Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
Yes He's My husband


__ADS_3

WUSH! WUSH!


Rombongan Mobil-mobil itu melaju cepat di jalanan. Maria tak lepas memeluk Diaz, ia terus mengusap pelan wajah Diaz membersihkan darah yang terus mengecer dengan tisu.


Para dokter terbaik di rumah sakit Orton, tempat yang sama tempat ayah Maria di rawat berbaris di depan pintu masuk rumah sakit, mereka sudah menyiapkan brankar dorong tempat tidur pasien untuk membawa tubuh Diaz ke ruang rawat.


Tak lama kemudian rombongan mobil mewah yang membawa Diaz dan penjaga-penjaga elite itu sampai, para dokter bergerak cepat membantu Sebastian dan Maria yang menggotong Diaz.


mereka berlarian di lorong rumah sakit mengikuti brankar dorong yang bergerak cepat di dorong beberapa dokter.


"Mohon tunggu di luar tuan, nyonya" Ucap suster pada Sebastian dan Maria saat mereka sampai di ruang rawat Diaz, suster itu kemudian menutup pintu masuk ruangan.


"Sebastian... " Kata Maria pelan.


Sebastian yang duduk di seberang pintu menegakkan kepala saat Maria memanggil namanya, "Ada apa?"


"Soal penculik itu, apakah kamu tahu Diaz melakukan penyiksaan dengan kakaknya, orang yang telah melecehkan aku di bus?" alis Maria melengkung ke bawah tatapan matanya sedih.


"iya... "


"Dia melakukan itu karena tahu aku di lecehkan?" tanyanya kembali namun enggan menatap Sebastian.


"iya... " jawab Sebastian singkat


Maria menggigit bibir bawahnya, tangannya kuat meremas rok yang ia kenakan.

__ADS_1


"Kenapa... harus sampai begitu?" kata Maria kecil


"Karena kamu istrinya" jawab Sebastian kembali.


Mata Maria membulat saat mendengar ucapan Sebastian, kali ini linangan air itu sudah tak dapat di bendung oleh matanya.


"NYONYA!!!" pekik Amirah dari ujung lorong, matanya digosok-gosok karena menangis.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak bisa melindungi anda dengan baik seperti yang di perintahkan tuan Diaz. saya tidak bisa menjaga anda, saya lalai hiks... hiks... " Amirah bersujud di depan Maria.


"Amirah berdiri, kamu tak ada kesalahan apapun"


Maria lekas menarik kedua lengan Amirah, membangkitkan tubuhnya agar tak lagi pada posisi bersujud di lantai.


"Saya malu bertemu tuan karena gagal menjalankan perintahnya untuk menjaga nyonya hiks.. hiks, tuan sangat marah sampai menembak tuan Calix saat tahu anda di culik" Amirah kembali menggosok air matanya.


"Benar nyonya, kemarin tuan Calix juga berencana untuk menculik anda tapi mereka salah target dan malah menahan saya karena saya yang ada di ruang rawat ayah nyonya waktu itu-"


"Saat itu tuan Diaz datang menghalang jalan tuan Calix, ia marah dan sampai melepaskan tembakan ke tuan Calix karena mengira bahwa mereka menculik anda nyonya namun setelah tahu bahwa yang di culik itu adalah saya tuan terlihat sangat frustasi dan marah-marah memerintah orang-orang suruhan untuk mencari orang yang membawa anda. saya sangat takut melihat tuan Diaz marah begitu" jelas Amirah kembali panjang lebar.


Serrr


Maria meneguk Saliva nya kuat. jantungnya berdegup kencang, nyess, ia rasa saat mengetahui tentang Diaz atas apa yang menimpa dirinya.


"dia begitu karena tempramental... kan?" kata Maria kecil memalingkan wajahnya seolah tak ada satupun yang boleh menatap matanya.

__ADS_1


"bukan!!! tapi karena tuan khawatir dengan nyonya" jawab Amirah tegas.


"Dia begitu karena dia suami kamu dan kamu adalah istrinya" sela Sebastian dengan wajah datarnya.


Sebastian memang pendiam, jika melihat penampilan luarnya akan nampak bahwa dia adalah pria kalem yang cerdas dan berwibawa karena kacamata yang ia kenakan, namun siapa sangka bahwa ia ternyata adalah pria berdarah dingin dengan kemampuan bertarung sekelas dengan pasukan elite milik Diaz.


ceklek


pintu kamar rawat terbuka, semua dokter keluar dari dalam ruangan.


"beruntung tak ada luka dalam jadi tak ada yang perlu di khawatirkan tapi Tuan Diaz belum sadar. tuan dan nyonya sudah boleh masuk, kami permisi" ucap mereka menunduk kepala tersenyum ramah.


"Terima kasih dokter" Maria langsung masuk ke dalam.


Sebastian berdiri diam di luar bersama Amirah, ia langsung mengalihkan wajahnya yang tadinya menatap ke depan pintu rawat saat dokter keluar kini menatap datar Amirah.


"ekh" Amirah yang sadar di pelototi Sebastian langsung memalingkan muka ke samping lalu ke bawah. entah ketakutan atau bagaimana, yang pasti wajahnya merah padam.



ASIKKK...


Halo ini author 🤭🙋


Apa kabar kakak? terima kasih karena sudah mengikuti kisah Maria sampai bab ini. berhubung kemarin kita tegang dan panik bersama wkwk, kali ini author ingin memberikan yang manis-manis dulu aah muehehehe ( ̄∇ ̄).

__ADS_1


Bab kali ini author membagikan visual Sebastian, iyaa Tian 😎 sosok hero di bab sebelumnya. karena author menyukai visual berkaca mata namun dengan karakter yang berbeda, author rasa Sebastian sangat cocok jika di gambarkan begini hehe (↑ω↑).


segitu dulu untuk bab kali ini, sampai bertemu di bab selanjutnya. lebih dekat maka lebih baik, jadi jangan lupa absen di kolom komentar di bawah woke kak 💪('ω'💪) . author sayang kalian semua ❤


__ADS_2