
Hari sudah siang, Diaz menepati janjinya mengajak Maria ke green House di halaman belakang rumah.
Maria mengikuti Diaz dari belakang saat lengannya di genggam lembut oleh tangan besar Diaz. kali ini Maria terpukau melihat Diaz dari belakang baru ia sadari Diaz sesempurna itu di matanya. pakaian yang ia kenakan, selalu cocok di tubuh tinggi Diaz.
"kita sampai" Diaz memecah lamunan Maria.
Maria melongo kagum saat melihat bangunan dengan atap miring ganda dengan bahan film plastik, seperti polietilen, polivinil, atau fiberglass itu. Di dalamnya penuh tanaman hijau, aneka buah-buahan, aneka jenis sayuran, bunga, dan tanaman lain.
"ini yang namanya green house Maria" Diaz mengusap lembut rambut Maria. kemudian melangkah masuk ke dalam green house diikuti Maria dari belakang.
Maria makin tak berkedip saat masuk ke dalam, begitu tenang melihat tanaman-tanaman hijau yang memenuhi ruang di rumah kaca itu.
"ini pegang"
Diaz kembali memecah lamunan Maria, dia menyerahkan keranjang kecil yang umum digunakan petani untuk memanen buah dan sayuran.
"Aku ingin mengajak kamu memetik strawberry di sana" Diaz menunjuk bagian di sudut ruangan.
Maria kembali mengikuti langkah Diaz, Diaz telaten memetik buah merah itu mengumpulkannya di keranjang yang di pegang Maria. Maria tak diam, ia ikut memetik strawberry di dekatnya.
"sudah penuh, aku taruh ke meja dulu ya"
Diaz tersenyum.
"Satu.. "
"dua... "
"tiga.. "
Maria menghitung satu persatu strawberry dalam keranjang, memisahkannya ke dalam keranjang yang jauh lebih besar di meja.
hap
Diaz datang dari belakang menarik pergelangan Maria yang memegang buah merah itu.
"Manis" bisiknya lembut di telinga Maria setelah melahap strawberry yang direbutnya.
__ADS_1
"aah, kamu membuatku terkejut"
deg
jantung Maria kembali berdegup kencang saat jarinya tak sengaja menyentuh bibir Diaz. ranum, sama seperti strawberry yang dia pegang.
"benarkah?" Diaz menyeringai jahil melihat Maria salah tingkah.
"Maria... wajah kamu merah" sambungnya kembali menggoda Maria.
"hah masa?" Maria kikuk, Tangannya cepat menutupi wajah.
Diaz tertawa kecil, saat Maria jelas salah tingkah di depannya.
"Maria... Kamu suka di sini? green House"
"Ini tempat yang indah, aku sangat menyukainya. aku sangat suka bertanam dulu waktu kecil aku sering membantu ayah, karena ayah petani. tapi ini pertama kalinya aku melihat bangunan begini untuk bertanaman" bibir kecil itu melengkung membentuk senyuman.
"Hah? tidak, tidak perlu"
"Jangan khawatir, ini belum seberapa. kalau kamu suka, aku bisa memberikan apapun yang kamu mau"
Maria melongo menatap Diaz, hari ini dia melihat sisi lain dari seorang Diaz, suami kontraknya.
"ayah adalah seorang petani, tapi dia belum pernah lihat bangunan begini. ayah... pasti sangat senang kalau lihat green house, Diaz kalau ayah sudah sembuh, apakah ayah boleh datang ke sini? lihat Green house?"
Diaz hanya diam, entah harus menjawab apa. senyumnya memudar mendengar keinginan Maria.
"tentu saja, green house ini adalah milik kamu. ayah kamu boleh ke sini kapanpun dia mau. kita akan menanam banyak strawberry dan pir untuknya di sini" Diaz kembali menggosok lembut rambut Maria.
"Terima kasih banyak" Jawab Maria senang.
"oh, aku punya satu lagi yang ingin ku berikan padamu" Diaz merogoh Saku bagian belakang celananya.
"ini"
__ADS_1
sebuah ponsel, ponsel berwarna pastel keluaran merek terbaru itu diberikan Diaz pada Maria.
"aku sedikit kesulitan jika menghubungi kamu karena kamu tidak memiliki ponsel, gunakan baik-baik ya, aku sudah menyimpan nomor ku dan Sebastian di sana jadi nanti jika perlu sesuatu langsung hubungi ke situ"
Diaz menyeringai saat melihat wajah istrinya cerah, senyuman Perempuan itu melengkung indah di wajah cantiknya. matanya berbinar saat melihat Ponsel yang di berikan Diaz.
"ini... bisa tolong ajarkan bagaimana cara pakainya? sejujurnya aku belum pernah pakai ponsel canggih begini"
Diaz tertawa kecil, dia duduk ke kursi dan menjelaskan pelan pelan menu menu dalam ponsel itu pada istrinya.
"kalau mau telpon tekan ini, terus cari nama orang yang ingin kamu telpon terus tekan ini. kalau yang ini untuk mengirim pesan singkat, kamu tinggal tekan bagian ini terus papan tombolnya akan muncul"
"kalau ini untuk apa?"
"ini galeri, kamu bisa melihat foto, video yang kamu rekam, potret dan simpan di sini"
"kosong" ucap Maria lagi saat menekan menu yang di katakan Diaz.
"tentu saja, karena kamu belum mengambil gambar apapun"
"aah begitu, aku ingin ambil gambar bagaimana caranya?" Maria kembali menatap Diaz.
"tekan menu ini, lalu tombol ini. memangnya kamu mau ambil gambar apa?"
Maria bangkit dari tempat duduk dan berdiri di belakang Diaz.
"foto kita berdua, boleh tidak?"
Diaz menyeringai, Maria hanya perempuan polos namun ia begitu menawan. entah mengapa dia selalu mampu menarik perhatiannya.
"Boleh"
cekrek
"Ah, bagus sekali" kedua ujung bibir Maria melengkung, ia tersenyum lebar melihat galeri foto di ponselnya.
__ADS_1