
"Diaz, dia adalah putri kesayangan ayah, tolong jangan sakiti dia"
Perkataan itu terus terngiang di telinga Diaz, saat dia mengatakannya. Keyakinan muncul, Entah apa yang dia pikirkan, mulai melupakan ambisi di pernikahannya dan memulai kontrak baru.
"Ayah tidak perlu khawatir karena Maria juga kesayanganku"
dia melamun sepanjang malam menatap jalanan dari kaca mobil.
...****************...
"Kamu belum tidur?" Diaz menghampiri Maria di kasur.
"Belum" jawab Maria tersenyum,kepalanya menggeleng pelan.
"Kamu pasti lelah seharian di rumah sakit"
"tidak, tidak sama sekali"
Malam ini Maria tak mampu menyembunyikan perasaannya, ia begitu semangat menunggu akhir pekan besok. tentang kencannya dengan Diaz, dia sangat menantikannya dari minggu lalu.
"Diaz..." ucap Maria berjeda.
"Apa?"
"Aku sangat senang karena sekarang ayah kelihatan jauh lebih sehat. Diaz, kalau ayah sudah sembuh nanti apakah ayah boleh sementara ikut tinggal dengan kita sampai aku melahirkan anak untuk kita nanti?" Maria membalikkan badannya menghadap Diaz di sampingnya.
__ADS_1
Diaz tertegun, matanya langsung berubah sayu mendengar permintaan Maria.
"Tentu saja, rumah ini juga adalah milik kamu. Selama kamu suka apapun boleh kamu lakukan"
Diaz mengusap lembut rambut Maria.
"Jangan tidur malam-malam, kamu ingat kan rencana kita besok? aku tidak mau menunggu kamu kalau bangun siang" sambungnya.
"hmm, tentu saja" Maria langsung sumringah.
"kemari lah"
Diaz membuka kedua tangannya, Kemudian Maria mendekat dan masuk dalam dekapannya. Diaz lalu mengambil buku di atas nakas samping ranjang.
"Itu buku apa?" Maria mendongakkan kepalanya ke atas menatap Diaz.
"Bahasa Asing? kamu mengerti bahasa asing?"
"Tentu, aku senang berlatih berbicara mendengar dan menulis bahasa asing karena pekerjaan juga menuntut ku sering ke luar negeri"
"Kamu sangat hebat!!" Mata Maria berbinar menatap wajah Diaz.
"Tentu saja, kamu mau dengar?"
tawaran Diaz itu di jawab dengan anggukan semangat dari kepala Maria. Dia kemudian membuka halaman buku dan membaca.
__ADS_1
"....To love unconditionally requires no contracts, bargains, or agreements. Love exists in the moment-to-moment flux of life.... "
"Yang Artinya adalah..." Katanya berjeda.
Suasana hening, Diaz langsung terdiam dengan ucapannya sendiri. Dia menurunkan pandangannya ke bawah, Maria sudah tertidur dalam dekapan dadanya.
"Untuk mencintai tanpa syarat, tidak perlu kontrak, tawar-menawar, atau kesepakatan. Cinta ada dalam arus kehidupan..." Sambungnya.
cup
"Selamat Malam Maria" ucapnya lembut mengecup kening Maria dan merebahkannya di bantal.
Diaz bangkit dari Ranjang, dia berdiri depan jendela kembali menatap panorama langit malam. daun-daun dari pohon mapel yang terpantul cahaya bulan membentuk bayang-bayang di wajahnya.
dia merogoh saku di Yukata, piyama kimono yang ia kenakan mencari korek. sedangkan tangan lainnya sudah siap menjepit tembakau dalam gulungan kertas untuk di hisap.
...****************...
Pagi, akhir pekan yang dia nantikan tiba. Maria pikir dia siap lebih awal dari Diaz, wajahnya cerah menyambut kencan pertamanya dengan sang suami.
dia berdandan lebih Manis, rambutnya di biarkan tergerai pakai penjepit di sebelah kiri dan kanan dengan sedikit riasan tipis di wajah. dia kemudian keluar meninggalkan kamar langkah kaki nya semangat menuruni anak tangga menuju dapur.
Namun pupil matanya membulat saat melihat Diaz yang berdiri di ruang tengah. bukan hanya terkejut karena Diaz lebih dulu siap dari dirinya, namun karena penampilan Diaz yang sedikit berbeda bahkan terkesan jauh dari karakter yang di bentuk Diaz selama ini.
Dia memakai kaus tipis hitam polos dengan luaran jaket kulit dengan warna senada. dia terlihat semakin tinggi karna mengenakan jeans fit body. dia tampil santai ala anak remaja seumuran Maria, namun tak terlihat aneh untuk pria dewasa sepertinya, karena semua pakaian akan selalu cocok saat ia kenakan.
__ADS_1
Maria melongo, dia meremas keras rok bawah dress nya saat melihat Diaz.
"Ayo pergi sekarang!!" Diaz meraih pergelangan tangan Maria dan masuk ke dalam mobil.