ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Sakitnya Tuh Di Sini!


__ADS_3

“Pacar? Emang kamu udah punya pacar?”


 


Oooh! Ngeremehin ane rupanya?


 


“Ya ada dong! Emang kamu aja yang boleh pacaran sama si tepos?”


 


Aiman menaikkan sebelah alisnya.


 


“Baru beberapa bulan kuliah, jangan pacaran dulu! Nanti aku laporin ke bapak kamu!”


 


“Ishh mentang-mentang polisi mainnya lapor-laporan. Aku juga bisa…laporin kamu ke mama!”


 


Aiman mulai komat-kamit seperti mbah dukun. Daripada aku semakin kesal karena terus menghadapinya, akupun beranjak pergi sambil menutup pintu cukup kencang di hadapannya. Tak lama Aiman menyusul sambil bertolak pinggang.


 


“Mel! Saya belum selesai bicara!“


 


Aku mengabaikannya dengan terus berjalan keluar rumah. Terlihat di luar pagar, kak Rendi menungguku muncul dengan senyuman yang selalu terlihat tulus daripada om sompret yang ada di belakangku itu. Dengan mobil antiknya, kak Rendi menghampiriku untuk membawakan tas ransel yang cukup padat isinya itu.


 


“Kayak mau minggat aja Mel,” celetuknya yang sama persis seperti ucapan om sompret.


 


“Kok kalimat kalian sama sih?”


 


Kak Rendi memiringkan kepalanya sambil cengengesan. Sedangkan aku sedang merasakan merinding yang teramat sangat karena tengah diawasi oleh om-om mesum dari dalam rumah.


 


Selama di perjalanan kembali ke tempat penelitian, kak Rendi tak berhenti mengajakku berbincang. Memang menyenangkan ngobrol dengan kak Rendi yang punya segudang topik pembicaraan, tapi entah kenapa pikiranku malah tertuju pada ucapan Aiman yang masih terasa menusuk bagiku. Sering kali aku melamun ketika kak Rendi bertanya padaku. Sehingga mau tak mau ia memanggilku beberapa kali karena tak fokus.


 


“Kamu lagi nggak enak badan, Mel? Mel?”


 


“Huh? Enggak kok kak.”


 


“Aku kebanyakan ngoceh ya daritadi?” tanya beliau sungkan. Mendengarnya mengeluh tentang dirinya sendiri, aku juga mulai merasa sungkan padanya.


 


“Eh enggak kok. Akunya aja yang nggak fokus. Maaf ya kak.”


 


“Nggak apa-apa. Kalau capek tidur aja. Nanti aku bangunin kalau udah sampek.”


 


Gimana nggak salting brutal kalau diperhatiin kayak gini? Astaga….seandainya saya masih jomblo! Bukan kayak sekarang. Maju kena mundur kena. Masih perawan tingting tapi udah punya suamii. Mau bilang udah punya suami tapi berasa jomblo. Haiiish!


 


“Kenapa Mel?” tanya kak Rendi bingung karena aku tak sadar menghentak-hentakkan kakiku di bawah dashboard.


 


“Hehe…ngantuk kak. Bisa berhenti di minimarket bentar nggak?”


 


“Oh oke. Kita ngopi bentar aja dulu.”


 


“Boleh deh,” sahutku.


 


Kami pun berhenti di sebuat kafe dan resto yang padahal jaraknya sudah hampir sampai di tempat penelitian kedua. Setelah turun dari mobil dan kak Rendi yang berinisiatif buat pesan minumannya di depan meja kasir, akupun berjalan mencari meja yang nyaman untuk nongkrong sebentar.


 


Baru saja sampai di meja, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku langsung berbalik dan terperenyak kaget melihat sosok yang paling aku kesalkan hari ini. Siapa lagi kalau bukan neng Raline simelekete.


 


Kok bisa kebetulan sih ketemu di sini? Atau dia lagi ngikutin saya?


 


“Kita nggak seakrab itu buat senggol-senggolan.”


 


Raline menaikkan sudut bibirnya, meremehkan.


 


“Judes amat sih …. Ibu sementara.”


