ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
2. Belajar mengenal.


__ADS_3

Malam itu Letda Gumarang ( Ghema ) dan Letda Gempar datang ke rumah sakit. Jauh-jauh mereka datang demi melihat adik tercinta yang mendapatkan musibah luka tembak.


"Kenapa bisa tertembak?" Tanya Bang Gumarang.


"Siapa?? Siapa manusia yang berani menembakmu dengan tak tau aturan???" Tanya Bang Gempar memang selalu membuat suasana menjadi gempar.


"Namanya Riasat, apa junior Abang?" Kinan mulai memastikan.


"Sumpah lu dek??" Mata Bang gempar sampai melotot.


"Iya Bang, memangnya kenapa?"


"Duuuhh.. bahaya...!!"


"Beliau senior, kami nggak mungkin menegur. Tapi mana mungkin Bang Ranjha seceroboh itu, pasti kamu nih yang berperkara" tebak Bang Gumarang.


"Nggak, Kinan lagi jalan tiba-tiba di tembak." Alasan Kinan berniat membela diri.


"Benar Rang, nggak mungkin Kinan masuk ke lapangan tembak. Mungkin Bang Ranjha mabuk lem." Kata Bang Gempar.


"Mabuk lem matamu kuwi. Mana ada saya mabuk lem." Bentak Bang Ranjha kesal. "Kalau saya mau mabuk, minimal vod*a."


"Siap salah Abang."


"Siap salah..!!" Kedua Abang menegakkan punggung memberi penghormatan pada senior killernya.


Pandangan mata Bang Ranjha mengarah pada infus Kinan yang sudah habis. Tanpa banyak bicara dan basa-basi dirinya sendiri yang mengawasi infus Kinan.


"Besok sudah boleh pulang." Kata Bang Ranjha.


"Sekarang saja bisa nggak? Badan Kinan gatal tidur di rumah sakit ini." Keluh Kinan yang memang hidup bak nona besar di tangan Ayah Rojaz.


"Kau dengar ya, rumah sakit tentara ini sangat steril, jaga asal cakap saja kau Non. Nggak bisa, visit dokter baru besok. Kalau ada apa-apa sama dadamu bagaimana?" Tolak Bang Ranjha


"Sudah sembuh." Jawab Kinan malas melihat wajah datar Bang Ranjha yang menyebalkan. Senyum pun sama sekali tidak nampak di wajahnya.

__ADS_1


"Mana lihat..!!" Bang Ranjha melirik ke bagian dada Kinan.


"Oooomm.. iihh Om mesum banget sih." Protes Kinan sembari menyilangkan tangan menutup dadanya.


"Halaaahh, masih bagus juga tempurung kelapa. Itu ( tunjuk Bang Ranjha pada dada Kinan ), besarnya seperti tatakan gelas yang di balik. Papras nggak berbentuk." Ledek Bang Ranjha.


Bang Gumarang menunduk tersenyum penuh arti sedangkan reaksi Bang Gempar nyaris sama dengan Kinan karena mereka berdua sejak kecil sudah lumayan dekat.


"Apaaaaa??? Papras Om bilang??? Kalau Kinan buka sekarang, Om bisa mimisan.." ucap Kinan dan Bang Gempar mengangguk mantap seakan sedang mengesahkan unjuk rasa. Tak banyak pikir Kinan menurunkan belahan dadanya yang berukuran lumayan mantap untuk gadis seusianya.


Seketika Bang Ranjha membuang pandangannya yang tak sengaja mengarah pada Bang Gumarang dengan mata terpejam. "Nggak, tutup sekarang juga.. saya nggak selera, banyak daki."


Bang Gumarang menunduk tersenyum, meskipun dirinya belum banyak mendengar tentang seniornya itu, tapi gaung dan kinerja Bang Ranjha sudah tersebar ke seluruh alam prajurit. Sebagai seorang pria tentu saja Bang Gumarang tau, itu adalah sinyal kesopanan seorang pria dalam menatap lawan jenisnya. Kata mesum yang terlontar dari bibirnya hanya sekedar kata.


