ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Latihan Menembak


__ADS_3

Minggu pagiku diisi dengan kegiatan yang katanya bermanfaat untuk jantung.


Iya….Aku diundang oleh ibu Rita yang suaminya jenderal itu – ikut kelas menembak disalah satu camp latihan kepolisian. Bukan hanya aku saja sih, tapi ibu-ibu bhayangkari lainnya yang tergabung dalam kelompok ini. Khususnya ibu-ibu dari satuan bhanyangkari polres di Jakarta Selatan.


Aiman juga ikut. Katanya mau lihat kegiatan ibu-ibu.


Aku protes padanya. Jelas-jelas aku masih ABG, masa disamain dengn ibu-ibu?


“Kamu kan bukan ABG tulen lagi, udah jadi ibunya Gala dan ibu dari anak-anak kita nanti,” sahutnya yang buat aku langsung melengus keluar dari mobil sambil membanting pintunya.


Aku bisa dengar Aiman tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil. Sama sekali tak menggubris kekesalanku karena ledekannya itu. Beliau ini memang sedang lucu-lucunya. Suka jahilin aku di setiap kesempatan!


Aku ingat di rumah ada bon cabe. Jadi terpikirkan untuk membalasnya nanti. Awas aja!


Sampai di sana, aku sudah disambut oleh buk Rita. Kami masuk lalu bertegur sapa dengan suaminya buk Rita -- pak Herman yang tengah duduk-duduk santai di sebuah kursi panjang bersama anggota kepolisian lainnya. Selain aku dan buk Rita, di sana juga ada ibu-ibu bhayang yang sudah berpenampilan bak polisi wanita. Mereka tampak serius mendengarkan instruktur tembak yang sedang menjelaskan tentang salah satu senjata api yang sedang ia perkenalkan kepada kami.


"Menambak itu juga bisa dijadikan sarana olah raga dan edukasi psikologis. Dengan latihan menembak yang benar, etos disiplin dalam diri seseorang itu terbentuk," ucapnya yang seorang polisi berpangkat Ipda atau Inspektur Polisi Dua. Pak Riyadi namanya.


Fyi setelah menjadi istrinya Aiman, ada beberapa hal yang tak sengaja kuhapalkan dari pekerjaannya tersebut. Ini sih lebih ke kewaspadaanku kira-kira Aiman ini berada di peringkat atau pangkat apa? Jadi dari situ aku bisa tahu, mana pangkat yang lebih tinggi dari Aiman dan mana pangkat yang lebih rendah darinya. Jadi akupun tidak salah memberi hormat ketika bertemu dengan rekan sesame polisi.


Tapi terkadang random sih. Aku lebih suka meninggikan pangkat mereka daripada harus merendah. Jadi sama rata, aku akan panggil mereka ‘Pak’.


Sebelum menikah, status Aiman adalah kompol yang dipindah tugaskan ke Medan. Setelah berhasil merantau di sana dan bekerja dengan giat dan penuh ketekunan nan berprestasi, akhirnya Aiman naik pangkat menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi atau AKBP, satu tingkat di bawah Kombes atau Komisaris Besar.


Di dalam polri ini,beliau sudah naik tingkat menjadi Perwira Menengah atau Pamen Polri. Tingkatan di atas Pamen Polri adalah Perwira Tinggi. Nah di perwira tinggi itu ada Brigadir Jenderal, Inspektur Jenderal, Komisaris Jenderal dan yang terakhir tentunya adalah Jenderal.


Balik lagi ke latihan menembak, hari ini kami diizinkan berlatih menggunakan senapan angin untuk tingkatan pemula. Pak Riyadi memberikan instruksi bagaimana memegang, menggunakan dan mengarahkan senpi yang diperuntukkan untuk anggota menembak papan sasaran.


Setelah penjelasan panjang kali lebar yang buat aku mengantuk, akhirnya aku sudah diperbolehkan memegang satu senapan angin yang disediakan di setiap lorong penembak.


Aku bersiap untuk membidik namun secara tak terduga aku didekati oleh instrukturnya. Kata beliau, posisiku salah.


“Jangan tempatkan jari ke pelatuk kalau belum siap posisinya ya buk,” tukasnya.

__ADS_1


“Oh gitu! Maaf pak!”


Belum apa-apa, aku sudah salah.


Di sampingku sudah ada ibu-ibu bhayang yang berhasil menembak setelah beliau dalam posisi yang bagus. Kutiru gerakan dan juga posisi tubuhku tapi aku malah salah fokus dengan kebersamaan buk Rita dengan seorang anggota polisi muda.


Buk Rita terlihat menikmati sekali arahan dari polisi tersebut. Bahkan dari arahannya, buk Rita sudah menembak ke papan sasaran dengan skor yang lumayan bagus.


