
Padadasarnya terkadang orang menyakiti kita sekali, namun sering kali kita dapati bahwasannya kitalah yang sering menyakiti diri kita berkali-kali. Dengan terus mengingat-ingat sumber kesakitan itu sendiri.
Hampir dua jam Gandi gelisah menunggu istrinya terjaga pasca oprasi kecil, guna membenahi luka oprasi yang robek akibat benturan. Hatinya semakin nyeri saat melihat bekas sayatan akibat oprasi yang terpampang sangat jelas. Bagaimana bisa dirinya dengan gampang menyalahlan gadisnya.
Mata bening yang baru terbuka, terus menatap ruangan sekelilingnya. Ruangan bernuansa putih, dengan aroma khas obat-obatan dan deksinfektan yang menyeruak di indra penciumannya.
"Sayang kamu udah bangun"
Rara tak menjawab pertanyaan suaminya. Gadis itu membisu tanpa sedikitpun berniat membuka mulutnya. Gadis itu memiliki jawabannya sendiri tentang kebisuannya.
"Syukurlah. Alhamdulillah, kata dokter luka bekas oprasimu, tidak menghawatirkan, dari hasil USG yang robek hanya bagian kulit luar aja, tapi semuanya sudah ditangani dokter dengan baik, kamu harus membatasi aktivitasmu selama empat sampai emam bulan. Kamu gak boleh lari-lari lagi, apa lagi mengangkat beban berat."
Jelas Gandi pada istrinya.
"Dek, kenapa diam? kamu masih marah sama mas?"
Rara tersenyum hambar ke arah Gandi, sepertinya gadis itu masih menyimpan luka di hatinya. Sesekali jemarinya ia gunakan untuk menghapus cairan bening, yang sedari tadi gadis itu tahan. Gandi melihat istrinya miris. Dadanya mulai berdenyut nyeri, Gandi kembali menyesali semua ucapannya yang telah menyakiti hati istrinya.
Ia raih jemari gadis itu dengan lembut. Pria itu berharap mendapat pengampunan atas segala kekhilafannya.
"Maaf, maafkan mas"
Ucapnya berkali-kali.
Namun masih tetap sama, Rara masih setia dengan kebisuannya, matanya semakin berkabut, menahan deraian lara yang masih mengimpit hatinnya.
Ucapan sang suami, terus terngiyang di indra pendengarannya.
"Katakan sesuatu dek, jangan diammin mas seperti ini"
Pintanya mulai putus asa.
Tangan lembut itu mengusap pipinya sendiri untuk menyeka air matanya. Dengan jiwa yang lelah Rara perlahan memirinkan sedikit punggungnya untuk membelakangi Gandi si om suami.
Pria itu meraup wajahnya kasar. Matanya ia pejamkan sejenak, untuk menetralkan rasa yang bersarang di dadanya. Tak ada kata yang lebih sakit, dibanding dengan diabaikan seperti ini oleh orang yang sangat ia cintai.
"Baiklah, mas tunggu di luar. Agar kamu puas dengan kebisuanmu"
__ADS_1
Usai berucap Gandi bangkit dari kursi tunggu yang ada dalam ruangan istrinya. Ia melangka gontai, dengan rasa berat hati pria itu meninggalkan istrinya sendirian, di ruangan yang terasa sunyi.
Ia tutup pintu berwarna putih itu perlahan. Rara yang mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, seketika mata bening itu menatap daun pintu yang mulai tertutup sempurna dengan nanar.
"Maaf mas, jika aku keterlaluan. Diamku hanya untuk menjaga hatiku dan hatimu, agar aku tak berkata sesuatu yang dapat memicu luka baru. Asal kamu tau, aku tak pernah mengharapkan hal semacam ini"
Ucapan Rara terdengar lirih di gendang telinganya sendiri. Karna dalam pernikahan terkadang, emosi selalu di depan sebagai api pengobar retaknya bahtera rumah tangga.
Maka dari itu, saat ini diam adalah pilihan terbaik untuk Rara. Agar tak memancing keributan baru.
Gandi terus duduk dengan gelisah di kursi yang berada di koridor rumah sakit. Tanpa ia sadari air matanya meluncur dengan sendirinya. Saat pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia dikejutkan dengan tepukan di bahunya. Matanya menatap terkejut kearah orang tersebut.
