ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
1. Ribut hamil.


__ADS_3

Dooooorr..


"Aaaaaaawwhh.."


Terdengar suara mengerang dan memercing di belakang papan tembak. Bang Ranjha menurunkan senapannya.


"Siapa disana?? Bukankah kawasan ini sudah di sterilkan??" Bang Ranjha menegur anggotanya.


"Ijin Danton, ada seorang gadis terkena tembak." Lapor Prada Ariel.


"Yang benar kamu??? Bagaimana bisa ada gadis masuk kawasan lapangan tembak??"


"Siap.. tidak tau Danton."


"Ceroboh kalian..!!!" Bang Ranjha berjalan cepat mendatangi lokasi kejadian.


Bersamaan dengan itu rombongan Panglima datang untuk meninjau acara latihan menembak di Batalyon.


"Ada apa ramai disana?" Tanya Panglima.


"Entahlah Bang, mungkin ada Bazar makanan." Jawab Pak Rojaz.


"Eehh bukan Jaz, itu ada ambulans." Kata Pak Renash.


Mata Pak Rojaz membulat besar saat menyadari putrinya tadi pamit untuk berjalan-jalan karena bosan. "Kinan Bang, Kinaaaaann..!!!!!!!"


"Haaahh.. ponakanku????" Pak Renash ikut berlari panik.


Ayah Rojaz syok melihat Kinan sudah berada dalam gendongan Lettu ( senior ) Riasat Ranjha.


"Lettu Riasat.. apa kamu yang menembak putri saya??" Bentak Papa Rojaz.


"Siap salah Dan..!!"


Jelas saja Ayah Rojaz berang. "Turunkan putri saya.. enak saja kamu..!!"


"Ijin.. tidak bisa Dan. Saya menekan dada kirinya dengan dada saya...!!" Tolak Bang Ranjha.


"Apaaaa??? Gila kamu..!!" Bentak Ayah Rojaz.

__ADS_1


"Jaaz.. jangan emosi. Yang penting darahnya nggak ngalir lagi." Kata Pak Renash.


Ayah Rojaz menggaruk kepalanya. "Kalau Mamanya tau bisa ngamuk Bang. Jangan sampai tau lah, takut kepikiran.. lagi hamil muda." Bisik Ayah Rojaz.


Pak Renash melotot. Putra juniornya saja sudah mau punya anak. Bisa-bisanya juniornya itu mau punya anak lagi. "Program Jaz?" Bisik Pak Renash.


"Nggak Bang. Rhena lupa minum pil, aku beli helm dadakan tapi nggak tau kalau ternyata helmnya bocor."


Entah saat ini Pak Renash harus tertawa atau sedih yang jelas dengan begini akhirnya juniornya dan Rhena punya keterikatan kuat karena akan memiliki anak sendiri hasil dari pernikahan mereka berdua. Selama ini memang keduanya sepakat untuk tidak memiliki momongan. Tapi inilah kuasa Tuhan yang lebih mengerti jalan terbaik untuk kehidupan mereka berdua.


Sejak meninggalnya adik kandungnya. ( Armayudha / akun NaraY ) Pak Renash sudah bisa menerima kenyataan atas wafatnya sang adik dan kini Ayah Rojaz sudah bagai adik kandung baginya.


"Ya sudah. Di jaga, di terima rejeki dari Allah." Pak Renash menepuk bahu Ayah Rojaz.


Sesaat kemudian Ayah Rojaz baru tersadar kalau Letnan Ranjha sudah membawa putrinya entah kemana.


"Heeehh.. Letnan Sableng.. tunggu..!!!!!!"


...


Ayah Rojaz baru bisa bernafas lega saat mendengar putrinya dalam keadaan baik-baik saja. Luka di sekitar bahunya juga sudah teratasi. Kini pandangan matanya hanya tertuju pada satu titik yaitu Letnan Ranjha yang sedang berdiri di hadapannya.


"Kenapa pelurumu bisa melesat sampai menembak putri saya????" Bentak Ayah Rojaz.


