ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Mantan Istri


__ADS_3

Ini sama sekali nggak adil karena cuma aku yang kepikiran!


 


Kejadian semalam membuatku tak bisa tidur, makan, dan melakukan aktifitas dengan normal. Sedangkan Aiman melenggang kangkung berseri-seri seperti tak pernah terjadi apapun. Seolah-olah apa yang sudah dia lakukan kemarin malam itu adalah usahanya untuk menyedot seluruh energiku lalu berpindah kepadanya.


 


Sialan! Dia bersikap begitu pasti karena sudah terbiasa mencium seseorang. Yaiyalah dia kan duda! Pasti sudah makan asam garam soal main sosor-sosoran!


 


“Ma....kok daritadi diem aja?” oceh Gala ketika kami sampai di sekolahnya.


 


“Eh, maaf kakak ngelamun.”


 


Menoleh ke duplikatnya si Aiman, aku juga kembali teringat dengan kejadian pagi ini.


 


Kami benar-benar keluar dari rumah mama setelah sholat subuh. Gala juga sudah bangun lebih awal sehingga memungkinkan kami untuk segera pulang.


 


Sampai di rumah, aku segera menyiapkan sarapan sederhana untuk dua orang pria yang sedang kuasuh ini. Karena buru-buru, Aiman tak sempat menghabiskan nasi gorengnya. Jadi spontan, aku berinisiatif untuk menjadikannya bekal. Dan ajaibnya Aiman mau membawa bekalnya.


 


Awalnya, aku nggak teringat dengan kejadian semalam, tapi begitu Aiman berangkat dan hendak berpamitan pergi, dia berbalik lalu mencium keningku. Dia juga berpesan beberapa hal padaku.


 


“Nanti malam kita makan di luar, yuk. Jadi nggak usah masak,” senyumnya.


 


Beneran deh kayaknya dia mengambil seluruh energi positif ku. Karena sampai detik ini, aku malah sama sekali tak bisa melupakannya apalagi bertingkah seperti Tom and Jerry yang biasa kami lakoni setiap hari.


 


“Beneran mama nggak apa-apa? Biar Gala telpon papa yah suruh pulang karena mama sakit.”


 


“Eh nggak usah. Kak Mel cuma lagi capek aja.”


 


“Kalau capek istirahat Ma.”


 


Gala terlihat khawatir. Tingkah anak ini langsung membuatku bersemangat kembali. Kupeluk dia sebelum Gala masuk ke kelasnya. Kurapikan sedikit penampilannya lalu mencium pipinya.


 


“Iya. Udah yah Gala nggak usah khawatir. Belajar yang bener di dalam yah.”


 


“Iya Ma!”


 


Dasar bocah. Sudah dibilang jangan panggil mama, tetap aja dipanggil begitu.


 


Setelah memastikan Gala masuk ke kelasnya dan berpamitan pada satpam sekolahnya, aku pulang dulu sebentar untuk berberes. Karena tadi pagi serba buru-buru, jadinya rumah sudah kayak kapal pecah. Rasanya nggak afdol kalau kubiarkan sampai pulang kuliah nanti. Jadi selagi menunggu jam pulangnya anak ganteng, aku beberes dulu sebisanya.


 


Agar aku bersemangat kembali dan melupakan kejadian semalam, aku sengaja memutar musik dengan kencangnya sambil membersihkan rumah. Seperti tidak ada rasa lelah, aku menyelesaikan pekerjaan rumah dari menyapu, mencuci, melipat pakaian dan menyiapkan buku yang akan aku bawa nanti dengan penuh semangat.


 


Ternyata menjalani profesi ibu, istri dan mahasiswi sekaligus juga tidak terlalu buruk. Asal bisa bagi waktu semuanya jadi beres.


 


Heh Mela! Sejak kapan kau jadi bijak? Dulu kepikiran buat nikah muda aja enggak. Sekarang langsung terima nasib gitu aja setelah dicium sama om mesum itu?


 


Hih!


 


 


Tak terasa sepuluh menit lagi Gala pulang. Aku segera mengganti pakaian yang agak lebih pantas daripada waktu pertama kali mengantar Gala ke sekolah. Kemeja kotak-kotak dengan celana kulot. Aku memperhatikan diriku sendiri ke cermin lalu teringat dengan sindiran Aiman tadi malam.


