
Seminggu kemudian, pesta pernikahan mewah antara Maria dan Diaz berlangsung. semua orang hadir dengan senyum bahagia terukir. semua orang berdiri desak-desakan saat Maria bersiap melempar buket bunga dari belakang. mereka berteriak penuh suka cita saling berebutan.
bunga itu terlempar, namun justru di dapatkan oleh pria kaku di barisan paling belakang, orang yang paling tak berminat untuk berbaur dengan sekumpulan wanita di depan yang memperebutkan seikat bunga putih yang sekarang di genggamannya, siapa lagi? dialah si pria setia, Sebastian. semua orang menatapnya iri. tak ia pedulikan.
Maria membalik badan, tertawa kecil lalu berkata, "Wah, Sebastian bakal menyusul nikah ya?"
Sebastian diam sejenak mendengar ucapan Maria, Matanya membulat menatap bunga lily putih yang ada di tangannya. para perempuan yang tadi menatapnya iri, berubah senyum-senyum kecil melihat Sebastian.
...****************...
Setelah pesta pernikahan berakhir, Diaz kembali ke rutinitasnya semula. Hari ini, mobil hitam mengkilap yang di kendarai Sebastian tiba di depan teras rumah. Diaz sudah menunggunya di depan pintu, begitu juga Maria yang membawa tas kantor miliknya.
Diaz masuk ke dalam mobil, Namun Sebastian masih berdiri di luar menatap jauh bagian dalam rumah dari celah pintu depan, Maria yang kebingungan ikut menoleh mengikuti arah pandangan Sebastian.
"Kamu melihat apa Sebastian? Amirah ya?"
Sebastian diam sejenak, "Tidak" jawabnya singkat. dia kemudian membalik badan dan masuk ke dalam mobil. mobil itu berjalan pelan, jauh dan semakin jauh meninggalkan Maria yang masih berdiri di depan rumah.
Sepanjang jalan, Sebastian diam pandangannya monoton menatap jalan. lampu-lampu yang berjajar di pinggir jalan sudah Mati, namun jalanan Masih sepi belum banyak orang berlalu lalang.
"Dia masih belum kembali Tian" ucapan Diaz di belakang memecah lamunan Sebastian.
"Kalau kamu khawatir, lebih baik kamu cari dia dulu. aku akan beri kelonggaran untuk kamu" sambungnya.
"Maaf bos, tidak perlu"
...****************...
...(Di lain Tempat)...
__ADS_1
Di rumah tua miliknya di perkampungan kecil pinggir kota, Amirah mengalami kepanikan saat berulang kali para penagih hutang datang ke rumah. hari ini, ia bersembunyi di kamar gemetar menutup mata dan telinga saat ayahnya cekcok pasal hutang dengan seorang rentenir hidung belang.
BUK!!!
dia mendengar saat hantaman mentah dari orang-orang suruhan sang rentenir mendarat di wajah ayahnya.
"Tuan Bima, saya mohon beri saya waktu sampai besok. pasti akan saya lunasi" ayahnya merintih mengemis, memeluk kaki rentenir kejam itu.
DHUAK
tubuhnya terpental saat si rentenir menendang kaki yang di peluk oleh ayah Amirah.
"Ampun Tuan, ampun tuan"
Amirah bangkit, mendorong pintu dan segera keluar kamar, membantu ayahnya di depan. tak tahan mendengar nelangsa yang dialami keluarganya. ayah tetaplah ayah, tak ada yang bisa mengubah kodrat itu, meskipun pada kenyataannya pria tua pemabuk dan kasar itu tak sama sekali mencerminkan sosok ayah untuk Amirah.
Rentenir hidung belang itu, menggosok-gosok dagu tumpulnya saat melihat sosok belia Amirah yang cantik. menatapnya penuh nafsu, bak seekor anjing lapar yang melihat makanan.
"Kalau bayar pakai dia boleh juga, akan ku anggap lunas total termasuk bunga-bunganya" katanya, dengan tatapan nafsu yang menjijikkan.
Ayah Amirah mendongakkan kepala nya ke atas, mulutnya menganga senang. dia diam sejenak menatap Amirah di sampingnya. "Peluang yang bagus" pikirnya.
Dia berdiri begitu juga Amirah, lagi dia menatap Amirah kembali dengan mata berbinar-binar. Raut ketakutan itu terukir di wajah mungil Amirah.
"Ayah jangan" dia menggeleng-gelengkan kepala.
Sang ayah menggaruk kepala kikuk di depan si rentenir, "Maaf tuan Bima, tapi agaknya harga putri cantikku ini tidak sebanding dengan hutang beserta bunga yang aku pinjam dari tuan"
"ah.. hah aku mengerti maksudmu, baiklah aku akan berikan sepetak tanah di ujung jalan sebagai hadiah. asal aku bisa menikahi dia segera"
__ADS_1
"Setuju, saya setuju Terima kasih tuan Bima, anda adalah calon menantu yang luar biasa"
"AYAH!!!, Aku tidak mau, Aku tidak mau menikah dengan orang ini" pekik Amirah, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tenang sayang, aku pasti akan menyenangkan kamu, istriku tiga di rumah semua hidup sejahtera dan akur. jadi kamu pun sudah jelas akan bahagia seperti mereka sebagai istri keempat" pria rentenir itu menggoda, membelai Rambut panjang Amirah.
"Istirahatlah yang baik ya sayang, Kita menikah besok, aku akan datang ke sini lagi. jangan di tunda-tunda biar ayahmu ini tidak mengalami banyak nestapa karena hutang"
Rentenir gendut dengan topi koboi itu kemudian pergi bersama rombongannya. Amirah jatuh melemas tak percaya dengan nasib malang yang dialaminya, tatapannya marah saat melihat wajah sumringah ayahnya yang bak mendapat angin segar setelah menjual putrinya sendiri.
Nelangsa, sampai malam Amirah tak berhenti menangis ayahnya bahkan rela mengurungnya di kamar begitu juga jendela yang ditutup mati dengan tralis besi, tak ada jalan lain untuk pergi. Amirah hanya bisa pasrah dengan nasib malangnya. dia kemudian merombak lemari, mencari ponsel butut miliknya. untuk menelpon Maria, majikan yang sangat ia cintai.
saat telpon itu tersambung, dia berusaha menahan isak, Amirah mengutarakan semua niatnya untuk berhenti bekerja, karena akan melangsungkan pernikahan.
...****************...
Seperti biasa, pukul 22.00 malam, Diaz tiba di rumah. Maria sudah menunggu di depan pintu menyambut mereka. wajah murung itu tak dapat ia sembunyikan setelah mendengar Amirah yang tak akan bekerja lagi padanya.
Diaz turun dari mobil lalu menepuk pundak Maria lembut, "Ada apa sayang? apa ada hal yang mengganggu pikiranmu hari ini?"
"Tadi Amirah menelpon, Dia mengatakan tak lagi bisa bekerja di sini, karena akan menikah besok"
"Menikah?" sela Sebastian.
Maria diam sejenak, menatap Sebastian kemudian beralih menatap Diaz. mereka saling pandang menatap wajah datar Sebastian, mata itu penuh makna, sedih, kecewa, kesal. semua bercampur.
"Kalau kamu mau datang, aku akan sangat mengizinkannya Tian."
Sebastian hanya diam, tak menjawab tawaran Diaz, dia kemudian menunduk dengan gaya khas nya sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil dan pulang.
__ADS_1