
Cobalah untuk berpasrah pada sang maha kuasa. Tetaplah percaya, bahwa selalu ada makna yang bisa kita petik dari setiap kejadian, yang kita alami. Selama kita mau belajar ikhlas dalam menerima setiap ujian. Maka kebahagiaan akan datang menyertainya.
Gandi masih setia menunggu istrinya yang terbaring lemah di depan pintu UGD. Rasanya Gandi tak sabar menunggu dokter keluar.
Disaat pria itu merapalkan doa dalam hati, pintu ruang UGD terbuka.
Tampak disana seorang dokter laki-laki, tegak di depan pintu.
"Keluarga ibu Raisa" Panggil dokter itu tegas.
"Saya dok, saya suaminya"
"Mari ikut saya pak, adahal penting yang harus saya bicarakan dengan bapak, Mari ikut saya keruanga"
"Baik dok"
Gandi mengikuti langkah dokter Mek, menuju ruangannya.
"Silahkan duduk"
"Terima kasih dok"
"Begini pak, karna benturan di bagian perut ibu Rara sangat kuat dan posisi ibu Rara saat terjatu, dalam posisi tengkurap, jadi saat ini kehamilan ibu Rara mengalami Ruptured plasenta, plasenta ruptus, atau jika orang awam menyebutnya dengan plasenta lepas.
ketika plasenta terlepas dari dinding uterus,
Kondisi ini yang menyebabkan ibu Rara pendarahan hebat, seperti sekarang"
Dokter Mek menjelaskan pada Gandi dengan seksama.
"Lalu dok, bagaimana dengan kandungan istri saya, apa bisa diselamatkan?"
"Begini pak, akibat dari lepasnya plasenta ini akan menghambat aliran darah dari ibu ke bayi terhenti, termasuk juga oksigen. Dan dengan terputusnya oksigen, maka bayi akan beresiko mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen.
Sementara pada ibu bisa mengakibatkan pendarahan akut. Jadi jalan satu-satunya adalah dilakukan sesar.
Bayi bapak terpaksa harus dilahirkan dini, atau prematur"
"Namun sebelum dilakukan sesar saya akan memberikan ibu Rara steroid guna mempercepat pematangan jantung pada janin dan melindungi janin dari permasalahan pasca bayi dilahirkan seperti kesulitan bernapas, pendarahan otak, bayi kuning dan lain sebagainya. Apa bapak setuju dengan tindakan tersebut?"
Dokter Mek, meminta persetujuan Gandi, selaku suami Rara.
"Lakukan yang terbaik dok, saya setuju jika memang itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan istri dan anak saya"
Dokter Mek tersenyum
"Baiklah kalau begitu saya dan tim, akan segera melakukan tindakan oprasi, Bantu kami dengan doa ya pak"
"Baik dok"
Gandi keluar dari ruang doktet Mek, di sana terlihat Oma Mahdim cemas.
"Bagaimana Rara, Ga? apa kata dokter?"
Mahdim tak sabar ingin segera tau kondisi cucu menantunya.
"Rara harus dioprasi oma, untuk menyelamatkan keduanya, doakan yang terbaik untuk istriku oma"
__ADS_1
Mahdim mengelus jemari cucunya.
"Oma, selalu doakan yang terbaik untuk kalian nak"
"Terima kadih oma"
Setelah hampir tiga jam akhirnya dokter keluar dari ruang oprasi. Gandi sepontan berdiri dari duduknya, pria itu tak sabar ingin tahu keadaan Rara dan bayinya.
"Dok bagaimana kondisi istri dan anak saya?"
Dokter Mek tersenyum manis, sembari menepuk bahu Gandi.
"Alhamdullilah, oprasi berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun, untuk bayi dan ibunya,belum bisa dilihat sekarang, karna masih di dalam imkubator, begitupun ibu Rara, beliau masih harus di rawat insentif di ICU, ibu Rara belum sadarkan diri, akibat banyak kekurangan darah"
Gandi menahan nafasnya dalam, mendengar penuturan dokter Mek. Gandi tak menyangka, jika istrinya mengalami kejadian sefatal ini.
Gandi terus menyalahkan dirinya atas ketidak becusannya menjaga anak dan istrinya.
Usai menjelaskan, dokter Mek kembali keruangannya.
Gandi terduduk lesu di kursi tunggi.