Ayah Ojaz berdehem mempertahankan wibawanya karena sedang berbicara dengan anggotanya. "Jangan macam-macam kamu sama putri saya." Bisik Ayah Rojaz. Hanya matanya saja yang berani melotot tapi tidak dengan suaranya yang selembut tahu Sumedang.


"Siaap.. tidak berani..!!!" Jawab Bang Ranjha.


"Eegghh.. Ayaaaah..!!" Kinan menggeliat mencari ayahnya. Memang sejak bayi Kinan sangat dekat dengan Ayah Rojaz, berbeda dengan Bang Katon yang lebih dekat dengan Mama Rhena.


"Tung kintang kintung, Denok deblong anak ayah, sayangnya Ayah sudah bangun nak?? Mau apa sayang??" Ayah Rojaz sangat menyayangi Kinan sampai mencabut selembar uang warna merah untuk putrinya itu.


"Mau jalan-jalan sama Ayah." Jawab Kinan bersuara manja khas wanita yang sedang ingin disayang.


Bang Ranjha melotot melihat Kinan. Gadis yang sudah bisa di bilang dewasa tapi masih sangat manja dengan Papanya.


"Yaaahh.. Mama muaal.." rengek Mama Rhena.


'Astagfirullah hal adzim, keluarga macam apa ini?? Ibu Rhena hamil muda, masa hamil saja sampai semanja itu? Ini lagi anaknya begini. Dosa apa punya istri rewel begini?'

__ADS_1


Bang Ranjha membatin bingung tak tau harus bagaimana ada dua wanita yang sedang manja dan keduanya ingin di sayang.


Ayah Rojaz selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya termasuk dengan soal kasih sayang, tidak sedikitpun dirinya lalai dalam memberi kasih sayang.


"Mamamu sudah rewel ndhuk, Ayah lihat Mama dulu ya..!!" Jelas Ayah Rojaz lebih memilih istri yang begitu di cintainya itu meskipun sayangnya pada Kinan juga tak kalah besar.


Bang Ranjha yang sudah gemas dengan gadis manja ini akhirnya tak tahan lagi.


"Mamanya Mbak Kinan sedang hamil, seharusnya Mbak Kinan bisa lebih pengertian Mama." Kata Bang Ranjha.


Sungguh kaget hati Kinan karena dirinya baru tau perihal kehamilan Mamanya. "Itu benar Ma?? Mama hamil????" Tanya Kinan tidak terima.


"Letnan Riasaaaat.. siapa yang memberimu ijin untuk ikut campur rumah tangga saya..!! Lancang kamu..!!!!" Ayah Rojaz berang dengan kelancangan anggotanya.


"Siap salah Dan..!!"


"Nggak mau, Kinan nggak mau punya adiiiikk..!!!" Teriak Kinan.


"Saya nggak mau tau ya Letnan...!! Tenangkan putri saya..!!" Perintah Ayah Rojaz.


"Siap.. laksanakan..!!" Bang Ranjha segera menghampiri Kinan.


Bang Ranjha berdiri di samping ranjang Kinan tapi bingung harus berbuat apa.


"Mau apa Om disini??"


"Siap.. saya mau menenangkan Mbak Kinan." Jawab Bang Ranjha.


"Kinan nggak mau punya adik bayi.."


"Kenapa nggak mau, bayi itu adalah keinginan suami istri. Lagipula kehamilan Mamanya Mbak Kinan pasti adalah kesepakatan dari Ayah dan Mama Mbak Kinan." Bang Ranjha mencoba mencoba memberikan pengertian pada putri atasannya itu. "Jangan membebani pikiran ibu hamil, ibu hamil pikirannya harus tenang dan rileks."


"Nggak pokoknya Kinan nggak mau hamil, nggak suka hamil." Kinan menutup telinganya dengan kesal.


Bang Ranjha mencolek hidung Kinan dengan gemas saat pandangan Ayah Rojaz tidak mengarah padanya. "Memangnya saya ngajak kamu hamil?? Apa mau coba biar tau rasanya??"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2