 


Dia yang bilang ingin melihatku mengenakan hijab.


 


Oke. I will do it. Kukenakan jilbab segitiga andalan para wanita anti ribet kayak aku yang sekali celup langsung jadi.


 


Kepala pun sudah tertutupi.


 

__ADS_1


“Duh telat nih!”


 


Motor langsung kunyalakan. Dengan segenap jiwa raga, aku ngebut ke sekolah Gala. Sampai di sana para murid dan orang tua sudah berhamburan keluar pagar. Aku segera memarkirkan motor lalu mencari keberadaan Gala. Kutunggu sampai semua orang keluar lebih dulu hingga yang tersisa adalah pak satpam yang kusapa tadi pagi.


 


Aku mulai was-was karena Gala tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Segera kuhampiri pak Nuh yang sedang berberes pulang.


 


“Pak Nuh! Semua udah keluar?”


 


Pak Nuh yang sudah tua itu terlihat bingung saat aku panggil. Beliau juga katanya sudah rabun dan tuli, makannya beliau jalan mendekat untuk mengetahui siapa aku, “Sudah kosong neng. Mau jemput siapa?”


 


“Anak saya...si Gala.”


 


“Anak yang tadi pagi neng anter?”


 


Aku mengangguk cemas. Bisa-bisanya Gala keluar sendiri tanpa pemantauan. Aku juga ikutan greget dengan pak Nuh. Kenapa nggak diawasi anak kecil yang keluar gerbang tanpa didampingi orang tua atau walinya?


 


“Tadi ada perempuan ngaku mamanya. Nah itu dia!” tunjuk pak Nuh pada suatu tempat di mana ada mobil putih terparkir di pinggir jalan. Di sana ada Gala yang sedang dituntun oleh seorang wanita tinggi langsing dengan penampilan sosialita.


 


Aku tadi sempat ngira kalau itu Syahrini. Karena penampilannya seperti itu.


 


“Gala!”


 


Aku langsung menarik tangan Gala posesif. Jantungku nyaris mau copot karena takut anak ini hilang. Aku nyaris hilang kendali pada wanita di depanku ini kalau saja Gala nggak nyebut nama perempuan itu.


 


“Mama Susan, ini mama Mela.”


 


Susan?


 


Susan Susan kalau udah gede jadi apa itu yah?


 


 


Susan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan padaku setelah ia memindai penampilanku dari atas kepala hingga ke ujung kaki.


 


Kenapa? Emang aku sebutek itu yah?


 


“Saya Susan, mamanya Gala.”


 


Karena aku tahu backgroundnya bagaimana ia tega meninggalkan Gala waktu bayi, wajah jutekku tak bisa kukendalikan. Dia mulai menaikkan alis saat kuperhatiakn balik dengan cara intens.


 


Karena asal muasal semua masalah ini kan karena dia!


 


Karena dia selingkuh, Aiman menceraikannya. Karena cerai, Aiman luntang-lantung jadi duda kesepian yang rawat anaknya sendiri. Karena anaknya, Aiman nikah lagi dan jadinya nikahin aku yang random ini. Karena aku dinikahi, makannya aku tak bisa hidup mandiri di Jakarta.


 


Haduh! Kalau diteruskan pasti kisahku ini jadi novel terpanjang.


 


“Oh, saya Mela. Mama sambungnya Gala.”


 


“Tadi saya lihat kamu cemas. Karena Gala sibuk manggilin jadi kita nyamperin kamu.”


 


Keterangannya membuatku panas. Jadi dia memang sengaja buat aku cemas?


 


“Maaf ya mbak, lain kali jangan begitu. Kalau memang mau ketemu Gala silahkan. Tapi jangan bikin orang lain yang punya tanggung jawab atas anak ini jadi cemas karena takut anaknya kenapa-kenapa.”


 


“Kenapa marah? Kan saya nggak sengaja.”


 

__ADS_1


Nggak sengaja pala lu! — sungutku dalam hati. Nyaris aku bicara kasar seperti itu. Kalau masih Mela Iskay yang dulu sih pasti sudah habis nih orang. Sekarang, mana bisa aku serampangan seperti itu. Karena aku kan bagian dari ibu-ibu bhayangkari. Aku harus membawa marwah dan nama baik Aiman sebagai polisi. Apalagi dia juga baru naik jabatan, bisa-bisa dimutasi ntar karena istrinya kurang ajar.


