
Malam tiba-tiba terasa kian sunyi. Ada sebuah bintang yang menyendiri, ada bulan sinarnya terang penuh namun jarak mereka jauh. bintang itu terlihat murung, namun tetap tegar di angkasa gelap. barangkali manusia tak ada beda dari bintang itu. setiap orang harus menanggung nasibnya sendiri-sendiri, perasaannya sendiri. kalaupun kesedihan dibagi dengan orang lain, tidak serta merta kesedihan itu musnah, dan boleh demikian halnya cinta. bintang malam seperti Rena dan bulan terang bagai Maria dan Diaz.
Mobil berputar pelan, namun hati mereka berdebar-debar. mobil terus melaju, sejauh Diaz mengalihkan perhatian, ia tetap saja gelisah. jantungnya berpacu dengan cepat begitu hebatnya, seakan ada dinamo yang berputar-putar dalam dirinya. bukankah mereka sudah sedemikian dekat? ah, andai tak ada Sebastian di mobil mereka sekarang. ingin rasanya Diaz mendekap, memeluk Maria erat penuh cinta sekarang.
Mereka menaiki tangga menuju kamar, saat Sebastian sampai mengantar mereka pulang. namun sayang, Diaz sudah banyak melewatkan pekerjaan kantor hingga tak bisa langsung tidur menemani Maria di kamar, sial.
Mereka berdiri di depan kamar, Diaz mengantar Maria untuk istirahat lebih dulu.
"Kenapa jalan pulang ke rumah jadi cepat sekali" ucap Maria sedikit kecewa. Diaz hanya tersenyum kecil menatapnya penuh cinta.
"Kalau begitu aku istirahat lebih dulu" Sambungnya. Dia membuka pintu kamar lalu masuk. namun tiba-tiba...
"Aku ingin memastikan lagi..." dia langsung sumringah, badannya keluar setengah dari balik pintu.
"kalau kita berdua benar-benar telah menjadi pasangan yang saling mencintai"
"Aku tidak sedang bermimpi kan?" sambungnya.
Diaz kembali tersenyum lalu berkata, "hari ini selain bunga itu, ada hal lain yang ingin aku tunjukkan kepada kamu"
Dia mengeluarkan ponsel lalu menunjukkan layarnya ke hadapan Maria.
"Ini adalah sertifikatku sebagai salah satu pengusaha tersukses di negara ini"
dia menggeser lagi layar ponsel, "Ini adalah aku saat mendapatkan PIN ular, anggota orang-orang paling berpengaruh terhadap perekonomian negara"
__ADS_1
"dan ini adalah sertifikat seluruh aset dan kekayaan yang aku miliki sampai saat ini yang sudah aku perjuangkan selama beberapa tahun terakhir"
Maria tertegun meneguk saliva nya kasar, "Aku... kenapa kamu menunjukkan ini semua padaku? dan tidak menjawab pertanyaan ku"
"Maria... " ucap diaz berjeda, menggantung omongannya.
"Apakah semua pencapaianku itu bagus"
"Ng, bagus, bagus sekali" Maria mengangguk.
"Apakah aku tampan?"
"Ng... ng... ng" Maria kembali mengangguk namun kali ini penuh semangat.
"Pencapaianku bagus, dan aku juga tampan. aku adalah orang yang paling cocok untuk kamu. pria manapun tak bisa menggantikan posisi ku, termasuk pria sebaya kamu sekalipun, jadi jawaban yang paling akurat untuk pertanyaan kamu adalah mulai sekarang kita benar-benar menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai"
cup
"Pengalaman cinta pertamaku, mohon bantuannya"
Diaz tersenyum, kemudian mendapatkan Maria dalam dekapannya, mengangkat tubuh Maria romantis.
"Pertama dan terakhir" balasnya.
Demikianlah, akhirnya mereka saling melempar senyum, berpelukan haru. merayakan cinta dengan berbagai keharmonisan dan kehangatan api asmara yang telah berkobar hebat agar cinta mereka tetap kekal sebagaimana asa semua pasangan pada umumnya.
__ADS_1
Maria masuk ke dalam kamar, lalu Diaz naik ke lantai lebih atas menuju Ruang kerja.
Diaz masuk ke ruang kerja, menyandarkan tubuhnya di kursi empuk di belakang meja. Dia senyum-senyum hanyut dalam fantasi kesenangan bersama Maria. Tiba-tiba ponsel dalam sakunya bergetar. Lagi, notifikasi panggilan Masuk dari Sebastian.
"Ada apa Tian?" katanya saat ponsel menempel di daun telinganya.
"Bos, saya barusan dengar bahwa besok tuan Martin akan pergi ke luar kota untuk waktu yang belum bisa di pastikan, dan urusannya disini akan di ambil alih oleh nona Rena. mungkin ini penyebab nona Rena kembali. Apakah anda masih ingat rencana kita kemarin bos?"
"Baiklah, aku mengerti Tian. kita akan menemui kakek besok sebelum dia berangkat"
"Baik bos"
Diaz mematikan telpon, wajah senangnya langsung murung, tak ada lagi ruang untuk berfantasi cinta. dia memainkan pulpen memindahkannya dari satu jari ke ruas jari yang lain.
"Maria, aku jadi ketakutan. jika kamu tahu bahwa kamu adalah cucu kandung kakek Martin, pewaris sesungguhnya keluarga Owen, apakah kamu akan meninggalkan aku demi harta seperti yang di lakukan Rena dulu?" katanya dalam hati.
...****************...
Halo ini Author 🙋
Akhirnya... kita sampai di bab 50++. author sangat berterima kasih untuk semua dukungan kakak semua, kalian luar biasa kak sudah sampai di bab ini. (。>_<。)
Author juga mohon maaf sering lambat upload ᕕ( ཀ ʖ̯ ཀ)ᕗ , lain kali author akan terus berusaha lebih baik lagi ke depannya. sekian, author tidak tahu harus bilang apalagi. akhir kata, jangan lupa absen dibawah.
__ADS_1
sampai bertemu di bab selanjutnya kak,
ta ta (*´▽`)ノノ