Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
Sebuah Pertemuan yang Memojokkan


__ADS_3

Siang, arloji di lengan Diaz menunjukkan pukul 13.45 . mereka sudah sampai di Luxury, dia duduk anggun di kursi kehormatan khusus yang sudah di pasang label namanya, Sebastian duduk di sampingnya.


semua anggota pemimpin berpengaruh sudah datang, termasuk kakek Martin. mereka yang memiliki pin ular, serempak memasangnya di kerah kemeja. semua tampak arogan namun juga bersahaja, duduk di kursinya masing-masing.


"Ku dengar tuan Diaz sudah menikah ya?" Pecah salah satu anggota yang duduk di pojok, Tuan Anderson.


"Masih muda lagi, aku pernah lihat waktu di Rumah Sakit. tapi sayangnya tuan Diaz tak menoleh saat kami panggil" timpal tuan Charlie.


"Wah, pantas saja sudah jarang senang-senang dengan perempuan panggilan. sudah punya daun muda hahaha"


"hahaha" para anggota tertawa mendengarkan guyonan tentang Diaz dan Istrinya.


"Tapi kenapa kami tidak di undang? Nampaknya sangat privasi ya tuan Diaz?"


"Apakah Tuan Martin tahu tentang pernikahan kedua tuan Diaz ini? yah bagaimanapun dulu sempat menjadi keluarga kan, tuan Diaz adalah mantan cucu menantu tuan Martin"


"Istri kedua tuan Diaz ini orang yang seperti apa?"


mereka saling melontarkan pertanyaan, bukan karena ingin akrab. namun jelas, tak ada ikatan rekan yang sakral, mereka adalah musuh yang saling menjatuhkan.

__ADS_1


Diaz mengernyitkan dahi, menahan kesal. jika bukan teringat dengan tujuannya untuk dapat berbicara santai dengan Martin. mungkin kepala para babi rakus ini sudah bolong di buatnya.


"Istriku orang yang biasa saja, namun dia sangat bersahaja. Dia memang Masih muda, namun dia sangat mampu bersikap dewasa menjadi seorang istri untukku" jawab Diaz datar.


"oh tuan Diaz, apakah anda tak berpikir dua kali saat menikahi gadis muda untuk usia anda yang sekarang? anda tentu bisa mencari perempuan yang tak jauh berbeda dengan istri pertama anda, cucu tuan Martin" Anderson kembali menyela mencari celah menjatuhkan Diaz, kapan lagi dapat kesempatan hebat begini?


"Tidak, karena aku mencintai dia" Timpal Diaz kembali.


"oh bukan, maksud saya bukan tentang anda, tapi tentang istri anda. apakah tuan Diaz tidak memikirkan bagaimana nasib masa muda istri anda? dia hanya remaja yang mungkin belum matang soal cinta, belum menemukan cinta sejati di sekolah, belum menjalin cinta dengan pria sebaya nya. atau mungkin dia bahkan sudah memiliki kisah cinta yang terpaksa berakhir karena harus menikah dengan anda. lalu bagaimana teman-teman sebaya nya saat tahu bahwa dia sudah menikah dengan pria yang usianya terpaut sangat jauh dengan dirinya sendiri, dia pasti di jauhi dan di kucilkan, benar tidak? pernahkah anda memikirkan tentang itu semua tuan Diaz?"


Semua orang di ruangan mencuri-curi untuk tertawa kecil karena ucapan Anderson yang terkesan memojokkan Diaz


Diaz menatapnya tajam, ekspresi nya datar meskipun pada kenyataannya sekarang dia merasa tertekan. Anderson seperti mengiris-iris hatinya, sangat tajam.


"He'em maaf bisa kita mulai rapatnya sekarang?"


Kakek Martin tersenyum lembut, seperti itu lah dirinya. semua orang langsung diam dan mengikuti perintah Martin. rapat di mulai dan berlangsung sekitar 3 jam.


Para anggota pin ular itu bergiliran keluar saat pertemuan dewan itu berakhir, Anderson, Charlie, Calix, termasuk juga Diaz.

__ADS_1


Sebastian kebingungan karena Diaz ikut keluar sesekali dia menoleh ke belakang memastikan bahwa Martin belum keluar, dia menarik lengan Diaz lalu berkata, "Bos, kenapa keluar? bagaimana rencana kita tadi?"


"Nanti saja Tian, aku lelah mau pulang sekarang" untuk pertama kalinya Diaz menjawab lemas. mata tajamnya hilang, seperti tak ingin menatap apapun.


tak lama kakek Martin bangkit dari kursi dan berjalan keluar.


"Diaz... " kakek Martin berdiri di muka pintu, suaranya lembut memanggil Diaz yang berdiri tak jauh darinya.


Diaz mengalihkan pandangan menghadap Martin


"Bisakah kita bicara sebentar?"


Sebastian yang mendengar ajakan Martin tersenyum simpul dan menggoyang-goyangkan lengan Diaz yang masih dalam genggamannya.


"bos?"


"Maaf kakek, aku ingin istirahat hari ini bisakah kita atur nanti saja?"


kakek Martin tersenyum dengan wajah teduhnya. Dia Menepuk pundak Diaz, lalu berkata, "baiklah, aku mengerti" kemudian pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2