ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Tugas Berbahaya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Aiman seperti orang sakit gigi. Diam terus-terusan sambil membawa mobilnya menuju rumah. 


 


Memang sih, siapa yang tidak terkejut dengan kasus jenderal satu ini. Semua orang yang ada di sana termasuk aku, sudah jantungan melihat aksi koboi sang jenderal kepada istrinya. Untung saja ada yang segera menengahi. Kalau tak, pasti akan ada banyak orang yang berguguran di tempat latihan menembak itu. 


 


Karena Aiman tak mau membahas hal ini lagi, maka akupun tak mau angkat bicara. Jadi kualihkan saja pandanganku pada jendela mobil sambil memperhatikan hujan yang mulai turun sedikit demi sedikit. Kalau di kampungku dulu, biasanya kalau hujan begini paling enak minum teh sambil makan pisang goreng. 


 


Duhlah…apalagi kalau disambung dengerin music galau atau lagu-lagu nostalgia, jadi bertambah lagi syahdunya. 


 


Tapi sekarang, di mana aku bisa beli pisang goreng?


 


Masak sih gampang, tapi di rumah komplek mana ada kebon pisang? Kalau dulu kan tinggal jalan saja ke kebon belakang rumah, pasti ketemu yang namanya pisang kepok atau raja untuk diolah.


 


Baru saja bergumam soal pisang goreng, di jalan lewat pedagang gorengan yang membuat kepalaku sampai berputar ke belakang. Aku gelisah sendiri karena tak bisa menghentikan mobil ini. Bicara dengan Aiman yang daritadi masih bengong sepertinya bukan hal yang bagus untuk dilakukan.


 


“Haduh, udah kejauhan.” 


 


Sengaja aku bergumam agar Aiman mau mendengarnya. Tapi boro-boro dengar, ngelihat ke arahku saja tidak!


 


Tak lama, kemacetan pun terjadi. Entah ada apa di depan sana, yang jelas aku sudah daritadi ngiler dengan pisang goreng. Kebetulan aku juga bawa uang saku jadi tak perlu minta dengan suamiku yang tidak peka ini. Saat Aiman sibuk nyetir dengan perlahan, akupun sedikit membuka pintu mobil untuk siap-siap pergi. Melihatku yang membuka pintu, Aiman baru menoleh ke arahku dan melarangku pergi.


 


“Kamu mau kemana?” 


 


“Aku beli gorengan yah. Laper!”


 


Aiman menahan tanganku yang bisa dia gapai dari kursinya.


 


“Jangan berhenti di sini!”


 


“Sebentar aja. Lagian di depan macet!”


 


“Kalau ngeyel juga nanti aku tinggal loh!” ancamnya.


 


Aku masih bersikeras untuk keluar dari mobil saat hujan-hujanan seperti ini. Kudengar Aiman menggeram ketika aku tak menuruti ucapannya. Daripada aku ngeliat dia marah-marah, jadi kuputuskan untuk menutup pintu dan berlari ke arah tukang gorengan. 


 


Aku menyebrang dengan hati-hati ke penjual gorengan keliling. Setelah sampai ke gerobaknya, aku senang sekali kalau pisangnya masih dalam keadaan panas. Puas pilih-pilih, aku melihat ke arah kemacetan yang sudah terurai. Disitu lah aku baru menyadari kalau aku ditinggalkan oleh Aiman.


 


Dia benar-benar meninggalkanku di tengah jalan.


 


“Ini neng gorengannya.”


 


“Berapa pak?”


 


“Dua puluh ribu.”


 


Aku segera mengeluarkan uang dari saku celana dan menyerahkannya pada pak penjual gorengan. Setelah kuperhatikan lagi, kengeyelanku ini membuatku dalam masalah besar. 


 


Aku tak tahu ini di daerah mana.


 


“Pak, ini di mana?”


 


“Loh neng tadi darimana?”


 


Aku menunjuk ke arah lampu merah, “Tadi saya bareng suami naik mobil. Lihat gorengan nekat turun. Sekarang saya diting –“


 


Aku merasa ada sesuatu yang melindungiku dari hujan ini. Saat aku menoleh, kudapati Aiman berdiri sambil memegangi payung. Wajahnya terlihat datar nan kesal. Aku cuma bisa nyengir saat dia menatapku tajam.


 


“Udah beli gorengannya?”


