
Setelah kepergian Rara ke rumah Rahmat, Gandi tampak linglung. Pria itu merasa ada kekosongan pada jiwanya. Ia lebih cendrung marah-marah pada stafnya di kantor.
Penampilannya sedikit aut-autan.Gandi pusing, pria itu sangat merindukan istrinya.
Gandi tak ada pilihan lain, pria itu harus memilih tinggal berjauhan sementara waktu, ketimbang ia harus berpisah dengan cara bercerai. Itu ancaman yang menakutkan untuk pria tiga puluh tiga tahun itu.
Rahmat pria yang keras, Gandi tau itu. Ia kenal dekat dengan mertuanya, jauh sebelum ia menikahi putrinya. Gandi mengirim chat pada istrinya.
Om suami
"Sayang mas kangen"
Istri kecilku
"Rara juga kangen sama om, tapi tenang aja om, Rara akan berusaha cepat sembuh, agar kita bisa tinggal satu rumah lagi"
Bibir Gandi meringis membaca chat istri yang sangat ia rimdukan.
Perpisahaan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap detik bersama orang yang kita cintai adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan.
Perpisahan pastilah selalu menyakitkan, itu kewajaran pada manusia. Tetapi, yakinlah bahwa selalu ada rencana dibalik itu semua yang telah Tuhan rencanakan.
Namun Gandi yakin, perihnya perpisahan saat ini tidaklah seberapa dibanding dengan bahagianya pertemuan. Apalagi pertemuan baru setelah perpisahan itu
Dengan rasa rindu yang merong-rong jiwa Argandi Argam, pria itu terduduk lesu sembari menatap potret dirinya bersama sang istri.
Semua itu salahnya. Ia yang lalai menjaga amanah mertuanya. Wajar pria paruh baya itu meradang sehingga ia memberi hukuman padanya, karna mertuanya itu tau, bahwa istrinya melakukan oprasi ulang itu karna ulahnya. Sehingga Rahmat berang pada menantu kesayanhannya itu.
Istri kecilku
"Om, kok gak bales chat, Rara?"
Gandi meraup wajahnya kasar, ia lupa bawasannya chat istrinya belum ia balas. Pria itu terlalu asyik dengan lamunannya.
Om suami
"Maaf, sayang. Mas barusan ngecek file"
Istri kecilku
"Om sibuk ya?"
"Gak sibuk, cuma menyibukkan diri agar gak keimgat kamu terus. Gimana kesehatanmu, sayang? maafin mas ya. Karna mas kamu jadi disulitkan"
Rara yang membaca balasan chat om suami, dadanya rasa diremas. Matanya mulai menghangat, bulir bening itu mulai berdesakan untuk keluar. Ia bekap mulutnya agar suara isakannya tak terdengar sag papa.
Istri kecillku
"Om gak salah kok, om jangan sedih. Anggap aja perpisahan sementara ini, sebagai tolak ukur cinta kita om. Kalau om makin kamgen Rara, berarti om sayang banget sama Rara, gitu juga sebaliknya"
Gadis itu terus menenangkan hati om suami.
Gandi tersenyum membaca balasan gadisnya.
Om suami
"Dek kita vitcal ya. Mas kangen lihat wajah kamu"
Istri kecilku
"Jangan om, nanti kalau ketahuan papa hukuman kita makin di tambah"
Membaca balasan istrinya Gamdi frustasi, pria itu begitu merimdukan sosok gadis belia yang sangat ia cintai. Tanpa sadar ia babat habis semua barang yang berada di atas meja bundar.
Perkakas yang ada di atasnya seketika berhamburan ke lantai. Puas melampiaskan kekecewaannya, tubuh Gandi merosot terduduk di lantai sembari bersandaran di kursi.
__ADS_1
Sungguh cinta membuat kewarasan pria dewasa itu terbang entah ke mana, pikirannya kacau, semua apa yang ia kerjakan hilang konsentrasi. Jika tak memikirkan Rahmat adalah mertuannya, pastilah Gandi akan menghajar pria paruh baya itu hingga tak bernyawa.
Sayang ia tak bisa melakukannya. Rahmat bukan hanya sosok mertua, namun Rahmat baginya adalah sosok ayah yang sangat ia hormati dan ia sayangi, karna berkat ketulusan pria paruh baya itulah, ia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
Jika tak memikirkan, hukuman bertambah pastilah pria itu akan mendatangi istrinya. Mendobrak masuk dan membawa istrinya pulang.
Kerimduannya telah memuncah, akhirnya pria tiga puluh tiga tahun itu nekat menyambangi kediaman mertuannya.
Om suami
"Sayang, kamu nanti keluar di kenopi ya! mas kesana sekarang. Mas cuma mau lihat wajah istri mas yang cantik"
Rara dengan girang membacanya, bibirnya melengkung, gadis itu dengan cepat merias dirinya agar terlihat cantik di hadapan suami, karna ia akan bertemu suaminya, meskipun hanya jarak jauh.
Sungguh mereka berdua seperti anak abg, yang lagi kasmaran.
Gandi dengan kecepatan tinggi menjalankan mobilnya, dengan hati tak sabar pria itu terus melebarkan senyumannya. Ia sudah sampai di tempat yang ia tuju, pria itu berhenti di pinggir jalan, tepat di depan kamar istrinya.
Om suami
"Sayang, mas udah di depan"
Ia dongakkan wajah tampannya, netra hitam Gandi tak sabar terus berkeliaran menatap lurus kearah kamar di lantai dua.
