
Sebastian pergi menuju kantor, untuk berangkat ke Xieriand menjemput ayah Maria menggunakan helikopter.
Diaz tak pindah posisi ia tetap memandang keluar jendela. badannya yang tegap, tinggi. terlihat sangat sempurna meskipun dari belakang.
9 jam berlalu, ponsel Diaz berdering. terdapat notifikasi telpon dari Sebastian, Diaz menekan tombol hijau di pojok kanan telpon.
"Bos, semua sudah saya laksanakan. ayahnya sudah di pindah rawat kan di rumah sakit disini." ucap Sebastian di telpon.
"terima kasih Tian"
sudah pukul 3.00 pagi, Diaz langsung merebahkan tubuhnya di kursi kerja pribadinya. matanya kelelahan, belum tidur menunggu kabar dari Sebastian. kali ini ia dapat bernafas lega. karena ayah Maria sudah di pindah rawat kan di kota.
Diaz turun kembali ke kamar Maria. dilihatnya Maria tertidur pulas di atas ranjang, ia kemudian duduk di kasur samping Maria.
matanya tak lepas memandang Maria. sesekali dia memegang dadanya sebelah kiri.
"aku sudah banyak berkorban untuk kamu, apa yang bisa aku rebut dari mu ya?" ucapnya kecil.
perlahan fajar datang, matahari mulai naik. cahayanya terang masuk ke kamar Maria membuat Maria terbangun.
mata Maria berkedip-kedip karena perih. ia menggeliat di kasur. hingga tak sengaja kakinya menyentuh kaki milik Diaz. Maria berteriak saat melihat Diaz tidur di sampingnya. Diaz yang terbangun dengan cekat meraih kedua tangan Maria, dan menindih berada di atas tubuh Maria.
"Jangan Berisik, nanti saja. sekarang sudah pagi, kamu mau makan, atau kamu yang dimakan" bisik Diaz nakal di telinga Maria.
"Aku tak masalah, sarapan perempuan" Sambungnya.
Maria reflek menumbuk kan kepalanya ke kening Diaz.
"Aw.. " teriak Maria kesakitan. Diaz langsung bangkit dari tempat tidur.
Maria menarik selimut ketakutan. membuat Diaz tersenyum licik, melihat Maria.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruang makan, kalau kamu tidak datang, kamu yang jadi menu sarapanku pagi ini"
Diaz kemudian pergi meninggalkan Maria di dalam. para pelayan sudah menunggu di luar kamar, mereka tak berani masuk sebab melihat Diaz tidur bersama Maria.
"Bantu dia bersiap" ucap Diaz kepada para pelayan.
"Siap tuan" jawab mereka bersamaan. para pelayan kemudian masuk ke kamar Maria.
...****************...
Maria dan para pelayan turun dari lantai dua rumah, wajahnya masih terlihat murung. sambil sesekali menggosok mata, karena perih. di bawah, Diaz sudah menunggu di meja makan.
"Nona silahkan duduk" pelayan menarik kursi untuk Maria.
Maria tidak menjawab, dia hanya diam dengan tatapan kosong.
"Kamu harus makan, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat"
mobil hitam mengkilap yang akan membawa Maria dan Diaz, sudah terparkir di depan pintu rumah.
seperti biasa, supir akan membukakan pintu mobil dengan ramah. mobil melaju saat Diaz dan Maria masuk. sepanjang perjalanan Maria terus memikirkan cara untuk mendapatkan kesempatan pergi.
Maria tampak kebingungan saat mobil berhenti di depan rumah sakit terbesar di kota, semua menunduk hormat saat Diaz datang. bahkan kepala rumah sakit turun langsung menyambut Diaz di depan lobby.
"bos, dia dirawat di ruang rawat privasi khusus." Sebastian muncul tiba-tiba dari kerumunan pegawai rumah sakit.
tak lama, Mereka sampai di ruang yang dimaksud Sebastian.
"Masuklah" ucap Diaz pada Maria.
"hah? saya?" jawab Maria kebingungan.
"Iya, masuklah"
__ADS_1
Maria bingung harus bagaimana, ia takut bila Diaz berbuat aneh aneh lagi padanya. namun ia juga belum memiliki kesempatan untuk pergi karena rumah sakit ini sudah jelas berada di bawah kekuasaan Diaz. tentu tak berguna bila ia mencoba-coba untuk pergi.
Maria kemudian menuruti perintah Diaz, ia masuk ke ruangan tersebut. namun kaki nya langsung melemas saat berada di dalam. matanya berlinang, tak percaya bahwa dalam ruangan itu ada ayahnya yang terbaring. jauh bahkan sangat jauh lebih baik dari yang ia harapkan sebelumnya, ruangan, pelayanan, serta alat-alat medis yang sangat lengkap dengan kualitas terbaik.
"Ayah" Maria menangis memeluk haru sang ayah.
...****************...
Maria begitu senang melihat sang ayah, ia kemudian keluar ruangan, mencari Diaz untuk berterima kasih. ia menyadari bahwa ia telah salah menilai Diaz selama ini. namun di depan ruangan ia tak menemukan Diaz, hanya ada beberapa penjaga.
"Tuan, maaf saya ingin berbicara dengan tuan Diaz. dimana saya dapat menemui dia?"
salah satu penjaga kemudian membantu Maria untuk bertemu Diaz, Maria menelan saliva sebelum akhirnya masuk ke ruangan Diaz.
"permisi" katanya gugup. Maria tersenyum kaku, di dalam sudah ada Diaz dan Sebastian.
"tuan Diaz, sebelumnya saya mohon maaf karena berfikir bahwa adalah orang yang jahat. saya sangat berterima kasih karena tuan sudah membantu saya lagi untuk kesekian kalinya, anda menyelamatkan hidup saya lagi." sambungnya.
plak
Diaz melempar dokumen ke arah Maria.
"kamu menyadari bahwa aku sudah beberapa kali membantumu kan, maka sekarang giliranmu membantuku." ucap Diaz.
Maria mengambil dokumen yang dilempar Diaz padanya.
"tentu saja tuan, saya pasti akan membantu Anda sebisa saya. anda butuh apa? bersih-bersih rumah? bersih-bersih kantor? semua bisa saya lakukan tuan"
"Aku butuh anak, aku ingin Bayi" jawab Diaz dingin.
suasana seketika berubah hening. Mulut Maria yang sebelumnya tersenyum lebar langsung menjadi terbuka, melongo.
"Ehh?" jawabnya terkejut.
__ADS_1