
Malam, Pukul 22.00 Diaz sudah pulang lebih awal ke rumah. karena semua tugas rumah sudah selesai, semua pelayan sudah beristirahat.
Amirah keluar rumah lewat pintu belakang setelah sebelumnya izin kepada Maria untuk pergi setelah tugas rumah selesai, dia lalu pergi ke halte bus tak jauh dari rumah tenang Diaz.
30 menit perjalanan, Amirah sampai di distrik Empiros tempat yang di instruksikan ayahnya. Amirah pergi ke salah satu warung makan remang-remang. banyak orang-orang mayoritas pria paruh baya bermain judi dan minuman keras, Amirah tak akan kebingungan karena ayahnya dari dulu selalu di situ menghabiskan uang.
Suara bising tawa dan pekik kan pria-pria di dalam warung terdengar keras membuat Amirah risih menunggu di luar. tak lama, pria tua beruban dengan badan tambun keluar, dia jalan sempoyongan sambil memegang botol minuman keras.
Bruk
pria itu menumbur Amirah
"Ayah!!"
"Siapa?" Pria itu mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah Amirah.
"Oh, Ami haha. uangku datang" seringai pria itu bangkit dari bahu Amirah.
"MANA UANG?" ayahnya menadah tangan di depan Amirah.
"Ayah... ayo pulang. ayah sadar jangan di minum lagi"
Amirah meraih tangan pria itu mencoba merebut botol bir yang di genggamnya.
"HAAARRHHH... MANA UAAANGGG?" pekik ayahnya menepis tangan Amirah.
"Ayah, kita pulang ya. Ami akan beri Uangnya kalah ayah mau pulang"
tak henti, Amirah kembali meraih lengan ayahnya untuk membawanya pergi meninggalkan warung itu.
PLAK!!
__ADS_1
tamparan panas mendarat di pipi bening Amirah.
"ANAK KURANG AJAR, BERANI KAMU MENGATUR NGATUR AYAH. CEPAT BERIKAN UANGNYA"
semua pengunjung di distrik beramai-ramai menyaksikan di tempat, namun tak ada satu pun yang menghampiri untuk melerai. hal seperti ini sudah biasa terjadi dari dulu di Distrik Empiros. Pria yang mengamuk memarahi anak dan Istrinya, dua orang yang berkelahi karena kalah judi atau tindakan kriminal lain, semua itu sudah lumrah tak ada yang akan membantu.
"Ayah!! Amirah tidak punya uang"
"HAAARRRHHH.. KAMU MAU BERBOHONG DARI AYAH! SINI AYAH CARI SENDIRI" pria itu merebut paksa tas selempang yang di pakai Amirah.
dia mengobrak abrik isi tas hingga berceceran di jalan. benar, hanya ada beberapa lembar uang ribuan yang di gunakan Amirah untuk naik kendaraan umum.
"BAJ*NGAN!!! ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG UNTUK APA KAMU KEMARI KALAU TIDAK BAWA UANG KEP*RAT!!! KAMU BENAR-BENAR MENYEBALKAN SAMA SEPERTI IBU KAMU YANG SUDAH MATI ITU"
...****************...
Sebastian kembali pulang malam karena tugas yang ditinggalkan Diaz di kantor. berulangkali dia menaik turunkan bahu saat menyetir mobil, tentu saja karena pegal.
"Pelayan itu?" katanya saat mendapati dengan jelas wajah Amirah di pandangannya.
dia santai menyandar di kursi mobil sambil menghisap rokok, kaca pintu mobil di biarkannya terbuka agar asap rokok dapat mengudara di luar.
"Sial, kenapa aku jadi terus terlibat dengan pelayan bodoh itu"
buk
Sebastian memukul setir mobil kesal, lalu pergi keluar mendekat ke warung tempat Amirah cek cok
...****************...
"MATI SAJA KAMU BRENG*EK" pria itu menaikkan botol bir yang di genggamnya itu dan ingin mendaratkannya ke badan Amirah.
__ADS_1
"AYAH!!!" pekik Amirah memejamkan mata.
BRUK!!!
Sebastian muncul membelakangi ayah Amirah dia memblokade pukulan ayah Amirah sehingga botol itu pecah saat bertumbuk di punggung Sebastian. Amirah aman karena Sebastian cepat menarik lengannya dan menyembunyikan Amirah dalam dekapannya.
"SIAPA KAMU? MAU JADI PAHLAWAN KAMU HA?" ayahnya kembali membentak, dia sangat marah karena ada orang lain yang ikut campur dengan urusannya.
"tu.. tuan Sebastian?" Ucap Amirah pelan saat kepalanya mendongak ke atas dan membuka kedua matanya.
"OH KALIAN SALING KENAL, KENAPA? KENAPA KAMU MENATAPKU BEGITU HA? KAMU MARAH?"
Sebastian menatap pria itu tajam, tangannya mengepal menahan marah.
"HEI AMIRAH SUDAH BERAPA KALI KAMU JUAL DIRI DENGAN PRIA INI SAMPAI DIA MAU MEMBELA KAMU BEGINI HA? BERAPA LAMA KAMU MELAYANI DIA?"
"AYAHH!!! CUKUP!!!" pekik Amirah matanya memanas, putih matanya kini menjadi sedikit merah. kini matanya berlinang tak bisa lagi membendung air mata.
"Pria Kotor!"
DHUAK!!!
Sebastian menendang pria itu hingga ia tersungkur ke bawah.
BUK!! BUK!!
hantaman mentah melayang dari kepalan tangan Sebastian ke wajah ayah Amirah membuatnya merintih kesakitan, wajahnya penuh memar dan juga darah. salah satu gigi depannya sampai patah di buat Sebastian.
"Ayo Pergi!"
Sebastian menarik pergelangan tangan Amirah dan membawanya pergi ke mobil.
__ADS_1