 


Aku mengangguk takut-takut.


 


“Kalau lagi macet jangan sembarangan turun dari mobil. Bahaya! Lagian kalau kamu mau beli makanan kenapa nggak suruh berhenti?”


 

__ADS_1


“Aku liat kamu cemberut terus daritadi. Mana berani aku negur buat ngajak turun.”


 


Aiman terdiam. Jakunnya naik turun melihatku makan. Sambil memegangi payung, kami berdua jalan bersama ke mobil yang dia parkir di sebuah bank. Jaraknya lumayan jauh. Tapi aku senang bisa jalan di tengah hujan seperti ini untuk merenggangkan kaki.


 


 


“Mau beli minumnya sekalian nggak?” tawarnya sebelum naik mobil.


 


Aku mengangguk antusias, “Mau! Beli di mana?” tanyaku penasaran.


 


“Uhmm di sana aja kalau gitu.”


 


Aiman menunjuk sebuah kedai kopi terkenal di tengah kota yang padat. Seketika aku melirik pisang gorengku yang tak sepadan dengan harga kopi di sana.


 


“Emang boleh nongkrong disitu sambil bawa pisang goreng dari luar?”


 


“Ya dibungkus aja lah makan di mobil.”


 


“Oh iya,” jawabku, polos.


 


Akhirnya kami berjalan lagi ke kedai kopi tersebut untuk memesan minuman. Jaraknya tidak terlalu jauh dari bank konvesional tadi, jadi tidak memakan waktu untuk pergi membeli minuman. Kami mengantri sambil menyantap sedikit demi sedikit pisang goreng yang aku bawa pakai plastik kresek ini. Tak lama minuman pun datang dan kami jalan lagi ke parkiran mobil. Sungguh merepotkan, tapi mau bagaimana lagi, kan di Jakarta dilarang parkir sembarangan.


 


Untung saja kami tidak diusir dari parkiran karena cuma numpang parkir saja di sini tanpa bermaksud berurusan ke dalam bank. Setelah masuk, aku langsung duduk santai menikmati gorengan yang kubeli dengan segelas kopi dingin yang Aiman beli.


 


Rasanya segar padahal di luar hujan.


 


“Gala mau gorengan nggak sih? Tinggalin buat dia deh.”


 


“Makan aja, ntar beliin cemilan yang dia doyan.”


 


Aku melirik Aiman sinis, “Kamu juga nggak mau makan. Kenapa? nggak higinies yah?” tuduhku. 


 


“Lain kali kalau mau jajan bilang aja. Jangan diem-diem kayak tadi.”


 


 


Aiman memperhatikanku yang sedang mengoceh di depannya.


 


“Iya iya. Nggak gitu lagi. Tadi kepikiran aja sama kasusnya pak Herman.”


 


Sudah kuduga, Aiman pasti kepikiran soal tadi. 


 


“Yah namanya juga berumah tangga pasti ada cobaannya. Cuma yang satu ini, aku nggak tahu mau belain siapa,” balasku yang membuat Aiman menoleh ke arahku sambil menikmati kopi panasnya.


 


“Nggak ada yang perlu dibelain. Dua-duanya tetap salah.”


 


“Ya nggak bisa gitu dong. Kan pak Herman duluan yang selingkuh sampai punya anak dari wanita lain. Anaknya dirawat baik-baik sama buk Rita sampai sekarang, malah balesannya begitu.”


 


“Tapi buk Rita selingkuh sama ajudannya juga. Itu poinnya. Beliau juga salah,” tukas Aiman ngotot. 


 


Bah…jadi kami berdua yang otot-ototan di dalam mobil karena membicarakan masalah orang lain.


 


“Nggak ada asap kalau nggak ada api. Mungkin buk Rita kesepian karena nggak diperhatikan dengan layak.”


 


“Darimana kamu tahu kalau buk Rita nggak diperhatiin?”


 


Aku tadi cuma bicara asal karena tak mau kalah dengan Aiman. Tapi jadinya malah sotoy begini dan terjebak dengan ucapanku sendiri. 


 


Ah sial!


 


“Yah sebagai perempuan aku ngerti dong perasaan buk Rita gimana. Apalagi dapet suami sering telat pulang kayak polisi,” jawabku asal kayak essainya kak Rendi.


