
Haru ini Diaz kembali pada rutinitas paginya bekerja di kantor. berkas-berkas menumpuk di depan meja besar ruang kerjanya.
berkali-kali Diaz mengusap keningnya, kadang ia bangkit dari tempat duduk menghadap kaca jendela besar sambil sesekali menghisap asap tembakau di rokok.
Buk
Sebastian kembali menumpukkan berkas di depan meja.
"Tian..."
"iya bos"
Diaz membalikkan badan menghadap Sebastian yang berada di belakangnya.
"Soal Taman bermain, apakah itu tempat yang wajar untuk perempuan dan laki-laki menghabiskan waktu?"
"oh tentu saja bos, banyak pasangan terutama anak-anak muda memilih taman bermain untuk berkencan. oh dan kadang-kadang juga banyak keluarga menghabiskan waktu di sana saat akhir pekan"
"kalau-" jawab Diaz berjeda.
"-pria seumuran ku bagaimana?"
Diaz menaikkan lengannya menutupi setengah wajah.
"aah, soal itu maksud anda berkencan? anda ingin berkencan dengan Maria di taman bermain?" Sebastian langsung kikuk, tak ingin salah bicara.
"Menurut kamu bagaimana?"
"wajar saja kok bos, kalian adalah pasangan"
"untuk usiaku yang 39 tahun ini? apa itu masih wajar Tian jika berkencan di taman bermain?"
__ADS_1
"ah.. tentu saja, lagi pula penampilan anda sempurna tak akan ada yang mempermasalahkan atau bos bisa ubah penampilan untuk tampil lebih santai dan kasual seperti anak muda seusia Maria. jadi Maria tidak canggung bersama anda bos"
"tampil lebih santai... baiklah Tian, aku mau pergi ke pusat perbelanjaan. aku harus cari pakaian santai seperti remaja"
Diaz mengambil Jas di atas kursi dan cepat pergi keluar ruangan meninggalkan Sebastian.
"bos!! tapi pekerjaannya? bagaimana?" pekik Sebastian.
"Nanti saja, nanti malam aku kerjakan lagi di rumah. urus saja bagian yang bisa kamu kerjakan Tian"
Diaz membanting pintu, hanya suaranya yang terdengar.
"hmph bisa-bisanya Maria membuat Bos jadi begini, Kamu hebat" Sebastian menyeringai melepaskan kacamata yang ia kenakan.
...****************...
...(di rumah Diaz)...
Maria mengeluarkan ponsel yang di berikan Diaz dari poket di samping dress.
"Wah, nyonya sudah punya ponsel" Amirah melongo.
"Diaz yang berikan kemarin Amirah, Sejujurnya aku masih sedikit kesulitan menggunakannya"
"Tidak masalah nyonya, kalau sering dipakai pasti akan lebih mudah. sekarang nyonya mau apa?" Amirah ikut menunduk, saat Maria menurunkan badannya mendekatkan ponsel ke pucuk bunga.
"Kamu benar Amirah, aku mau foto bunga-bunga ini" Maria tersenyum sambil menekan tombol kamera.
cekrek
"Coba lihat?"
__ADS_1
Maria menegakkan badan dan menyodorkan layar ponsel lebih dekat dengan Amirah
"wah, cantik sekali nyonya"
drrrtt drrtt
Tiba-tiba ponsel di saku pakaian maid milik Amirah bergetar. cepat Amirah izin untuk menyingkir dari Maria beberapa saat.
Panggilan masuk dari Ayahnya. Amirah menekan tombol hijau di sebelah kiri ponselnya.
"ANAK KEP*RAT!!! AKU BARU KEMBALI KE RUMAH, TETANGGA BILANG KAMU DARI PULANG BEBERAPA WAKTU LALU. DIMANA UANGKU BA*INGAN?"
"Ayah, tolong tenang. uang yang Ami kirim bulan lalu seharusnya masih cukup sampai sekarang. ayah tolong berhenti berjudi dan beli minuman keras. Ami tidak punya uang lagi untuk menutupi hutang ayah"
"ANAK KURANG AJAR, TIDAK TAHU DI UNTUNG KAMU!!! UANG KAMU ITU TIDAK SEBERAPA DENGAN BIAYA YANG AKU KELUARKAN UNTUK MERAWAT KAMU!!!" Pekik Pria itu keras di telpon membuat Amirah terperanjat, tangannya langsung gemetar memegang ponsel.
"Ayah... tolong berhenti"
"NANTI MALAM AKU TUNGGU DI DISTRIK EMPIROS, JANGAN COBA-COBA UNTUK TIDAK DATANG. AKU BISA CARI KAMU DI MANAPUN, KU HAJAR KAMU SAMPAI MATI SEPERTI IBU KAMU"
"Ayah!!!"
tut tut tut
Panggilan itu di matikan oleh Ayahnya. Amirah cepat menggosok kedua matanya menghapus air mata yang menggenang di pelupuk kiri dan kanan.
"kamu baik-baik saja Amirah?"
Maria datang dari belakang menepuk pundak Amirah.
"Saya baik-baik saja nyonya, ayo kita foto bunga lagi. tuan pasti kagum kalau lihat gambar yang nyonya potret" Amirah Tersenyum lebar menarik lengan Maria kembali ke halaman samping.
__ADS_1