
sehari, Usai mengikuti proses pemakaman, Diaz masuk melihat Maria duduk di ranjang kamar, kepalanya menyandar di kepala ranjang dia menghadap jendela melihat Panorama langit
“Maria...ini dari ayah untuk kamu” Diaz menyodorkan lipatan kertas yang di titipkan Brama padanya beberapa waktu yang lalu.
Maria tertegun memandangi kertas putih di lipat-lipat yang berikan Diaz padanya.
“Ini apa?” jawab Maria engan suara yang lemah.
"Buka saja"
Diberikannya kertas itu pada Maria. Kertasnya sudah tampak lusuh, mungkin karena lipatan dan sudah lama di tulis oleh Brama namun tulisan-tulisan yang ada di dalamnya masih sangat jelas untuk dibaca. kalimat demi kalimat dibacanya, semua kalimat itu tertata begitu rapih dengan goresan tulisan tangan Brama, ayahnya. Hingga ia sampai pada Kalimat terakhir.
Untuk Putri cantik ku,
saat kamu membaca ini
Mungkin ayah tak mampu lagi menikmati bintang Malam di atas atap bersama kamu lagi, di rumah kita dulu.
mungkin ayah tak mampu lagi menanamkan Ubi jalar kesukaan kamu dan membantu kamu menggalinya lagi, ingat tidak kita sering mengorek tanah memaksa memanennya hanya untuk makan malam, karena beras habis.
__ADS_1
Mungkin saat ini ayah juga tak mampu lagi berdiri di samping kamu, memeluk kamu erat saat kamu menangis, mendengarkan cerita mu saat kamu memiliki masalah.
Mungkin ayah tak mampu lagi untuk berbagi tawa dengan kamu, menikmati senyum ceria kamu di pagi hari, hangat seperti mentari yang baru terbit. menikmati mata kamu yang berbinar seperti cahaya bulan di langit yang gelap.
namun...
saat ini pula, mungkin ayah juga tak lagi merepotkan kamu, kamu tak perlu lagi bersusah payah memikirkan barang apalagi yang harus di jual hanya agar ayah mendapatkan oksigen di tempat tidur. kamu tak perlu lagi merepotkan banyak orang untuk merawat ayah.
Putriku tersayang,
ayah sangat senang, di sisa umur ayah ini masih di beri kesempatan untuk melihat kebahagiaan baru kamu, menikah dan memiliki suami yang begitu mencintai kamu dan menyayangi ayah.
Tentangku yang berjalan dalam kisah hidupmu dan Tentangmu penoreh cerita terindah dalam hidupku...
tenggelam di dalam kisah milik kita dulu
Ketahuilah, kamu akan tetap menjadi bagian terindah dalam hati ayah Karena kamu adalah mimpi yang selama ini menguatkan alasan ayah untuk tetap bertahan.
Kamu adalah bagian terindah yang takkan ayah biarkan waktu menghapus kamu dari ingatan ayah ini.
__ADS_1
Jika Besok ayah telah tiada, ayah berharap kamu akan selalu tegar melangkah dalam setiap lembar kisah baru yang akan tercipta..
Untukmu puteri kesayanganku,
Ingatlah... Bahwa pria tua ini takkan pernah sedetikpun meninggalkan kamu. Sadarilah... bahwa Hanya sebatas raga ini yang melambaikan salam perpisahan, Namun hati ayah ini takkan pernah beranjak pergi dari sisimu.
Ikatan dan perpisahan
tak pernah ayah meminta perpisahan,ayah tak ingin ada kehilangan, namun kematian tetaplah menjadi suatu takdir yang pasti, yang tidak pernah ayah pinta.
tulisan ini di tulis oleh Raga renta yang selalu terbaring di ranjang kaku rumah sakit, namun jiwanya selalu berharap mampu menemani kamu di penghujung sisa hidupnya.
...****************...
Kertas lusuh itu melunak saat air mata Maria berjatuhan di atasnya. dia terisak-isak kesulitan bernafas, saat manik manik air itu terus mengalir deras, hangat di pipi putihnya.
Diaz meraih tubuh kecil Maria, kembali memeluknya erat. tangannya melingkar di punggung istri kontraknya, tak ada kata penyemangat karena Jelas itu tak di butuhkan saat ini.
"Hiks... Diaz, ayah... " dia meremas kuat kemeja hitam Diaz hingga kusut, kini air matanya membasahi kemeja di bahu suaminya.
__ADS_1
Di malam hari ini, Langit hitam berkabut, angin berhembus meniup dedaunan pohon mapel di luar. Tak ada bintang, hanya rembulan. Namun, semakin hari bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung. Mengecil dan terus mengecil hingga hanya menjadi sabit. Air muka rembulan juga semakin pasi.
Rintihan kesedihannya di antara cahaya bulan dia menjatuhkan air mata di malam perpisahan.