 


Aiman melipat kedua tangannya sambil menyipitkan matanya. Ia juga mendekatkan wajahnya padaku yang sedang menyantap pisang goreng. Aku tertegun. Mau apa lagi duda beranak satu ini?


 

__ADS_1


“Oh..jadi kamu juga butuh perhatian suami?” ucapnya sambil menyunggingkan sudut bibirnya yang beracun.


 


“Astaga! Bukan itu maksudnya –“


 


Aku hendak protes tapi Aiman sudah semakin mendekat. Apalagi jari-jemarinya tepat menyalip anak rambutku ke sebalik telinga hingga membuat bulu kudukku berdiri. Padahal baru kemarin aku terbebas dari kecanggungan ini. Si duda malah keenakan kayaknya nyium anak gadis orang.


 


“Bilang dong kalau kamu mau juga diperhatiin suami,” ucapnya dengan tatapan setajam silet. Aku lemas.tak berdaya dengan tatapannya itu. Jadi yang bisa kulakukan adalah duduk merapat ke bangku penumpang sambil menutup mata.


 


Tapi yah..kenapa aku malah tutup mata? Terima aja kali yah?


 


Setelah kupikir-pikir,ciuman nggak seburuk itu, kok.


 


Napas Aiman terasa di depan wajahku. Lalu tiba-tiba --


 


DORR!


 


Apa tuh? Apa kami diciduk satpol pp karena mau berbuat asusila di mobil?


 


DORR!


 


Suara tembakan kedua terdengar lagi dan Aiman duduk tegak di kursi kemudinya. Dengan cepat Aiman mencegahku untuk keluar dari mobil lewat sebelah tangannya.


 


“Jangan kemana-mana!”


 


“Terus kamu mau kemana?” tanyaku panik.


 


Aiman tiba-tiba mendapatkan telpon dari rekannya. 


 


“AKBP Aiman di sini! Ada dua kali suara tembakan di lampu merah Sarinah! Ada apa ini?”


 


“Siap pak! Kami baru dapat laporan ada penembakan di pos polisi pak!”


 


“Saya ada didekat lokasi. Segera minta bantuan!”


 


Suara tembakan beruntun terdengar lagi dan jujur saja aku ketakutan. Orang-orang juga mulai berlarian ke sana kemari karena takut terkena peluru nyasar. Aiman berpindah tempat ke tempat duduk penumpang yang ada di tengah untuk mengenakan rompi anti peluru. Ia juga sedang mengisi senjata apinya dengan peluru yang ia simpan di bagasi mobil. 


 


Setelah selesai mengenakan baju pengaman, Aiman membawaku keluar sambil bersembunyi dari satu mobil ke mobil lainnya sampai kami berada di depan tukang gorengan tadi. Aiman melihat kondisi sekitar yang banyak dari warga sekitar mulai berhamburan menjauh dari lokasi.


 


“Naik taksi terus pulang.”


 


“Loh! Kamu sendiri gimana?” tanyaku bingung.


 


Aiman tetap menyetop taksi biru dan memaksaku masuk. Aku bingung dengan perintah cepatnya ini.


 


“Aku lagi kerja. Bahaya kalau tetap di sini. Pulang dan jangan nonton tv sama Gala. Ngerti?”


 


“Tapi –“


 


“Pak jalan pak! Bahaya di sini.”


 


Aiman menepuk jendela lalu aku dibawa kabur oleh taksi biru. Aku menoleh ke belakang demi melihat Aiman yang tengah mengamankan warga sekitar untuk menjauh. Baru kali ini, aku khawatir dengan pekerjaannya. Biasanya, aku tidak pernah peduli dengan tugas-tugasnya. 


 


 


Apa dia selalu berada dalam bahaya seperti itu? Semoga saja, Aiman bisa selamat dan kembali ke rumah bersama kami ya Allah, doaku setulus hati.


 


Tapi baru saja selesai berdoa sambil melihat ke belakang di mana Aiman berada, tak lama kemudian suara ledakan lebih kuat terdengar dari taksi yang kutumpangi. Aku melotot tak percaya. Sebuah bom ikut meramaikan suasana di sana.


 


“Aiman!”


 


** 


Note : ini aku terinspirasi dari kejadian terror yang terjadi di Sarinah starbuck  yah. Kejadiannya 6 tahun yang lalu pada tanggal 14 januari 2016.


 

__ADS_1


 


__ADS_2