 


Kampret! Dia beneran dengar semua soal yang tadi. Terserahlah! Dilanjutkan pembicaraan ini malah akan semakin runyam urusannya.


 


“Itu maksudnya gimana yah? Jadi kamu sama Aiman nggak nikah beneran?”


 


“Wah….jangan asal nuduh. Kami menikah secara sah di depan negara dan agama,” jawabku sedikit tersulut emosi.


 

__ADS_1


“Oh…atau mungkin nikah karena ada maksud tertentu dan setelah itu kalian berpisah?”


 


Aku malah terdiam dan tak berani menjawab tentang itu. Alhasil betina satu ini semakin tersenyum menang.


 


“Dari cara kamu diam, berarti bener. Kalau gitu, aku cuma tinggal nunggu aja,” ucapnya dengan nada penuh percaya diri.


 


Akupun terkekeh sampai tertawa gila. Raline akhirnya menatapku dengan bingung dengan menjauhkan tubuhnya dari meja.


 


“Coba aja. Mungkin kamu bisa dapetin Aiman …. tapi enggak mungkin bisa dapetin hati anaknya.”


 


Tanpa banyak basa-basi, aku berdiri meninggalkannya yang masih berlagak sombong di kursinya. Sedangkan aku tanpa sadar juga telah meninggalkan kak Rendi yang sedang mengantri di depan meja kasir yang mungkin tak tahu kalau aku sudah keluar lebih dulu dari kafe demi menghindari simelekete yang sudah menambahkan garam dipikiranku yang runyam.


 


 


Arrrgg! Pusing!


 


**


 


Hari tanpa terasa sudah gelap. Dan karena kebaikan hati kak Rendi, akupun pulang dengan selamat sampai di rumah.


 


“Mel –“ panggilnya yang masih berada di dalam mobil.


 


Aku berbalik sambil menundukkan badanku agar bisa sejajar dengan mobil kodok kuningnya yang unik.


 


“Iya kak?”


 


Semenit


 


Dua menit, kak Rendi sama sekali ak mengatakan apapun.


 


Ini pertama kalinya aku merasa kesal dibuatnya.


 


“Nggak jadi deh. Met malam,” katanya sambil menyalakan mobilnya.


 


 


“Tadi Gala curhat, dia bilang mama papanya berantem di pinggir jalan karena dia,” tukas Raka – keponakan Aiman yang umurnya beda setahun denganku.


 


“Humm,” balas Aiman terdengar malas-malasan.


 


“Jadi beneran?”


 


“Hu’um.”


 


Plak!


 


Terdengar Raka menggebrak meja untuk membuat pembicaraan menjadi lebih seru.


 


Dasar bocah tukang gossip. Bikin kaget aja.


 


“Terus Gala juga nanyak ke aku, arti ibu sementara itu apa. Om ngomong gitu ke Mela?”


 


Nah ini…aku mau dengar jawaban Aiman.


 


“Gala nanyak itu ke kamu?”


 


“Iya! Ya aku bingung lah mau jawab gimana. Kenapa ngomong kayak gitu om? Itu cuma bercanda kan?”


 


Setelah Raka bertanya, tak ada lagi suara dari Aiman. Sanking penasarannya, Raka terus mendesak omnya untuk bicara.


 


“Kalau om diem berarti itu beneran?”


 


“Iya.”


 


“Iya apa om?”


 

__ADS_1


“Tadi kamu nanyak apa?”


 


Gantian Raka yang terdiam sejenak, begitu pula dengan aku yang masih setia menguping dari ruang tamu.


 


“Maksudnya gimana tuh? Om ada niatan buat pisah sama Mela? Atau kalian nikah cuma settingan?”


 


“Siapa bilang settingan. Nikah kami sah kok –“


 


“Lah terus kenapa ngatain Mela kayak gitu? Berarti om setuju sama opsi pertama Raka? Om ada niatan pisah sama dia?”


 


“Bukan om aja yang mau, tapi kita sama-sama setuju soal itu,” jawab Aiman jujur dan sejujurnya itu juga menyakiti hatiku.


 


“Hah! Kalian nikah bukan karena cinta?”


 


Aiman geleng-geleng kepala.


 


“Masa’ nggak ada cinta sama sekali?”