 


“Jelas-jelas mbak baru nemuin saya sekarang karena Gala manggilin. Kalau Gala nggak manggil, mbak akan bawa Gala gitu aja kan?”


 


“Saya mamanya. Saya nggak perlu ijin dari kamu untuk bawa anak saya sendiri. Lagian saya udah bilang ke mas Aiman kok. Jadi buat apa ijin sama kamu?”


 


Astaghfirullah ini betina! Dia ngerti nggak sih maksud ucapanku?


 


“Ya saya tahu mbak mamanya Gala, tapi di sini posisinya kan saya nggak tahu mbak bawa anak ini. Saya nggak dapet kabar dari Aiman kalau Gala mau bareng mamanya. Kalau saya tahu ya saya nggak akan cemas nyariin.”


 


Susan terlihat mengabaikan ocehanku. Tanpa bilang maaf dan mendengarkan, ia memakai kacamata hitamnya lalu menarik Gala bersamanya.


 


“Kamu kayaknya masih muda banget yah. Nggak ada sopan santunnya sama orang yang lebih tua. Pokoknya Gala saya bawa. Saya lagi nggak mood dengerin omelan kamu,” tukasnya yang membuat genderang perang di kepalaku bertabuh kencang.


 


Kalau bukan karena banyak pedagang dan ibu-ibu yang lewat menjemput anaknya, mungkin aku sudah meladeni wanita ini dengan silat harimau Asia. Sengaja kutahan karena aku masih punya urat malu untuk ngajak ribut orang di tengah jalan. Jadi, kubiarkan ia lolos kali ini.


 


Sebelum masuk, Gala menyempatkan diri untuk menghampiri ku. Rasanya, semua amarahku menghilang karena perlakuan manis bocah lima tahun ini. Gala mencium pipiku sebelum ia pergi dengan si nenek lampir.


 


“Ma....Gala pergi bentar yah.”


 


Baru kali ini aku senang dipanggil mama olehnya. Kalau bisa terus saja panggil mama di depan mamanya yang sok selebritas itu.


 


“Iya. Jangan nakal yah.”


 


“Gala cepetan!” titahnya.


 


Aku benar-benar tak bisa berkata-kata. Ingin kulawan tapi aku tak punya hak untuk melarang seorang ibu bertemu dengan anak kandungnya. Mau sejahat apapun perbuatannya, di mana-mana nggak ada yang namanya mantan anak atau mantan orang tua. Walau dia begitu, Gala tetap darah dagingnya. Itulah faktanya.


 


 


 Mobil putih itupun melaju meninggalkan pelataran sekolah. Susan melengos begitu saja tanpa mau memberikan klakson untuk membuatku minggir. Aku tidak marah, hanya saja kesal. Tinggal menunggu waktu saja untuk membalasnya kapan-kapan.


 


Baru mau beranjak pulang, Aiman menelpon. Baguslah! Sekalian aku ingin tanyakan soal Susan yang main nyelonong saja mengambil Gala saat aku tidak ada.


 


“Halo.”


 


“Bagus deh kamu telpon! Aku mau tanya sama kamu!”


 


Mungkin Aiman bingung kenapa bicaraku ngegas padahal waktu bilang halo suaranya lembut banget.


 


“Tanya apa?”


 


“Hari ini Gala ikut mamanya yah? Kok kamu nggak bilang sama aku tadi pagi?”


 


“Hah? Mamanya? Susan maksud kamu?”


 


Aiman malah tanya balik. Tapi dari nadanya, sepertinya dia shock.


 


“Iyalah, Susan. Mantan istri kamu tadi datang ke sekolah dan bawa Gala pergi. Dia bilang sudah izin sama kamu.”


 


Aiman menghela napas panjang. Aku bisa dengar dari ujung telpon.


 


“Nggak ada Mel. Aku nggak dapet telpon atau apapun dari Susan kalau dia mau bawa Gala hari ini.”


 


Sudah kuduga! Nenek lampir itu menipuku! Awas aja. Ketemu dia nanti, aku nggak akan segan-segan tendang bokongnya.


 

__ADS_1


Awas aja!


 


__ADS_2