
“aku menyukaimu”
Maria Mematung , buliran manik bening itu terasa menghangat mengalir diwajahnya, matanya membelalak tak percaya ketika diaz menyatakan cinta padanya.
“kamu bilang apa tadi?”
Dia menarik kerah kemeja yang dikenakan diaz mendekat, membuat dada bidang milik diaz merapat dengan dadanya. Lalu mendekap erat tubuh diaz yang berada diatasnya.
Bintang jatuh harus melewati ruang dan waktu yang begitu panjang baru bisa membentuk sinar kemilau sesaat. Seperti menyatakan perasaan ada riasan dan keromantisan yang direncanakan, ada waktu dan naskah terbaik yang disiapkan sebelumnya. Tapi, melewatkan pernyataan perasaan bukan berarti melewatkan maksud hati satu sama lain. Untunglah satu dari mereka datang dan untunglah satu lainnya memberanikan diri.
“besok aku ingin makan malam di luar, Sebastian akan menjemput kamu, aku tunggu jawaban kamu di sana. Kamu berhutang pertanyaan ini padaku, jadi kamu harus datang”
“Bagaimana kalau aku tidak datang? kenapa tidak sekarang saja?”
Tak ada jawaban, diaz tersenyum. Mengecup kening Maria lalu pergi keluar kamar.
Dia mematung “Apakah aku terlihat sangat murahan? Kenapa malah terlihat sangat semangat untuk menjawab ungkapan perasaannya”
jika ada yang dapat menjawabnya saat ini mungkin yang akan keluar adalah, Apakah kamu bodoh? Itu untuk menunjukkan dirinya yang terbaik di hadapanmu. Laki-laki ingin orang yang mereka sukai, bisa melihatnya bersinar dan memberikan momen terbaik saat menyatakan perasaan. Terutama bagi pria sempurna sepertinya pasti ingin memastikan hubungannya dengan mu disaat momen terbaik yang tak akan mudah terlupakan.
...****************...
__ADS_1
Hancurlah gunung es Diaz yang kokoh, hatinya yang mengeras bagai batu bak meledak berkeping-keping menjadi bintang yang berputar-putar terus, melayang terbang tinggi ke ujung cakrawala jauh dari bumi. Percaya dirinya kembali tak lagi berada rendah di bawah kaki. Dinyalakannya sigaret, masih membayangkan wajah maria saat dia mengungkapkan perasaan padanya, wajahnya sangat imut dengan mata berbinar-binar, dia menangis pun kali ini malah membuat Diaz senang.
Dia tersenyum, jiwanya bergetar hebat. Hanyut, hidupnya menjadi lebih luas tak terbatas. Segala yang keruh dalam perasaannya tersaring sedemikian rupa hingga tinggal menyisakan suasana sederhana yang jernih. Dia merogoh saku belakang celana mencari ponsel.
“Halo Bos?”
“besok ada sesuatu, harus merepotkan kamu” jawabnya singkat di ponsel.
...****************...
Maria bangun kesiangan. Pertama kalinya matanya terbuka saat matahari sudah tinggi. Mungkinkah karena tak bisa tidur semalaman? Entahlah. Matahari telah naik, sinarnya yang panas menerobos dari kisi jendela dan membakar tubuh Maria. Disisihkan nya selimut lalu bangkit menuju kamar mandi. Awal yang buruk memulai pagi untuk makan malam pernyataan perasaan yang telah di janjikan.
Diaz sudah berangkat kerja menahan kantuk, di kepalanya sekan ada planet kecil yang beratnya samadengan jupiter. Beruntung, karena malam ini adalah saat yang ia tunggu, bak puncak dari pelayaran kapalnya selama ini, membuatnya tetap semangat di kantor.
Sebastian adalah pelayan setianya. Berkat dialah semua pekerjaan yang Diaz lakukan entah dalam perusahaan atau urusan pribadi, akan tetap terselesaikan dengan sangat baik.
Dia memiliki pembawaan yang pendiam tak jauh berbeda dengan tuannya. Namun, dia dapat dikatakan sebagai pria berhati batu, tak pernah ada perempuan yang diizinkan masuk. Hanya saja, meskipun terlihat lebih Manusiawi dari pada Diaz, nyatanya dia lebih berdarah dingin dan tak suka di usik.
Diaz masuk ke ruang kerja, menyandarkan tubuhnya di kursi empuk di belakang meja yang di penuhi berkas-berkas laporan, dan buku-buku catatan.
...****************...
__ADS_1
Malam tiba, anginnya tak sekencang kemarin, tapi udaranya tak kalah sejuk. Diaz berpisah jalan dengan Sebastian, dia langsung menuju Restoran yang sudah di sewa khusus untuknya menikmati pelabuhan terakhir. Sedangkan Sebastian pergi lewat jalan lainnya menuju rumah menjemput Maria.
Tiap sudut Restoran sudah dibuat seapik mungkin, piringan musik yang di putar di gramophone, memutar musik dengan lagu yang lebih lembut, lampu-lampu kecil yang di pasang lebih temaram dengan sedikit kelip sehingga ruangannya lebih sedikit redup seakan menyembunyikan orang-orang yang ada di sekitar. Makanan mewah dengan potongan daging tenderloin tampak harmonis berpadu dengan asparagus ganjil dalam piring keramik mewah, tak ada anggur atau semacamnya. Lilin panjang menghias di kiri dan kanan meja. Lengkap, sebuah makan malam di restoran private dengan suasana romansa yang hangat.
Dengan perasaan berdebar-debar menanti kedatangan Maria, Diaz memegang buket bunga lili putih yang di beli Sebastian. Perasaan berdebar itu semakin kencang saat seorang perempuan dengan dress panjang berwarna merah berdiri di hadapannya, jantungnya seperti hilang. Tapi ah, indahnya ia berusaha tetap tenang, tidak gugup. Meski kenyataannya ia hanya berpura-pura.
kepalanya mendongak ke atas mencari wajah pemilik dress merah, matanya membelalak saat yang ia lihat bukan sosok gadis pujaan melainkan Rena, mantan istrinya.
“Sayang, terima kasih ya. Bunga nya cantik sekali, kamu pasti repot sekali menyiapkan tempat ini menyambut kedatangan ku lagi kan?”
Rena Menarik buket bunga dalam genggaman Diaz, semua itu dilihat Oleh Maria yang baru datang, dia melemas berdiri di muka pintu. Dengan cepat dia menutup pintu diam-diam kemudian kembali ke luar restoran bersama Sebastian. Kehadirannya itu sama sekali tak di sadari oleh Diaz, karena pintu masuk berada di belakang tubuhnya.
“kenapa kamu ada disini?” Diaz menatap Rena Tajam.
Diaz meraih bunga yang di dekap Rena, merebutnya kembali dan sinis berkata, “bunga ini untuk Maria, termasuk kursi yang kamu duduki, menu makan, meja, dekorasi Restoran termasuk aku, ini semua untuk maria, tolong kamu pergi”
“aku tahu, Sebastian yang mengatakannya padaku, kamu dan Maria akan makan malam disini, jadi aku datang kesini lebih dulu”
“Sebastian?”
“Ya, aku bertemu dengannya di toko bunga. Aku membeli bunga untuk bertemu dengan kamu, aku sangat merindukan kamu, tapi kamu malah beli bunga untuk orang lain”
__ADS_1
“karena kamu sudah tahu, silahkan kamu pergi. Aku tidak ingin Maria salah paham kalau lihat kamu disini”
“dia sudah salah paham, dia ada di depan pintu tadi, dan sudah melihat kita.”