
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui bahwasanya kamu telah hamil dan mengandung anaknya pria brengsek itu!" ucap Galang kepada Claudia. Saat ini mereka masih di dalam mobil. Galang mengantarkan Claudia pulang ke rumah yang dia tinggal sementara waktu selama masih menjadi istri kontrak Darius.
"Aku tetap mempertahankan janin ini, Galang. Soal kehamilan ku, aku mohon, kamu jangan memberitahukan kepada siapapun termasuk pada tuan Darius. Karena jika dia mengetahui bahwasanya kalau aku hamil, pasti tuan Darius menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan ini," ucap Claudia. Galang menengok ke arah Claudia.
"Hah, apa? Benar-benar pria brengsek! Mau enaknya saja. Mau menggauli tapi tidak mau berisiko jika pasangan nya hamil. Benar-benar laki-laki brengsek tidak punya akhlak," ucap Galang penuh amarah.
"Ini sudah menjadi kesepakatan kami, Galang. Dan akulah yang salah dalam hal ini. Kenapa aku lupa minum obat pencegah kehamilan selama beberapa hari. Sedangkan saat itu aku memasuki masa subur," jelas Claudia.
"Kalau begitu! Setelah kamu lepas dari pria brengsek itu, ijinkan aku menikahi kamu, Claudia! Aku janji tidak akan menyentuh kamu sampai kamu melahirkan bayi itu. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kehamilan kamu, Claudia. Aku tidak ingin kamu menanggung semuanya itu seorang diri," ucap Galang serius.
"Galang, terimakasih atas semua niat baik kamu. Tapi aku mohon, kamu jangan menikahi aku karena kasihan terhadap aku. Aku bisa menanggung semua nya sendiri kok," sahut Claudia.
"Claudia! Aku tulus mencintai kamu! Dan aku akan menunggu saat kamu lepas dari ikatan pria brengsek itu! Datanglah kepada ku dan aku dengan tangan terbuka menerima kamu, Claudia!" kata Galang sambil menyetir mobilnya.
Jalanan sore itu cukup lenggang. Galang mengantarkan Claudia sampai di mansion milik Darius. Saat sampai di dekat mansion itu, Galang menghentikan dan menepikan mobilnya. Kini Galang melihat ke arah Claudia tangan itu diraihnya.
"Ingat Claudia! Kalau ada apa-apa, kamu harus menghubungi aku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu dan juga janin yang ada di rahim kamu," kata Galang seraya mencium punggung tangan Claudia.
"Galang, aku masuk ke dalam yah!" sahut Claudia.
"Hati-hati! Jika pria brengsek itu bersikap kasar dengan kamu, kamu bisa pergi dari rumah itu," kata Galang.
"Tidak, kamu jangan khawatir! Tuan Darius selalu baik dan lembut kepada ku," ucap Claudia. Pintu samping mobil itu dibuka dan Claudia turun dari mobil Galang. Tanpa menengok ke belakang lagi, Claudia melangkah menuju gerbang di mansion itu. Penjaga gerbang yang sudah mengenal Claudia segera membukakan pintu kecil di gerbang itu.
"Nyonya muda?" hormat seorang pelayan yang melihat Claudia. Claudia dengan wajah pucat bersikap seperti tidak biasa menutupi rasa letih dan kurang enak di badannya.
__ADS_1
Tanpa halangan, Claudia melenggang masuk menuju ke anak tangga untuk ke kamarnya. Namun sebelum dirinya tiba di kamarnya, tangannya ditarik oleh seseorang hingga tenggelam dalam pelukan tubuh kekar yang sudah ia kenal.
"Eh, em tuan muda Darius!?" gumam Claudia.
"Dari mana saja kamu, hem? Kamu bau laki-laki!" ucap Darius seraya mengendus-endus hidungnya di dekat Claudia. Claudia sampai memejamkan matanya.
"Ah, aku, aku tadi bersama Hilda jalan," ucap Claudia bohong.
"Lalu siapa yang mengantarkan kamu pulang?" tanya Darius.
"Sopir taksi," jawab Claudia cepat.
"Di mana ponsel kamu? Kenapa tidak mengangkat panggilan ku, hem?" ucap Darius.
