
Beberapa hari berlalu sejak malam di rumah sakit itu, operasi kakek Martin berhasil, dan hari ini mendapat kabar dari Rena bahwa ia sudah sadar.
Maria masih sedikit bicara, dampak dari pertemuan yang penuh drama dan sentimentalia malam itu, namun Maria tak menutup diri pada suaminya, seperti yang di takutkan oleh Diaz selama ini.
Pagi ini Diaz tak berangkat ke kantor, ia ingin menemani Maria ke rumah sakit dan mempertemukannya dengan kakek Martin. Dia turun ke lantai bawah, di lihatnya Maria sibuk di dapur.
"Kamu sudah bangun? Kemari lah, aku sudah buatkan sarapan"
Senyum hangat di pagi hari itu membuat Diaz melayang, semua pikiran buruk itu sedikit menyingkir dari benaknya.
"Kamu bangun pagi sekali, kamu pasti sangat gugup. jangan terlalu tegang biasa saja, ya?"
Maria menggeleng, tetap dengan senyum khasnya "Tidak, tidak sama sekali"
Kepala mereka berkeliling, hidungnya mengendus-endus saat ada bau makanan hangus.
"gawat kue nya" Maria panik memukul kepalanya kecil, lalu berbalik arah kembali ke meja dapur.
Diaz muncul di belakangnya, "Apakah Perlu bantuan?"
"Tidak, ini hanya hal kecil"
"hal kecil?"
"memanggang bolu memang begini kok"
"Tapi ovennya berasap"
Maria terlalu panik hingga tergesa-gesa mengambil loyang bolu di dalam oven tanpa menggunakan lap sarung tangan. dia langsung merintih kesakitan, saat loyang itu menempel di jari jemarinya. Diaz bergerak meraih pergelangan tangan Maria. lalu mematikan Oven.
"Tidak apa-apa"
__ADS_1
"jangan bergerak" Diaz membasuh lembut tangan Maria di air mengalir. sesekali menatap wajah Maria di sampingnya.
"Maria, jangan menangis"
"Siapa yang menangis?"
Diaz tersenyum, lalu berkata, "jika memang sakit, cubit saja aku, jangan menahan diri. mau menangis juga tidak apa-apa"
"Bukan masalah besar, aku belum pernah bertemu kakek Martin, sejujurnya aku sangat gugup, dan masih tidak menyangka dengan ini semua. namun bagiku, ayah adalah yang pertama dan satu-satunya. tak akan pernah terganti. tapi aku akan berusaha untuk membuka hati pada kakek, jadi aku berpikir untuk membawakannya oleh-oleh. aku bisa memasak jadi kupikir membuat kue juga bukan hal yang sulit. tidak di sangka hasilnya malah memalukan begini"
"Anak baik! Terima kasih karena kamu begitu dewasa, mau belajar untuk membuka hati pada keluarga kamu. Kelak jangan buat Kue lagi, berjanjilah padaku. kita beli saja" Diaz kembali menggosok lembut rambut Maria. ia kembali bisa bernafas lega karena istrinya sejauh ini tak sesuai dengan apa yang di pikirkan nya beberapa waktu belakang.
Tak lama, Amirah datang menghampiri mereka. dia menenteng tas besar dan tak lagi memakai pakaian maid seperti biasanya.
"Tuan, nyonya Maaf pagi-pagi begini saya ganggu"
Maria langsung bangkit dari tempat duduk dan menghampiri Amirah.
"Amira, ada apa? kamu mau kemana?"
"Amirah, aku yang minta maaf kamu jadi harus menunda pulang mengurus ayahmu. aku mengerti kamu boleh pulang sekarang, dan kembalilah jika sudah memungkinkan untuk pulang kesini ya"
"Terimakasih banyak nyonya" Amirah tersenyum kemudian mengangkat kembali tas nya di lantai. dia pergi menuju pintu depan rumah.
Diaz menepuk pundak Maria, "kita juga harus pergi sekarang, Sebastian sudah menunggu di depan"
"Oh baiklah"
...****************...
