
...1 Bulan Kemudian...
Sebulan setelah rahasia besar Brama yang di wasiatkan pada Diaz terungkap, Kondisi kakek Martin semakin baik setelah Mendapatkan pertolongan dari Darah Maria, tak hanya itu pemulihannya pun jauh lebih cepat karena kehadiran Maria, cucu kandung yang selama ini di nantikan nya. Maria selalu datang untuk menjenguk kakek Martin, sama seperti saat ia mengurus Brama dulu.
Dan Diaz, tak ada yang berubah dari diri Maria padanya, kakek Martin sering menanyakan apa yang Maria inginkan namun Semua itu tak membuat Maria justru melupakan Diaz. Sore ini mereka bersiap untuk menjenguk Martin yang baru kembali dari rumah sakit.
"Maria..."
Suara lembut itu memanggil Maria yang sedang sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa ke rumah Martin.
"Iya?"
“Kontrak kita kemarin, bukankah katamu sudah berakhir?” ucap Maria saat Diaz menyerahkan sebuah dokumen padanya.
“Aku masih menyimpannya dan entah sejak kapan berusaha untuk melanggarnya”
Diaz meraih tangan Maria lalu menggenggamnya erat, “Maria aku bisa bertanggung jawab, karena tidak sengaja mencintai kamu, aku akan bertanggung jawab seumur hidup”
"Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu. aku ingin menikahi kamu dengan cara yang benar. melamar pada keluarga besar kamu. apakah kamu bersedia untuk itu Maria?" Sambungnya.
Maria tak mampu menahan haru, matanya berkaca-kaca melihat Diaz yang berlutut di hadapannya. tak sampai situ, Diaz merogoh saku belakangnya mengeluarkan berlian cantik yang terpasang di sebuah cincin kecil, cincin pernikahan milik mereka yang sebelumnya di hilangkan oleh Maria.
"Cincin itu? Kenapa bisa ada di kamu?"
"Aku mendapatkannya kembali dari seseorang waktu kamu menjatuhkannya di jalan"
"Kamu menyimpannya, kenapa tidak langsung berikan padaku?"
"Maria, aku membuat cincin ini khusus, aku mendesainnya sendiri sejak lama sekali sebelum mengenal kamu. cincin ini memang terlihat biasa dan disain nya pun sederhana saja, tapi apakah kamu tahu arti cincin ini? berlian putih kebiru-biruan, seperti air. dan cincin satunya, yaitu milikku tak ada berlian apapun, hanya emas biasa, warnanya terang seperti matahari. aku mengibaratkannya seperti air hujan dan matahari, bila mereka bersama-sama maka akan ada pelangi. karena itu cincin ini, ingin aku berikan pada seseorang yang bisa bersama denganku. pasangan hidupku, entah itu senang atau sedih. akan bisa terus bersama-sama menciptakan kebahagiaannya sendiri. jadi Maria, apakah kamu bersedia untuk bersamaku selama-lamanya?"
Maria mengangguk semangat meskipun berulang kali buliran air mata itu jatuh mengenai pahanya.
"Indah Sekali, aku tak tahu ternyata kamu begitu detail memikirkan hal seperti ini" katanya terisak-isak.
__ADS_1
"Kalau begitu pakailah"
Akhirnya, Cincin penuh makna itu, kini kembali melingkar di jari manis Maria. mereka lantas berpelukan penuh haru. Maria terus terisak di pundak diaz sampai kemeja yang dikenakannya sedikit basah karena air mata.
setelah dirasa sedikit tenang, dengan penuh suka cita mereka berangkat ke kediaman Martin. untuk kedua kalinya, Diaz menghadap kepala keluarga Owen itu untuk melamar cucunya. namun, meskipun bukan pertama kali, lantas tak dapat menutupi rasa gugup yang melanda dirinya kini.
perasaan berdebar itu kian kencang kala mobil yang mereka kendarai sampai di depan rumah Martin. Para pelayan di sana menyambut mereka, mereka turun dari mobil dan segera masuk.
Diaz memutar gagang pintu kamar Kakek Martin yang memang tidak di kunci, kemudian masuk. dari dalam Kakek Martin menyambut mereka dengan senyum ramahnya, dia duduk di ranjang kamar, karena belum pulih total. Mereka berbincang ringan, kemudian Diaz langsung mengutarakan kehendaknya pada Martin.
"Melamar? bukankah kalian sudah menikah?" timpalnya sambil mengerutkan dahi.
"Ya" jawab Diaz, "Tapi, sebelumnya kami menikah tak ada seorang keluarga pun untuk aku melamar Maria, ayah Brama saat itu masih terbaring di rumah sakit. karena itu, sekarang Maria sudah menemukan keluarga kandungnya, aku tak ingin melewatkannya begitu saja. aku ingin menikahi Maria dengan cara yang benar, sehingga ini menjadi momen yang tak terlupakan untuk kami"
"Baiklah aku mengerti, kita akan segera mengadakan pesta pernikahan yang besar untuk kalian"
Jawaban Martin itu, disambut mereka dengan senyum sumringah. Namun dari balik dinding kamar ada seseorang yang terlupakan, belum cukup soal cucu kandung Martin yang sudah di temukan. kini, dia bersedih hati saat mendengar lamaran Diaz pada kakek Martin. Maria keluar kamar untuk mengambil air minum, dia menemukan Rena menangis di samping pintu kamar.