"Yang sabar mas, insya Allah. Istrimu dan anakmu akan baik-baik saja, Rara gadis yang kuat"
Ucap Maya memberi kekuatan.
Gandi tak tahan, menahan rasa takutnya, pria itu menangis dalam pelukan Maya.
"Mas takut, May. Kalau saja mas menjaganya dengan baik, pasti tidakakan seperti ini kejadiannya"
Ucap Gandi terus menyalahkan dirinya.
Maya mulai kesal dengan tingkah masnya itu.
Gandi menatap Maya sejenak, lalu mengangguk lemah.
"Maaf"
Ucap Gandi lirih. Maya tersentum. Kearah masnya yang mulai berdiri hendak solat.
"Tolong, tunggu Rara, jika ada apa-apa, segera kabari mas, mas solat sebentar"
Maya mengangguk. Tanda setuju.
Usai solat Gandi mendapat kabar baik, jika istrinya sudah bisa dijenguk. Rara sudah melewati masa kritis, dan gadis itu saat ini sudah dipindahkan dari ruang ICU keruangan rawat insentif, karna memang Rara masih dalam pase observasi.
Dengan setia Gandi duduk di sebelah branker istrinya. Pria itu tak henti-hentinya menciumi jemari lentik Rara yang terlihat pucat.
"Maafkan mas sayang" ucap Gandi lirih, pria itu menjadi mudah menangis semenjak istrinya terbaring lemah tak berdaya di atas branker.
"Heey, aku gak papa mas. Jangan nangis"
Ucap Rara lirih, sembari menghapus air mata suaminya.
"Sayang, kamu udah sadar?"
Rara tersenyum lembut, Gandi bergegas memencet tombol. Tak lama dokter dan perawat datang.
__ADS_1
"Dok, istri saya sudah sadar"
Ucap Gandi bahagia. Dokter Mekpun tersenyum. Kemudian dokter itu memeriksa Rara secara teliti.
"Alhamdulilah, kondisi ibu Rara sudah mulai membaik, beliau tinggal nunggu masa pemulihan saja"
Jelas dokter lembut.
"Alhamdulilah, terima kadih dok"
"Sama-Sama pak Gandi, saya permisi"
"Iya pak, silahkan"
"Mas, apa kandungaku baik-baik aja?"
Gandi tersenyum manis, menenangkan istrinya.
"Anak kita sudah tidak ada dalam rahimmu lagi sayang. Anak kita harus dilahirkan prematur, sekarang dia masih di rawat di ruang insentif kusus bayi, anak kita masih dalam inkubator sayang, karna kondisi kandungamu yang belum cukup umur"
Rara meraba perutnya dan menutup mulutnya. Gadis itu tak tahan menahan kesedihan sekaligus bahagia.
"Tapi, anak kita baik-baik aja kan mas?"
"Kata doktet, anak kita sehat, sayang. Hanya saja anak kita memang harus dirawat insentif"
Seketika Rara memeluk suaminya. Ia tumpahkan air matanya di bahu kekar sang suami.
"Aku ingi melihatnya mas!"
"Belum boleh, sayang. Bersabarlah, nanti kita akan lihat anak kita bersama-sama, sekarang pulihkan dulu kondisi tubuhmu, biar nanti istri mas ini bisa gendong anak kita"
Gandi terus memberi pengertian pada sang istri. Rara akhirnya menurutinya.
"Sekarang kamu makan dulu, biar cepat sehat"
Rara menganghuk, gadis itu tak sabar ingin segera sembuh dan melihat putrinya.
Dengan penuh cinta Gandi menyuapi makanan ke mulut mungil Rara.
"Ayo, makan yang banyak sayang!"
"Udah kenyang mas!"
"Satu suap lagi sayang, ayo biar cepat sembuh"
Rara akhirnya menuruti, ia buka mulutnya untuk menerima suapan terakhir.
Oma Mahdim dan Maya masuk, untuk melihat kondisi Rara.
"Oma, ucap Rara lemah"
"Iya sayang. Jangan banyak gerak, luka sesarmu masih baru" Mahdim tak lupa mengingatkan cucu menantunya itu.
__ADS_1
Sungguh hari ini, Hari yang bersejarah untuk keluarga Argam, musihah yang sekaligus membawa kebahagiaan. Benar kata orang jika kita menghadapi setiap musibah dengan ikhlas, insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan, meski dari jalan yang lain.