Aku jadi iri!


Baru saja memutar badan agar kembali fokus ke depan, di belakangku sudah berdiri Aiman yang mengarahkanku untuk membidik dengan benar. Bukannya malah leluasa, aku malah kesulitan. Karena susahnya aku bergerak ketika tubuhnya seperti menutupi semua punggungku.


“Memegang senapan itu harus dengan benar! Pistol mesti dipegang setiap waktu dengan posisi tangan tak menembak pada handstock, posisinya di tengah-tengah pegangan.”


Aku mendengarkan Aiman sambil menelan ludah dengan susah payah. Gimana enggak! Pipi kami sampai bersentuhan tadi!


“Dudukkan mesti kuat dengan membentuk huruf ‘V’ menggunakan ibu jari serta telunjuk. Tahan pegangan pistol dengan posisi tangan menembak atau gerakan tangan mau menulis pada grip belakang pelatuk. Pegang senapan angin dengan aman serta lembut, seakan-akan ingin berjabat tangan enteng.”


Meski perasaanku campur aduk, aku tetap bisa mendengarkan dengan seksama penjelasan duda beranak satu ini. Ia pun melanjutkan dengan bicara sama lembutnya seperti tadi.


“Tempelkan dagumu di belakang alat pembidik. Untuk membidik dengan baik, kamu butuh tahu apa yang dimaksud ” dagu untuk akurasi, ” yang bermakna matamu sejajar dengan alat pembidik (scope) begitupun automatisnya dagumu berada. Saat gagang senapan ditarik ke arah bahu, biar kepala kamu nyaman dengan merilekskan leher. Bila senapan mempunyai aperture sight seputar 1/2 hingga laras, selaraskan pistol hingga titik di dekat ujung garis senapan barel di aperture jadi terang. Praktisnya, biarkan pipimu jatuh ke titik yang sama pada pistol serta menyesuaikan titik pengelihatan kamu secepat serta senyaman mungkin saja.”


Yah! Aku dapat ritmennya.


“Tembak sekarang?” tanyaku.


“Udah yakin?”


Aku bergumam pelan,”Huum.”


“Coba tarik,” pintanya lembut. Berada tepat di telingaku.


Tembakan pun kulepaskan. Aiman menjauhkan wajahnya sambil tersenyum padaku.

__ADS_1


Apa aku dapat skor sempurna? Yah…itu sempurna! Dan aku kegirangan sampai tak sadar sedang menggenggam tangannya tinggi-tinggi.


“Enggak sia-sia aku merinding dengerin kamu daritadi.”


“Merinding kenapa?” tanya Aiman sok polos.


“Udah ah sana! Ganggu aja,” gerutuku yang tak digubris langsung sama Aiman.


Aku lagi-lagi salah fokus ke buk Rita. Perasaanku jadi aneh begitu melihat keduanya bersama. Tapi pak Herman juga santai saja. Jadi…apa mereka memang akrab?


“Liatin siapa sih?”


“Polisi ganteng yang ada di sana,” ledekku.


Aiman mencibir, “Ganteng doang buat apa? Emang di samping kamu ini masih kurang ganteng?”


ENGGAK! UDAH GANTENG BANGET KAMU NAK. CUMA MINUSNYA SATU. NGESELIN.


“Kamu daritadi kenapa sih? Oh! Lebih tepatnya sejak acara pelantikan. Kamu juga kayak nggak suka aku deket-deket sama kak Rendi.”


“Siapa yang bilang gitu?”


“Aku!”


Lagi enak-enak berdebat, suara tembakan beneran terjadi di sudut ruangan. Banyak ibu-ibu yang histeris mendengar suara tembakan tersebut serta suara ribut-ribut orang yang tengah bertikai. Aku dan Aiman tak bisa berkata-kata bahwa ternyata terjadi keributan antara pak Herman dengan istrinya, buk Rita.


Dan yang mengarahkan tembakan ke atas adalah pak Herman sendiri karena tengah diselimuti oleh amarah.


“Sini kamu! Main hati kamu kan sama dia! Ajudan kurang ajar!” bentak pak Herman.


Buk Rita terlihat sedang menjadi tameng polisi muda tersebut, yang menurut teriakan pak Herman tadi bahwa pria muda itu adalah ajudannya.


“Kamu juga sama aja! Jangan saling salah-salahan!”

__ADS_1


Ucapan buk Rita malah semakin memancing emosi pak Herman. Dia hampir menodongkan pistolnya lagi dengan sembarangan, tapi untungnya instruktur menembak berhasil menghentikannya.


Sungguh…situasi yang amat buruk bisa terjadi kalau pak Herman tak bisa ditangani. Sebenarnya, mereka kenapa? apa mereka terlibat cekcok karena ada cinta segitiga?


__ADS_2