Rara mulai membuka pintu yang menuju kenopi. Gadis itu dengan bahagiannya menyambut kedatangan sang suami, ia lambaikan tangan mereka, hanya untuk sekedar penyampaian rindunya. Rara bersandar di pagar kenopi kamarnya, sembari tersenyum ke arah suami menampakkan lesung pipinya.
Om suami
"Kamu cantik sayang. Mas makin tambah kangen"
Rara tersenyum membaca chat suaminya.
Istri kecilku
"Om juga makin tampan, om semakin terlihat seksi. Aku turun ya om, kita pulang"
Tengah asyik saling melepas rindu. Pintukamar Rara di ketuk oleh papannya. Ternyata Rahmat, melihat semua aksi anak dan menantunya itu dari layar monitor cctv. Pria paruh baya itu tersennyum. Ia tau jika anak dan menantunya itu tidak mampu untuk di pisahkan.
Namun Rahmat harus tetap menghukum menantu kesayangannya itu, hanya karna alasan, untuk memberi pelajaran, agar menantunya itu tau, berpisah dengan orang yang di cintai itu sangat berat dan menyakitkan. Jadi Rahmat berharap, dengan hukuman ini, nantinya Gandi akan lebih hati-hati menjaga isyrinya, agar kejadian buruk itu tak terulang.
Rahmat terus mengetuk pintu.
"Sayang buka pintunya!."
panggil Rahmat lembut. Rara kelimpungan. Gadis itu dengan segera memberi tahu om suami.
Istri kecilku
"Om buruan pergi, papa mau masuk kamar Rara"
Membaca chat istrinya tubuh Gandi lemas, dengat hati yang tak rela pria itu pergi meninggalkan kediaman mertuannya.
Rahmat kembali mengetuk pintu kamar putrinya.
"Sayang buka pintunya, Ayo makan siang dulu terus minum obat"
Rara dengan malas-malasan membukakan pintu untuk papanya.
"Kenapa lama sekali buka pintunya? "
Tanya Rahmat pura-pura.
"Maaf pa, Rara ketiduran"
Ucapnya bohong. Rahmat tersenyum simpul, melihat tingkah putrinya.
"Ini makan siangmu, habiskan kemudian minum obatnya, bukankah kamu ingin bertemu suamimu?"
__ADS_1
Ucap haris menggoda.
"Tentu pa, apa papa mengizin kan Rara pulang sekarang? "
Jawab Rara girang.
"Tunggu hukuman kalian selesai. Baru kalian boleh bertemu"
Jelas Rahmat sembari mengelus sayang kepala putrinya. Rara cemberut tanda tak suka atas jawaban papanya.
Gandi terus melajukan mobil, hatinya tak karuan pikirannya tak fokus, pria itu menyetir sambil melamun. Tanpa sadar pria itu terus melajukan mobilnya dengan menambah laju kecepatan. Sesekali ia memukul-mukul stir mobilnya, untuk sekedar melampiaskan kekesalannya.
Saat pria itu memukul stir mobil, Gandi mulai kehilangan ke seimbangan, mobilnya oleng hinhga mobil yang ia kemudikan lari ke jalur kiri, mobil terus melaju menghantam pembatas jalan.
Polisi dan pengguna jalan berlarian mendekat kearah mobil berwarna hitam, adengan cepat polisi yang sedang berjaga menyelamatkan korban, Gandi tampak tak sadarkan diri, darah mulai mengalir dari kepalannya.
Tak lama Ambulans datang memenuhi panggilan darurat kepolisian.
Dengan cepat petugas medis membawanya ke atas tandu dan memasukkannya ke mobil ambulans.
Sirine mulai menggema memenuhi pendengaran pengguna jalan.
Sementara Rara yang hendak minum baot, tiba-tiba hatinya gelisah, rasa rindunya kembali memuncah pada sang suami, gadis itu melamun sembari meraih gelas, namun naas gelas tak terpegang dengan benar, alhasil gelas itu jatuh kelantai menyisakan serpihan-serpihan kaca yang berserakan.
"Hati-hati sayang, awas kakimu"
Ucap Rahmat mengingatkan. Rahmat memanggil bik Nah, untuk membersihkan pecahan gelas.
Tak lama henpon Rara berdering sangat nyaring. Rara dengan cepat meraih benda pipih itu, ia pikir itu dari suaminya. Namun ia salah, itu hanya nomor yang tak ia kenal.
Rara kembali meletakkan henponnya ke atas kasur.
"Kenapa gak diangkat nak"
Tanya Rahmat heran.
"Nomor gak dikenal pa, malas takut penipuan"
Selesai berucap, henponnya kembali berdering, dari nomor yang sama.
"Nomor itu lagi?
Tanya Rahmat ingin tau.
"iya pa"
"Coba sini papa lihat"
Rahmat menerima henpon putrinya, kemudian pria itu menerima panggilan nomor tak dikenal itu.
"Iya halo"
Sapa Rahmat tegas.
"Selamat siang pak, benar ini nomor ibu Rara istri dari bapak Argandi Argam?"
Tanya si penelpon ingin memastikan.
"Iya benar, ini nomor putri saya"
"Begini pak, kami barusaja menemukan bapak Argandi Argam, mengalami kecelakaan di ruas jalan tol, saat ini beliau tengah di tangani di rumah sakit Nusa Medika. Baik itu saja informasi dari kami pihak kepolisian"
Rahmat mematung menatap putrinya.
"Ada apa pa?"
Tanya Rara hawatir.
"Gandi sayang, Gandi kecelakaan"
Ucap Haris lemah. Rara yang mendengar kabar buruk itu seketika jatuh terduduk.
__ADS_1
"Paaa, om Gandi. Pa" panggilnya lirih. Rahmat mendekat memeluk putrinya.