
“Susan nggak izin ke aku buat bawa Gala hari ini.”
Pernyataan Aiman itu sudah cukup untuk membuatku kesal. Aku punya alasan kuat untuk melabrak wanita pembohong itu. Tapi Aiman memilih untuk berdamai. Ia tak mau membuat gaduh. Alhasil, Aiman mengajakku bertemu dengan Susan untuk menjemput Gala setelah pria itu menelpon mantan istrinya tentang keberadaan mereka saat ini.
“Enggak. Aku jemput Gala sekarang. Enggak usah. Humm. Aku ke sana,” tukas Aiman yang sejak sepuluh menit yang lalu bicara dengan si nenek lampir itu.
“Apa katanya?”
“Gala dibawa ke Bandung –“
“Hah? Gala belum makan. Kenapa dibawa jauh-jauh?” tanyaku khawatir, melebihi khawatirnya aku saat ketahuan di razia waktu itu.
Aku juga nggak ngerti kenapa bisa kayak gini. Yang jelas aku sangat sayang sama Gala karena dia juga selalu bilang seperti itu setiap kali kutemani dia tidur malam.
“Maksud Susan mau ketemuin Gala sama neneknya yang di sana. Kangen katanya. Gala udah makan kok. Sekarang kita jemput dia ke sana.”
Sebuah alasan klasik.
“Oke! Kita susul ke sana.”
Saat ini, aku yang berapi-api ingin ketemu sama Gala. Soal melabrak, mungkin kupikirkan nanti. Sedang serius memikirkan Gala, aku tak sengaja memperhatikan Aiman yang ternyata sedang menatapku sambil menyetir. Aiman yang sudah setengah hari di kantor, ternyata masih sama cakepnya dengan Aiman pagi tadi. Melihatnya berseragam seperti ini, malah membuatku terlihat seperti remaja yang tertangkap basah oleh polisi dan sekarang tengah diboyong ke kantor untuk memberikan keterangan.
“Kenapa liatin aku kayak gitu?”
Aiman malah menaikkan sudut bibirnya mendengar pertanyaanku.
“Enggak. Cuma liatin doang. Jangan ge-er.”
Cih dasar! Padahal sudah kupuji dia beberapa hari ini, tapi balasannya tetap saja sama. Tukang nyinyir!
“Siapa yang ge-er? Perasaan!” ketusku.
Tapi ada bagusnya sih seperti ini. Aku dan Aiman tidak perlu merasa canggung seperti tadi pagi. Tapi kayaknya yang canggung itu cuma aku doang deh. Buktinya Aiman terlihat santai saja tanpa ada tersipu-sipunya.
Aku jadi kepikiran, apa aku memang seorang perempuan yang sama sekali enggak menarik di mata laki-laki kayak dia?
**
Dari Jakarta ke Bandung itu jauh loh!
Aku mati kutu karena berada di dalam mobil selama hampir dua jam. Untung saja aku tidak mabuk daratan. Kalau enggak, mungkin Aiman akan menurunkanku di rest area.
Masuk ke kota Bandung, aku tiba-tiba merasa segar bugar. Kota yang saat ini tengah dipimpin oleh pak RK itu benar-benar kota yang patut dikunjungi dalam situs wisata Indonesia. Karena memang sebagus itu!
Melewati kota besarnya, kami mulai menuju ke perkampungannya. Aku terkejut karena ternyata tak terlalu berbeda jauh dengan rumah-rumah di kampungku, Medan. Melewati jalanan berbatu, gunung serta hutannya, akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana. Rumah yang tak berpagar karena cukup ditanami oleh perpohonan yang cukup asri.
Melihat ini, aku jadi teringat dengan rumah almarhum nenek yang juga sama asrinya seperti ini. Sayangnya karena urusan pembagian harta warisan, rumah nenek sekarang sudah rata dengan tanah dan dibagi-bagikan. Jadinya, halaman asri itupun sudah tak ada lagi karena sudah diisi oleh rumah-rumah baru.
Sayang sekali. Tempatku menghabiskan masa kecil sudah tidak ada lagi. Sekarang aku hanya tinggal mengenangnya saja di dalam pikiranku sampai akhir hayat kelak.
