun selama ini ia terlalu angkuh untuk meminta bantuan orang lain kecuali Sebastian. namun hari ini ia justru merasa senang...
"Mohon bantuannya"
Pria itu mengajarkan Diaz panjang lebar sambil sesekali mempraktikkan di mesin capit. Diaz memperhatikannya saksama. meskipun berulang kali ia tetap gagal, namun ia tak menyerah.
semalaman, hingga jam menunjukkan pukul 1.30 Pagi Diaz masih terjaga di depan mesin Capit. dia menatap mangkuk, kepingan uang koin itu semakin menipis. dia menghela nafas, mencoba lebih perlahan dan lebih tenang dari sebelumnya.
ting tong ting
lampu di mesin capit bersinar, kali ini ia berhasil mendapatkan kelinci dan mengeluarkannya dari kotak kaca itu. senyumnya langsung lebar meraih kelinci putih itu dari bawah lobang keluar boneka.
dia semangat menuju mobil meski jalannya sedikit sempoyongan karena seharian duduk di depan mesin capit, tak menutupi kebahagiannya karena berhasil mendapatkan kelinci kecil itu untuk Maria.
pukul 2.00 pagi, Diaz sampai di rumah, Dia langsung tidur di samping Maria dan menarik selimut menutupi tubuh mereka.
paginya dia bangun lebih awal, mata Maria masih terpejam, Diaz mencari memo di laci meja dan menuliskan kalimat pendek menempelkannya di depan boneka dan menaruh mereka di atas nakas samping Maria.
"Aku berangkat kerja ya" bisiknya lembut di telinga Maria.
__ADS_1
...(FLASHBACK OFF)...