
Diaz menginjak pedal gas Dalam, berulang kali ia banting setir menghindari pengendara lain bahkan Dalam perjalanan ke rumah sakit, hampir saja mobil yang dikendarai Diaz menabrak seorang pejalan kaki, namun ia masih mampu menyeimbangkan laju Mobil hitamnya.
Sesampainya di depan lorong kamar rawat Brama, pandangan Diaz langsung tertumpu pada Sebastian yang berdiri di depan ruang rawat. Terlihat beberapa dokter dan suster berlalu lalang di sana, ada beberapa yang keluar dari ruangan membawa nakas dorong berisi peralatan medis ayahnya, tidak seperti biasanya.
Yang lebih membuat Maria tampak terkejut, saat Diaz berlari cemas sampai melepas genggaman tangannya pada Maria meninggalkan Maria di belakang dengan jarak yang terbilang jauh. Secepat mungkin ia bergegas mengejar langkah Diaz memanggil-manggilnya.
“Diaz... Diaz... Kenapa berlarian begini? di ruang rawat ayah juga lebih banyak dokter, ada apa?” Diaz hanya diam tak menggubris pertanyaan Maria. Bibirnya seakan sulit sekali untuk bicara menceritakan semuanya pada Maria. dia cepat meninggalkan Maria dan langsung masuk ke ruang rawat Brama.
“kok diam? langsung masuk saja, ini ada apa?” Maria berhenti di depan Sebastian saat ia sampai di depan kamar. Setelah lama tak ada jawaban dari Diaz, Maria pun diam sejenak memalingkan pandangannya pada Sebastian.
“Sebastian, jawab Aku, ini kenapa dokter dan suster ramai ada juga yang bawa peralatan medis ayah, ada apa? Ayah sudah sembuh ya makanya peralatan medisnya di lepas?” Matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Sebastian tak mampu berkata apa-apa, hanya tatapan sayu yang menghiasi wajahnya. Maria menjatuhkan tasnya ke lantai, kemudian berlari dengan gontai mencoba menepis pikiran buruk yang ada di benaknya. Harapnya, sang ayah tetap baik-baik saja bahkan lebih baik dari terakhir di lihatnya saat berkunjung. Namun sayang Prasangka buruk mengenai Brama pun semakin kuat merajai pikirannya.
Maria mematung di bibir pintu, ditatapnya semua orang yang berada di samping ranjang Brama satu persatu. Diaz, beberapa dokter dan suster. Lalu, Brama? Kenapa Ranjangnya tertutup kain putih? yang sedang ditangisi Orang-orang dalam ruangan itu siapa? Batin Maria menerka-nerka.
“Diaz...,” Maria memanggil Diaz yang berdiri di samping ranjang, puluhan pasang mata tertuju padanya. Diaz menghampiri Maria. Wajahnya pasi menghadapi Maria, tak ada senyum di mukanya.
“Ayah di mana, Diaz? Kenapa ranjangnya di tutup kain putih begini? Alat-alat medis yang di pasang di ruangan ayah juga di mana? Kenapa hilang?” Suaranya gemetar.
“Ayah...” Jawab Diaz berjeda, lidahnya begitu kelu, wajahnya sendu menahan haru.
“Ayah collapse, kondisinya tiba-tiba menurun, ayah meninggal dunia tak lama saat kita masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Dan jenazah yang tertutup kain putih di ranjang itu adalah Ayah” Diaz kembali mendekap Maria erat.
__ADS_1
Maria mematung, Buliran air bening itu terasa menghangat mengalir di wajahnya. Ia mendekat ke arah jenazah Brama, matanya membelalak tak percaya ketika kain penutup wajah berwarna putih itu dibuka. Jenazah yang berada di hadapannya adalah benar-benar Brama, sosok Pria hebat, ayah dan orang tua yang selama bertahun-tahun merawatnya.
sesak yang kini menyelimuti hatinya karena sang ayah kini sudah tidak lagi bernyawa. Senyum teduh miliknya, nasihat-nasihat bijaksana yang selalu dilontarkannya, sifat jenakanya, kelakuannya saat penyakit pikunnya kumat.
"Jangan Menangis terus, Ayah tidak bisa kalau harus beli tisu terus",
"Segala sesuatu itu sudah diatur, apapun yang terjadi kita tak boleh mengulangi kesedihan"
suara-suara itu seakan terngiang-ngiang di telinganya. Semua kenangan yang pernah ada antara ia dan ayahnya silih berganti berputar di ingatannya.
Semua mata memandang Maria iba, tak henti-hentinya ia menangis di samping jenazah Brama. Berkali-kali ia menyeka bulir air mata di wajahnya. Maria mencium kening Ayahnya begitu lama, sebuah ciuman dan air mata perpisahan. Sambil berbisik pelan di telinganya, “Ayah janji harus baik-baik di sana ya, karena ayah tidak sakit lagi. Maria tak bisa berhenti menangis sekarang, tapi tak masalah Maria punya banyak tisu sekarang”
__ADS_1
Dengan dipapah Diaz suaminya, buliran basah itu seakan turun lebih deras dari sebelumnya di pipi Maria, saat Brama di dorong keluar dari ruang rawatnya oleh para dokter, suster, dan Sebastian menuju ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tepat ketika langit jingga begitu merona, keharmonian alam yang sangat disukai Brama.