Ah! Kenapa jadi mellow begini?
“Kamu nggak turun?”
Tadinya aku sudah angkat kaki mau keluar dari mobil, tapi kemudian kuurungkan karena aku tak punya kepentingan untuk bertemu mantan mertua Aiman itu. Bagaimana kalau nanti aku dikeroyok? Hih!
__ADS_1
“Enggak ah, kamu aja.”
Aiman bersandar di atap jendela mobilku. Aiman terlihat begitu dekat sampai aku bisa mencium aroma parfum musknya yang memabukkan pikiranku itu.
“Kenapa?”
Pakai tanya kenapa segala!
“Ya kan aku nggak ada sangkut pautnya sama mereka. Tadi aja Susan udah bête banget ketemu sama aku. Apalagi ibunya, kan?”
“Dia keki karena kamu istri baruku.”
“Ya iyalah. Pasti hatinya panas,” kekehku yang juga diikuti oleh Aiman pula.
Aiman kembali ke topik pembicaraan, “Enggak apa-apa. Anggap saja ini tugas tambahan.”
Aku melirik om-om ini sinis. Mau apa lagi dia? Jangan seenaknya!
“Tugas apa?”
“Tugas kamu sebagai ibu sambungnya Gala. Aku juga ingin kasih tahu mereka bahwa sekarang nggak bisa lagi sesuka hati seperti ini. Karena sudah ada kamu, ibunya.”
Sebenarnya aku malas berurusan seperti ini. Tapi demi Gala, bocah yang sudah kusayang, serta aksi balas dendamku pada nek lampir yang sesuka hatinya tadi, akupun setuju untuk dikenalkan.
Kami pun memasuki rumah sederhana itu. Dari luar aku bisa dengar suara tawa Gala yang sepertinya tengah bermain dengan seseorang. Baru saja Aiman hendak memberi salam, kami dikejutkan dengan kemunculan Susan yang kali ini tak terlihat glamor seperti yang kulihat di sekolah.
Susan terlihat seperti perempuan desa yang tidak banyak tingkah. Mengenakan stelan baju tidur dengan motif karakter kartun dan sedang membawa bakul berisi ubi yang belum diolah. Mereka saling beradu pandang seperti di film-film India. Mungkin sedang mengenang masa lalu saat mereka masih bersama.
Aku sengaja berdeham untuk keduanya. Susan lagi-lagi melirikku sinis setelah menyadari bahwa ada aku di sini.
“Kok kamu nggak bilang kalau bawa dia kemari?”
Aku ikut mengeryitkan dahi seperti dirinya. Memangnya salah yah aku ikut? Mungkin salah baginya yang sepertinya punya niat terselubung kenapa suruh Aiman datang ke sini.
“Gala mana?” tanya Aiman mengalihkan pembicaraan.
Susan terlihat kesal. Itu terlihat jelas bagaimana mantan istri Aiman itu meletakkan bakulnya dengan cara dibanting.
“Apa nggak bisa sebentar aja aku berlama-lama sama Gala? Aku udah lama nggak ketemu sama dia waktu kamu di Medan, mas.”
“Gala udah makan?”
Aiman masih tak meladeni pertanyaan Susan itu. Membuatku ingin tertawa.
Yah mungkin karena Aiman ingin cepat-cepat pergi. Beliau kan baru dilantik dan menjalankan tugas pertama. Masa iya bolos kayak gini?
“Kamu pikir aku akan lalai kayak dulu?”
“Aku berterima kasih kalau kamu sudah tahu peranmu. Tapi aku nggak punya banyak waktu. Aku mesti balik ke Jakarta karena masih ada kerjaan.”
“Ya kalau gitu biar Gala aku yang urus.”
Susan sepertinya masih belum menyerah untuk menarik perhatian Aiman. Tapi yang diajak bicara juga tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
Wah! Salut sama om yang satu ini. Pantas saja dia cepat naik pangkat karena sikapnya yang tegas itu.