"Kak Rena?"
"Tunggu sebentar" pekik Maria, membuat langkah Rena terhenti.
Maria berjalan cepat menghampiri Rena, dia merogoh tas kecilnya mencari tisu, lalu memberikannya pada Rena.
"Kamu tidak usah berpura-pura baik, aku tidak butuh tisu"
"Tapi, ingusmu keluar"
"Dasar Maria, menyebalkan" isak Rena merampas tisu yang di sodorkan Maria padanya.
"Aku sangat menyukaimu, tidak ingin menjadi musuh. kamu cantik, pintar, dan begitu anggun. selain itu, kamu adalah kakak ku. Bagiku kamu memiliki arti yang berbeda dari orang lain kak. soal masalah perasaan, tidak ada yang bisa menebaknya. kamu sangat baik, kamu adalah tipe wanita yang sangat aku kagumi. jadi, aku harap kamu jangan bersedih terlalu lama. kamu sangat luar biasa, sangat pantas untuk disukai banyak orang"
"Tentu saja! tentu saja aku tahu bahwa aku sangat luar biasa. jangan berharap bahwa aku akan minta maaf padamu!"
__ADS_1
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mendorong kakak waktu itu. dan juga terlihat ketus saat di rumah sakit"
"Sudahlah, aku harus kembali dulu, aku harus kembali ke kamar untuk tidur cantik. agar mataku tidak bengkak, karena aku harus cantik di pernikahan kalian!"
Rena berbalik arah meninggalkan Maria, Maria tersenyum lega menatap punggung Rena yang semakin jauh. akhirnya, Rena dan dirinya sudah saling membuka diri sebagai seorang keluarga.
...****************...
Seminggu kemudian, pesta pernikahan mewah berlangsung. semua orang hadir dengan senyum bahagia terukir. semua orang berdiri desak-desakan saat Maria bersiap melempar buket bunga dari belakang. mereka berteriak penuh suka cita saling berebutan.
bunga itu terlempar, namun justru di dapatkan oleh pria kaku di barisan paling belakang, orang yang paling tak berminat untuk berbaur dengan sekumpulan wanita di depan yang memperebutkan seikat bunga putih yang skrg di genggamannya, siapa lagi? dialah si pria setia, Sebastian. semua orang menatapnya iri. tak ia pedulikan.
Diaz lantas mendapatkan tubuh Maria, mengangkatnya begitu romantis penuh rasa cinta
"Maria, kamu senang?"
"Ng, tentu saja. pernikahan ini, jauh melebihi yang aku impikan selama ini"
Iringan musik dari biola, menambah kesan romansa di pernikahan penuh cinta itu. hadir Maria bagai Rembulan yang bersinar di langit gelap bagi Diaz. sebuah kisah cinta, yang di mulai dari intimidasi si pria penguasa, terhadap perempuan desa tak berdaya. yang di jalin melalui ikatan pernikahan kontrak.
namun benar adanya, bahwa hati sekeras apapun suatu saat akan pecah menjadi bintang-bintang penuh. sebab tentang cinta, dia tak tahu kapan berlayar, namun ia tahu kapan harus berlabuh. bak sang CEO yang tak menyadari bahwa perasaan jatuh hati itu telah ia rasakan jauh sebelum melakukan kontrak. namun kini ia sadari, bahwa ia sudah menemukan sang pemilik sejati dari cintanya.
satu hal yang ia pahami, bahkan setelah kontrak berakhir, Maria belum mengandung anak yang dia harapkan dalam Perjanjian, bahkan setelah mantan istrinya kembali pun. anak itu masih belum hadir di kehidupannya. lalu bagaimana dengan Si gadis desa? ayahnya bahkan telah tiada, jauh dari apa yang ia harapkan dengan adanya pernikahan kontrak yang mereka lakukan. pernikahan yang di harapan mampu memberikan kesembuhan ayahnya malah berakhir duka. bak pepatah mengatakan Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak.
bukan kah ini sangat serasi dengan Makna cincin yang di buat Diaz. tentang matahari dan Air hujan. mungkin mereka tak mendapatkan matahari (keinginan) tanpa di barangi hujan (kesedihan), namun mereka mendapatkan pelangi (Kebahagiaan), karena keduanya.
"Diaz, Terima kasih sudah mau menerima ku sepenuhnya"
"begitupun aku ingin berterima kasih padamu Maria, karena sudah hadir dalam hidupku"
__ADS_1
..."....To love unconditionally requires no contracts, bargains, or agreements. Love exists in the moment-to-moment flux of life.......
..."Untuk mencintai tanpa syarat, tidak perlu kontrak, tawar-menawar, atau kesepakatan. Cinta ada dalam arus kehidupan..."...