
Diaz menarik pergelangan tangan Maria dan membawanya keluar ruangan.
"ayah sakit kanker paru, bukan jantung" Maria mendongakkan kepalanya ke atas menatap Diaz sedih.
Diaz hanya diam memeluk Maria hangat, dalam batinnya dia ingin tertawa keras karena ayah Maria yang langsung serangan jantung saat Maria mengakui telah menikah dengannya. Pura-pura? entahlah, yang pasti saat ini hanya ayah Maria yang berhasil membuat pria seperti Diaz dapat tertawa.
sekitar lima belas menit berlalu dokter kemudian keluar ruang rawat, Maria cepat maju mendekati dokter.
"tuan dan nyonya, begini tuan Brama sebenarnya tidak mengalami hal yang serius tapi kami harap untuk sementara jangan mengejutkan beliau dulu. itu saja tuan, nyonya. tuan Brama tadi berpesan ingin bicara dengan nyonya Maria. dan tuan Diaz apakah tuan bisa ikut kami sebentar?" jelas dokter ramah.
Diaz tak menjawab, dia hanya mengangguk kemudian pergi bersama para dokter ke ruangan lain. Maria langsung menerobos masuk saat dokter pergi.
"Ayah... " lagi, mata Maria menatapnya sedih.
"kemari sayang, ayah ingin bicara"
Maria duduk di bangku samping ranjang Ayahnya.
"Siapa nama menantu ayah?"
__ADS_1
"Diaz Dawson" jawab Maria pelan menundukkan kepalanya.
"Kalian menikah kapan?"
"sudah 19 hari, ayah"
"Maria mencintai Diaz?"
Maria menaikkan wajahnya saat pertanyaan ayahnya itu masuk ke dalam telinganya. pupil matanya membulat, deg jantungnya langsung berdegup kuat.
"nak? kamu mencintai dia? jangan takut, bicara pada ayah apa yang Maria rasakan. ayah sangat khawatir karena Maria tiba-tiba menikah tanpa menunggu ayah sadar. ayah khawatir karena pria itu sangat jauh lebih dewasa dari Maria, ayah bahkan belum pernah mendengar Maria bercerita soal pria pada ayah" ayah menatap Maria lembut.
"ayah... maaf karena Maria menikah tiba-tiba begini-"
"Ayah... Maria tidak lama mengenalnya tapi saat bersama dia, dia mungkin tidak sebaik ayah tapi saat di dekat dia, Maria selalu merasa tenang. dia mungkin tidak se ramah ayah, tapi saat Maria menangis tangannya selalu hangat menghapus air mata Maria. Dia... adalah lelaki dewasa yang terkadang manja, meskipun dia terlihat arogan tapi dia sangat baik. dia menyelamatkan Maria saat Maria dalam bahaya. saat pertama kali bertemu dengan dia, dia begitu gagah sama seperti ayah saat melindungi Maria. saat menangis di hadapannya, dia selalu berusaha meraih Maria untuk menghapus air mata Maria, tak peduli apa yang terjadi padanya"
Ayah menatap Maria tenang, mata Maria berbinar saat menceritakan Diaz.
"Sayang, ayah selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. ayah tak marah, ayah minta maaf saat Maria menikah ayah malah tertidur begini. setidaknya sekarang ayah tenang, karena Maria anak ayah tidak akan kesepian lagi. Maria harus selalu bahagia dengan dia ya, Maria harus janji apapun yang terjadi pada kita nanti, Maria jangan menangis lagi" Ayah tersenyum lebar, sekali lagi keriput di wajahnya kembali terukir jelas.
__ADS_1
...****************...
...(di ruang dokter)...
Diaz duduk anggun menyilang kaki di sofa panjang ruangan dokter. para dokter saling pandang, kemudian salah satu dokter angkat bicara.
"tuan, maaf jika yang akan kami sampaikan ini mungkin berita yang kurang mengenakkan" raut wajah dokter berubah serius.
"lanjutkan" jawab Diaz datar.
"tuan dengan berat hati saya katakan bahwa penyakit tuan Brama sudah sulit untuk di sembuhkan, meskipun saat ini tuan Brama sadar tapi tidak menutup kenyataan bahwa kanker paru yang beliau alami sudah sampai stadium akhir. sudah telat untuk di tangani lagi tuan"
Diaz mengernyitkan dahi, kecewa namun tak terkejut. melihat perkembangan kesehatan ayah Maria dengan fasilitas kesehatan lengkap dan 8 dokter ahli selama ini namun nyatanya belum menunjukkan kemajuan yang signifikan.
"apa yang saat ini bisa dilakukan" ucap Diaz serius.
"sekali lagi saya mohon maaf tuan, kita hanya bisa melakukan pengobatan yang dijalankan sekarang semaksimal mungkin. tak ada lagi, selain ini tuan" dokter menunduk lemas.
buk
__ADS_1
Diaz memukul keras kursi sofa. membuat para dokter terkejut.
"sial, itu artinya kita hanya bisa melakukan perawatan sambil menunggu kematiannya datang" umpat Diaz dalam hati.