Amirah muncul dari dalam, dia menoleh ke samping, sudah ada Sebastian menunggu di depan teras. dia hanya melontar kan senyum pada Sebastian, namun Sebastian dingin tak membalas atau menegur sapanya.
__ADS_1
tak, lama Maria dan Diaz muncul dari dalam pintu masuk rumah.
"Amirah!!" pekik Maria, pada Amirah yang sudah berada di depan gerbang.
"Kami titip salam pada ayahmu ya, semoga beliau cepat sembuh. dan... " ucap Maria berjeda.
"... jika butuh bantuan, hubungi kami" sambungnya.
"Terima kasih nyonya" Amirah menunduk, kemudian pergi keluar gerbang. sosok Amirah itu menghilang dari pandangan Sebastian yang dari tadi menatapnya seorang.
Mereka kemudian berangkat menuju rumah sakit, Sebastian membukakan pintu belakang untuk Maria dan Diaz.
Mobil berputar pelan, tak seperti biasa Sebastian melamun sepanjang jalan seperti ada banyak hal yang ia pikirkan. lain hal, hati Maria berdebar-debar kuat. apa yang akan terjadi? bagaimana caranya menyapa kakek Martin? apakah kakek Martin juga akan membuka hati untuknya?
perasaan berdebar-debar itu kian kencang ketika mobil memasuki tempat parkir rumah sakit. rasanya seperti jantung mau copot. keluar dari mobil cuaca pagi ini tak cerah seperti kemarin, mendung tebal menggantung, seakan mengancam Mereka. Maria dan Diaz masuk ke dalam rumah sakit dan segera naik ke lantai 15, menuju kamar rawat kakek Martin.
"Kamu datang Diaz? juga bawa seseorang, apakah dia istrimu? cantik sekali. masuklah ayo masuk" kakek Martin menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah khas miliknya.
"Aku tidak hanya bawa istriku kek, tapi aku juga bawa cucu kandung kakek"
Jawaban menohok Diaz langsung membuat semua orang di dalam tertegun, tak terkecuali Rena yang memang sudah tau lebih awal. suasana langsung hening saat Rena kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"i.. ini maksudnya bagaimana?" kakek Martin yang kebingungan berusaha tetap tersenyum agar suasana tak kembali canggung.
tanpa basa-basi Diaz menjabarkan semua, mengutarakan semua pengetahuannya tentang Maria dan Martin, tak luput pula tentang Brama, ayah mertuanya. ia bahkan membawakan surat hasil cek laboratorium, mengenai kecocokan DNA Milik Maria dan Kakek Martin.
Kakek Martin bergetar, matanya berkaca-kaca, ia memeluk Maria erat, tak mampu membendung lagi air matanya, mereka lantas berpelukan haru. sesekali kakek Martin mencium kepala Maria, dan terus memeluknya. dan Maria pun tenggelam dalam dada renta kakek Martin, menggambarkan gairah kerinduan yang sama hebatnya.
dari balik dinding, Rena berdiri di muka pintu dia menyaksikan keharuan kakek Martin dan Maria. pertemuan keluarga yang hilang itu, membuat hati Rena bergetar hebat. apakah ia akan di buang? pertemuan yang di saksikan nya itu membuat dadanya terasa menyempit hingga sedikit sulit bernafas, dia lalu memilih pergi mencari udara segar diluar rumah sakit.
"Andai aku tak terlalu berambisi, mungkin aku tak akan kehilangan keduanya. kini kakek sudah menemukan cucu kandungnya, dan aku kehilangan pria yang dulu sangat mencintai aku" katanya dalam hati. matanya kosong menatap langit mendung di atas. rintik-rintik air hujan mulai turun.
__ADS_1
di lain tempat, Sebastian tak beranjak dari tempat parkiran rumah sakit, ia masih di duduk di dalam, wajahnya sedikit cemas sambil mengepal setir mobil kuat.
"Ayah? apa sungguh ayahnya sakit? bagaimana kalau dia di perlakukan buruk lagi seperti waktu itu?" katanya dalam hati.