Istri Kontrak CEO duda

Istri Kontrak CEO duda
Extra Part - Sebastian en Amirah last Part


__ADS_3

Pagi harinya, Diaz dan Maria sudah menunggu di depan rumah seperti biasa, namun Sebastian tak kunjung datang menjemput.


"Aku berangkat kerja ya"


"Pergi sendiri? tidak mau menunggu Sebastian? mungkin dia sedang di jalan"


Diaz tersenyum simpul menggosok rambut Maria lembut, "Dia tak akan kesini Maria, mungkin juga tidak akan masuk kerja"


"Sebastian pasti sangat sedih ya"


"Tenanglah, dia tau apa yang harus dia lakukan"


Diaz melambai tangan, mobil melaju dan perlahan menghilang dari pandangan Maria.


...****************...


Pernikahan yang tak pernah di impikan Amirah tiba. dia tak henti menangis menatap pantulan dirinya di cermin. ayahnya yang cemas segera masuk ke kamar Amirah saat rombongan pengantin pria datang namun Anaknya tak kunjung siap.


"Berhenti menangis anak bodoh, jadilah sedikit berguna untuk orang tua mu ini. kamu senang jika masa tua ayahmu terus kesusahan? kamu tidak ingat kemarin ayah di pukul orang orang berotot di depan itu. kamu lihat? ini bekas pukulannya pun masih ada di pipi ayah"


"Ami tidak mau menikah dengannya ayah, ami tidak mau, Ami sudah memiliki seseorang yang Ami cintai"


"Halah, cinta cinta. kamu tidak bisa hidup hanya dengan cinta. lama-lama juga kamu pasti bakal bisa mencintai tuan Bima, ayo cepat keluar, tuan Bima sudah menunggu kamu di depan"

__ADS_1


Ayahnya kemudian menarik-narik paksa tangan Amirah kasar, menuju ruang depan. hanya ada beberapa orang saja, tak ada pesta, tamu, kebahagiaan. hanya formalitas saja sekedar mempersatukan mereka sebagai pasangan. sebuah pernikahan yang jauh dari impiannya.


di lain tempat, Sebastian melajukan kendaraannya cepat, sepanjang jalan tatapannya hanya fokus di depan, berulang kali banting setir bahkan hampir menabrak seorang pejalan kaki, beruntung ia sangat lihat berkendara. sehingga masih bisa di kendalikan. Perasaannya gusar, pikirannya kalut tak seperti biasanya. hanya terus berusaha meluncur secepatnya sampai tujuan.


dia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, kemudian masuk ke gang kecil di sudut jalan. dia menghela nafas saat sampai di sebuah rumah kecil setengah jadi. samar-samar dia lihat beberapa orang memenuhi ruangan di dalam rumah.


"Semua orang disini akan menjadi saksi, apakah kedua pengantin ini siap untuk menjadi pasangan suami istri? "


"Siap, saya sangat siap. saya sangat mencintai calon istri saya ini" jawab Rentenir itu penuh semangat.


"Pengantin wanita bagaimana?"


Amirah diam, berulang kali ia menahan air manik jatuh dari pelupuk matanya. dari samping ayahnya sibuk Menyenggol-nyenggol lengan Amirah, agar ia segera menjawab.


"Saya.. si-"


Belum selesai Amirah berucap, semua orang langsung beralih saat secara tiba-tiba ada pekik kan tegas dari seseorang. pupil mata aqua Amirah membulat berkaca-kaca saat melihat Sosok pria dingin yang gagah, berdiri di muka pintu. Pria yang selalu muncul saat ia dalam kesusahan, tak pernah melintas dalam khayalan nya saat Si Pria ini datang untuk menyelamatkan nya kembali. dialah Sebastian, pria yang ia cintai diam-diam.


"Ba*ingan!!! sampah dari mana ini, datang datang merusak pernikahanku. hajar di-"


BUK


Sebastian menghantam Mulut si rentenir gendut sebelum ia selesai memberi perintah pada orang-orangnya. penuh amarah, matanya tajam. darah dingin Sebastian kambuh. seperti elang yang siap memangsa, ingin membunuh. semua yang ada dalam ruangan langsung ketakutan, termasuk preman-preman kampung bawahan rentenir.

__ADS_1


"AKH.... " Dia memekik saat darah segar keluar dari hidung dan mulutnya, gigi depannya sampai copot hanya dengan sekali pukulan dari Sebastian. Dia langsung histeris berlari ketakutan meninggalkan rumah Amirah.


Akhirnya, kini buliran air yang menumpuk di pelupuk mata Amirah dapat berjatuhan bebas. dengan gemetar dia bangkit berdiri, Sebastian cepat meraih tubuhnya saat Amirah hampir kehilangan keseimbangan. di dalam dekapannya, Amirah menangis meluapkan semua kesedihannya. untuk pertama kali, si pria gunung es menyerahkan dekapannya untuk perempuan belia yang tak beruntung itu.


"Jangan takut, aku di sini menyelamatkan kamu" bisiknya lembut di telinga Amirah.


Tiba-tiba....


"AMI!!! ANAK KURANG AJAR!! CEPAT USIR PRIA TAK TAHU DIRI INI!!!"


Ayahnya memekik menunjuk-nunjuk Sebastian. Sebastian yang masih murka mengepal tangannya kuat dan mendekat pada ayah Amirah. namun langkahnya terhenti saat Amirah menggenggam pergelangan tangannya kuat.


"Jangan... " rintihnya pelan, menatap memohon iba dari Sebastian.


Sebastian terdiam, melihat sosok menyedihkan Amirah, tak habis pikir mengapa bisa ada perempuan yang sangat berperasaan sepertinya.


"Mulai hari ini kamu adalah milikku dan selama-lamanya adalah milikku, ayo Kita pergi"


Genggaman hangat dari tangan Sebastian memberikan ketenangan di sosok tegar Amirah. dia melangkah mengikuti langkah kaki pria tinggi yang gagah ini keluar dari neraka kematian yang di ciptakan oleh seseorang yang dia sebut ayah.


"AMIRAH!!! AMIRAH!!!" teriakan keras ayah yang memanggil namanya, perlahan menghilang seiring dengan langkahnya yang semakin jauh.


__ADS_1



..."Kamu adalah milikku, dan selama-lamanya adalah milikku"...


__ADS_2