 


“Nggak mungkinlah. Om kenal sama Mela juga singkat banget.”


 


This! Aku udah nggak kuat dengerinnya. Apa mending kabur aja kali yah?


 


Tapi Mel…kenapa mesti kecewa? Bukannya kamu juga nggak menaruh hati sama om sompret itu? Atau jangan-jangan kamu sendiri mulai ….. ada rasa?


 


“Kalau emang nggak mungkin, kenapa dinikahin? Apa karena Gala?”


 


“Iya. Semua karena Gala. Dia nggak mau pisah sama Mela waktu itu. Jadi om nggak punya pilihan selain –“


 


“Aku nggak nyangka om bisa setega itu buat ngehancurin masa depan Mela yang masih di usia awal dua puluhan. Maksud om jadiin dia ibu sementara sampai Gala besar terus bisa om ceraikan? Kalau om berbuat kayak gitu, Mela bakal jadi janda muda!”


 


“Mela tahu kok. Dia juga mikirin hal itu waktu aku kasih opsi buat menikah.”


 


“Pasti om maksa dia? Iya kan?”


 


“Nggak Raka. Kita sama-sama sepakat kok –“


 


“Tapi kenapa mesti menikah?”


 


“Kok kamu jadi kesal gitu? Sok perhatian sama Mela?”


 


Raka kembali menepuk meja. Mendengar tepukannya, selain jantungku bergetar, kepalaku juga mendadak migraine. Kayaknya, ada yang nggak beres sama nih badan.


 


“Semua orang kalau denger alasan kalian nikah kayak gitu pasti kesel lah om! Mela itu udah kayak adek Raka sendiri om. Apalagi sekarang om juga bilang nggak ada rasa sama dia. Padahal nggak ada loh perempuan kayak Mela yang mau jagain anak om dengan tulus ngelebihin mamanya sendiri.”


 


Ucapan Raka patut diapresiasi mendapatkan piala Oscar. Tapi mau sebesar apapun Raka bicara, Aiman akan tetap pada pendiriannya. Bahwa dia memang sebatas menganggapku sebagai seorang ibu sementara bagi Gala.


 


Beberapa bulan yang lalu, aku begitu meremehkan masalah ini. Aku bisa begitu mudah mengentengkan pernikahan ini yang kuanggap akan berjalan lancar. Namun setelah menjalaninya….kenapa seperti ada duri di kakiku yang seperti memaksaku untuk tak menerima pernyataan Aiman? Harusnya ini kesempatan bagiku untuk keluar dari lingkaran setan ini dan temukan kebebasan kan?


 


Tapi…duri kecil itu malah semakin membuatku tak bisa bergerak.


 


Yah…


 


Duri itu adalah Gala yang semakin hari tingkahnya semakin membuatku seperti ibu kandungnya. Dan akupun dengan bangga mengakui bahwa aku menyayangi bocah itu.


 


Soal Aiman…..entahlah. Perasaan ini masih abu-abu. Memang aku pernah merasa bahagia dengannya meski hanya sesaat. Dan perasaan itu juga kian memudar lagi karena ungkapan jujurnya tentangku yang memang tak akan pernah ada di hatinya itu.


 


“Mending nggak pulang tadi,” gumamku dalam hati dengan bermaksud untuk kembali buka pintu depan.


 


Namun usahaku sia-sia karena tas ranselku terjatuh ke lantai hingga menimbulkan suara berisik. Aku menoleh ke arah mereka yang kini tengah bersama-sama memperhatikanku dari meja makan. Aku yang gugup karena ketahuan menguping akhirnya memilih untuk berjalan masuk menuju kamarku.


 


“Mel….daritadi disitu?” tanya Raka terbata-bata.


 


Aiman juga terlihat cemas namun sama sekali tak ingin menyampaikan apapun padaku. Aku yang sudah lelah seharian ditambah dengan tatapan dingin Aiman yang tak berakhir, membuatku malas untuk mengatakan apapun. Akupun memilih mengabaikan keduanya dengan masuk ke kamar lalu menutup rapat-rapat pintu seperti tak pernah mendengar apapun pembicaraan mereka.


 

__ADS_1


 


__ADS_2