"Cepat bersihkan tubuh kamu! Satu jam lagi aku akan mengajak kamu makan malam di luar!" perintah Darius.
"Hah, makan malam di luar? Non Vita? Kenapa aku?" sahut Claudia. Darius menyipitkan bola matanya.
"Kenapa? Aku berhak menentukan dan mengajak wanita manapun untuk makan malam bersama dengan ku," kata Darius.
"Eh?? Em, baik, baik tuan!" sahut Claudia. Darius melepaskan pelukan nya. Kini Claudia bergegas berlari menuju ke kamarnya. Dia benar-benar menjadi takut jika sudah berdekatan dengan Darius. Tentu saja, Claudia takut jika dirinya tiba-tiba mual dan kembali pusing karena masih ngidam karena kehamilan di bulan awalnya.
Claudia mengatur detak jantung nya yang masih tidak karuan jika berdekatan dengan Darius. Benar,Claudia mulai menyukai laki-laki itu yang di bilang Galang adalah laki-laki brengsek. Tapi bagi Claudia, di matanya Darius pria yang sempurna.
"Di mana Vita, kekasih tuan Darius? Kenapa mengajakku makan malam bersama? Bagaimana kalau Vita, kekasihnya itu melihat aku makan malam bersama dengan tuan Darius?" gumam Claudia.
__ADS_1
Claudia segera mengguyur seluruh badannya dengan air shower di kamar mandi itu. Dia kini sudah polos membersihkan seluruh tubuh nya. Seharian ini rasanya cukup gerah dan lengket karena di luar rumah.
"Semoga saja, saat di dekat dengan tuan Darius, aku tidak merasakan mual dan muntah-muntah lagi," gumam Claudia.
"Nak, kamu jangan nakal yah! Ibu akan berkencan dan makan malam bersama ayah kamu. Jangan bikin ibu muntah-muntah dan mual yah," ucap Claudia seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Claudia mulai berdandan setelah menyelesaikan mandi nya. Bolak-balik dirinya mencoba gaun malam pemberian Darius saat itu. Beberapa perhiasan dari Darius pun mulai Claudia kenakan. Claudia melihat bayangan dirinya melalui pantulan kaca.
Claudia tersenyum saat melihat dirinya. Gaun pink dengan perhiasan yang melingkar di lehernya menambah keanggunan Claudia. Tiba-tiba saja, suara langkah kaki masuk ke dalam kamar Claudia tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Cantik sekali kamu, Claudia!" ucap Darius seraya memeluk pinggang Claudia. Sukses jantung Claudia kembali berdetak dengan kencang. Gugup yang dirasakan oleh Claudia saat ini. Darius dengan nakal mulai menciumi tengkuk leher jenjang Claudia.
"Hem, wangi sekali! Aku suka dengan aroma tubuhmu ini yang bikin candu. Kenapa ini sangat berbeda dengan Vita," ucap Darius pelan.
Darius cukup lama menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Claudia. Dia bahkan menyesapnya begitu lama. Tentu saja hal itu membuat Claudia berdiri bulu roma nya. Darius membalikan tubuh Claudia hingga kini mereka saling berhadap-hadapan. Ke-dua netra mereka bertemu lalu Darius menahan tengkuk itu lalu mencium bibir merah Claudia hingga ciuman panjang itu terjadi. Awalnya Claudia tidak membalasnya, namun karena Darius sedikit menggigit bibir Claudia pelan, akhirnya Claudia membuka mulutnya hingga pertukaran saliva itupun terjalin sudah.
"Tuan Darius! Bukankah kita akan makan malam bersama?" Claudia berusaha mengingatkan Darius setelah sedikit mendorong tubuh Darius supaya melepaskan ciumannya.
"Hem, baiklah! Setelah kita makan malam bersama. Aku ingin kita menghabiskan malam panjang bersama," bisik Darius seraya mengusap bibir Claudia.
"Eh, em menghabiskan malam panjang bersama? Bagaimana dengan non Vita?' sahut Claudia.
" Jangan pikirkan dia! Dia tidak akan datang malam ini karena sedang ada pemotretan di luar kota," kata Darius seraya tersenyum menyeringai.
"Eh?? Pantas saja, aku jadi ban serep nya," batin Claudia dengan cemberut bibir nya.
__ADS_1