"Sudah, tidur semalam lagi disini juga nggak apa-apa. Nanti Abang temani." Bujuk Bang Gumarang.


"Nggak mau, Kinan mau sama Ayah." Kata Kinan yang memang sulit lepas dari Ayah Rojaz.


"Mama lagi hamil dek, Mama juga butuh perhatian Ayah." Bang Gumarang kembali membujuk.


"Ya sudah kalau begitu Kinan hamil saja..!!" Celetuk Kinan tanpa tedeng aling-aling.


"Om Ranjha kali."


"Uhuuukk.." Bang Ranjha syok sampai terbatuk, ia menepuk dadanya yang tiba-tiba serasa penuh terisi angin.


"Huuusshh.. ngawur aja kamu kalau bicara..!!" Tegur keras Bang Gumarang, selain merasa malu, ucap Kinan juga tidak sopan pada seniornya.


"Nggak apa-apa. Kalau dia mau nanti Abang bereskan." Jawab Bang Ranjha tak kalah menyebalkan.


Bang Gempar menepuk bahu Bang Ranjha. "Bang.. Abang.. yang lain saja ya Bang, Kinan jatah saya."


"Nggak ada jatah-jatahan, kalau malaikat cupid nyasarin panah ke saya ya Kinan punya saya." Jawab Bang Ranjha seperti biasa dengan sifat kakunya yang luar biasa.


Tak ada yang berani membantah ucap next king cobra yang hobby menyembur lawan bicaranya.

__ADS_1


***


Menjelang subuh Kinan merasa kedinginan karena selimutnya tersingkap. Saat itu Bang Ranjha masih terjaga. Matanya tidak bisa terpejam, sifatnya memang garang tapi dirinya juga punya perasaan tidak tega juga melihat seorang wanita terbaring lemah di ranjang apalagi semua juga ada andil dari kesalahannya.


Bang Ranjha beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah ranjang Kinan. Di lihatnya tubuh Kinan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangan kekarnya menutup dress Kinan yang tersingkap lalu menutup pakaian pada bagian belahan dada.


Pria mana yang tidak bereaksi saat melihat tubuh molek seorang wanita yang putih, bersih, mulus tiada noda setitik pun.


"Andai saja kamu bagian do'a di sepertiga malamku.. wahai bidadari bumi. Tapi mungkin harap tinggal lah harap, mimpi tinggal lah mimpi. Putri seorang pejabat tinggi pasti hanya mengutamakan materi. Jika materi ku tak cukup memenuhi inginmu, maka kau pun akan membuang ku jauh.. jauh ke dasar jurang. Kelak.. siapa trah Adam yang akan mempersunting mu?" Gumam Bang Ranjha. Punggung jarinya ingin menyentuh pipi Kinan tapi ia mengurungkan niatnya. "Aahh.. aku bicara apa? Sepertinya aku sudah sangat lelah seharian ini sampai bicara tidak jelas."


Bang Ranjha kembali berjalan menuju sofa kemudian duduk dan memejamkan matanya.


...


Kinan tertegun melihat duduk di ranjangnya sembari meneguk jus. Sesekali bola matanya menyisir sekitar area kamar.


Tak lama sang Papa masuk ke dalam kamar rawat di dampingi Bang Ranjha.


"Cintanya Ayah. Sudah bangun sayang??" Sapa Ayah Rojaz.


"Sudah daritadi donk yah." Jawabnya lemas tidak seperti biasanya.


"Ada apa? Kenapa anak ayah murung?"


"Yah, sepertinya rumah sakit ini tidak beres. Semalam seperti ada yang membuka tutup piyama Kinan lho." Kata Kinan melapor pada sang Papa.


"Masa?? Rasanya berupa orang atau makhluk halus???" Tanya Ayah Rojaz penasaran.


"Hmmm.. makhluk halus pa. Biasanya yang suka mesum khan setan." Jawab Kinan.


Ayah Rojaz terdiam dan menilai dengan serius. Lalu menatap wajah ketiga pria yang ada di ruangan kemudian pandangan terakhirnya berhenti pada Bang Ranjha. "Siapa yang tidak tidur?"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2