"Hey, kok lo sendiri Ga. Ngapain lo di sini, menung-menung di rumah sakit, awas lo kesambet?"
Sapa Reno sambil berseloroh. Gandi mendongak, kemudian ia benarkan posisi duduknya. Mereka duduk berdampingan di kursi tunggu.
"Gue, lagi nunggu istri gue Ren"
Sekilas Reno menatap pintu yang berwarna putih di hadapan mereka.
Gandi mengangguk lemah.
"Bekas oprasinya semalam robek lagi, jadi dia di oprasi ulang"
Reno terkejut mendengar cerita sahabatnya.
"Kok bisa robek lagi itu bagaimana ceritanya? jangan-jangan, binik belum selesai nifas udah lo pakek ya. Parah lo Ga!"
Tuduh Reno asal, sahabat sablengnya ini memang selalu begitu suka menyimpulkan sesuatunya sendiri. Dengan jengkel Gandi meninju bahu sahabatnya.
"Ngaco lo kalau ngomong"
"Lah terus?" Timpal Reno penasaran.
Gandi tak segan berbagi kisahnya dengan sahabatnya itu. Mendengar ucapan Gandi, seketika pria itu berang.
"Gila lo ya. Suami macam apa lo Ga? bisa-bisanya lo salahin bini lo, yang jelas-jelas di sini dia yang jadi korban, dia kehilangan bayinya, dia juga harus merasakan sakit fisik, ditambah lagi sekarang sakit hati karna mulut lo, yang gak di sekolahin, kalau gue jadi Rara, gue juga akan lakuin hal yang sama Ga, mungkin bahkan lebih dari itu"
__ADS_1
Gandi menatap Reno lekat, ia cerna semua ucapan sahabatnya, yang semua benar adanya.
"Jadi gue harus gimana sekarang, Ren? ucap Gandi memelas.
"Lo minta maaf. Tapi, maaf aja gak cukup Ga, lo harus lakukan sesuatu agar istri lo senang"
Usul Reno tegas. Gandi mulai memikirkan rencananya untuk berbaikan dengan istri tercinta. Sepertinya pria itu menuruti ucapan sahabatnya.
"Oke Ga, gue nyusul istri gue dulu, dia mau cek kandungan, maaf. Gue belum sempat jenguk Rara. Insya Allah, usai cek gue mampir, jenguk Rara" pamit Reno pada Gandi.
"Oke makasih, sarannya"
Ucap Gandi sembari mengangkat sebelah tangannya.
Reno berlalu meninggalkan Gandi sendiri.
Pria itu kembali masuk keruangan istrinya.
Di sama tampak Rara tengah tertidur pulas, Gandi duduk di sebelahnya, sembari menggenggam jemari lentik yang terasa hangat. Pria itu tak sadar sudah ikut membaringkan wajahnya tepat di dekat wajah lelah Rara.
Pukul satu siang Rara terbangun dari lelapnya.
Ia lirik sosok yang tengah tertidur pulas. Gadis itu meringis pilu, menyaksikan pemandangan di sampingnya. Gandi terbangun karna merasakan pergerakan.
"Hey. Udah bangun? maaf mas ketiduran"
"Tidurlah, jika mas masih ngantuk"
Jawab Rara lembut. Gandi tersenyum bahagia, istrinya sudah tak mendiaminya lagi.
"Mas. Udah gak kantuk kok. Makan ya dek udah waktunya minum obat."
Gandi dengan cepat menyambar nampan di atas meja, yang berisi makanan sehat dari rumah sakit. Dengan telaten pria itu menyuapi istrinya seperti bayi.
"Terima kasih mas, maaf jika tadi aku sempat mendiamimu, Rara hanya ingin menetralkan hati, yang masih terbawa emosi."
"Mas yang harusnya minta maaf, karna dengan lancangnya mas sengaja menyakiti perasaanmu"
Rara kembali tersenyum. Mendengar permintaan maaf suaminya.
"Jangan ulangi lagi mas, karna ucapamu sangat memukul perasaanku, tak ada satu orang ibupun yang mengharapkan kematian buah hatinya. Termasuk aku, mas. Jika bisa memilih, biarlah nyawaku saja yang ditukar untuk menggantikan nyawanya. Tapi itu mustahil, mas!" Ucap Rara sedih.
__ADS_1
Gandi seketika memeluk tubuh ringkih istrinya. Bahunya berguncang, pria itu tak mampu berucap sepatah katapun.