“Masih belum. Sekarang aja kamu sudah melanggar perjanjian yang sudah disahkan pengadilan. Kamu harus izin sama aku untuk bawa Gala. Tapi nyatanya apa? Kamu nggak melakukan tanggung jawab sekecil itu.”
“Itu karena kamu terus nolak bicara sama aku!”
Susan melirikku sekilas lalu melanjutkan pembicaraan seru ini. Ternyata benar. Ia sengaja melanggar perjanjian ya karena ingin bicara dengan Aiman. Mencari perhatian dengan mantan suaminya yang pernah ia tinggalkan dulu.
“Memangnya perempuan muda ini jauh lebih baik dari aku? Huh? Tadi di sekolah aja dia ngomongnya kasar dan nggak ada sopan santunnya. Gimana bisa dia jadi pengganti aku yang jelas-jelas ibu kandungnya?”
Susan mulai menyerangku!
Memang sih, kadang mulutku kurang bisa di filter. Tapi aku tulus kok jagain Gala. Aku nggak pernah ngeluh buat jagain Gala. Malah lebih banyak aku mengeluh tentang sikap Aiman di rumah.
“Mela seperti itu karena dia khawatir sama Gala. Pagi mereka bersama dan tiba-tiba Gala ngilang karena kamu bawa Gala tanpa seizin dia.”
“Aku nggak perlu izin sama dia! Aku kan mamanya Gala!”
“Tapi Mela itu istri aku. Mamanya Gala juga. Dia bukan orang asing. Mela punya otoritas yang sama kayak aku.”
Checkmate!
Nek lampir langsung mati kutu. Puas! Aku puas banget dengernya!
Dari dalam, Gala berlari keluar memeluk papanya. Di belakang Susan juga ada seorang ibu tua yang kuasumsikan adalah mamanya si Susan ini. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua. Melihat alisnya yang tajam itu, menampakkan sekali kalau mereka berdua ini sepertinya judes alias jutek.
“Memangnya dia sudah benar-benar sesayang itu sama cucuku? Kalian kan baru menikah beberapa hari. Gimana kalau istri baru kamu itu nggak tulus jagain Gala? Apapun alasannya, dia itu ibu tiri juga kan? Pasti nggak tulus,” oceh ibunya pula.
Tuhkan bener apa kataku. Mereka sama sifatnya.
Hatiku rasanya panas sekali mendengarnya. Ingin kubalas kata-kata ibu tersebut, tapi Aiman melarangnya dengan membuatku untuk tidak maju berhadapan dengan mereka berdua yang sudah terlihat termakan oleh emosi.
“Dari sikap Gala juga bisa terlihat kok buk,” jawab Aiman.
Dan benar saja, Gala tiba-tiba minta digendong olehku. Ia merengek padaku karena mulai mengantuk.
“Ma….pulang yuk.”
Astaga! Anak ini memenangkan perdebatan ini. Aiman tersenyum puas sekali sambil mengelus kepala Gala yang sedang bersandar di bahuku.
“Iya. Kita pulang yah.”
Susan semakin panas. Hareudang mah kalau kata orang sunda. Ibunya juga sama. Sama-sama melirikku sinis tapi kuabaikan saja dengan diam-diam mulai menjauh dari pembicaraan ini.
“Kami pamit yah. Maaf nggak bisa lama-lama.”
“Mas!”
Aiman menoleh karena Susan memanggil, “Aku masih boleh ketemu Gala kan?”
Aiman menganggukkan kepalanya, “Boleh. Tapi sekarang juga perlu izin dari Mela, yah.”
Susan diam tak berkomentar. Aku sudah senyum-senyum sendiri di dalam mobil. Sesampainya di mobil, Aiman melirikku dengan sebuah senyuman pula. Tak lama Aiman menunjukkan telapak tangannya ke arahku.
__ADS_1
Aku bingung untuk apa. Jadi kuberikan tos singkat padanya. Gerakan selanjutnya tangan dikepal lalu saling meninju. Ini sih salam anak punk. Aku dan Aiman pun saling melontarkan tawa karena sudah berhasil membungkam mantan istri dan mertuanya tadi.