
Terdengar suara ledakan lagi setelah aku meninggalkan lokasi. Ledakan itu membuat orang-orang yang ada di sana kian waspada dan juga ketakutan.
Aku juga semakin gelisah karena hal itu. Gelisah memikirkan bagaimana nasib Aiman.
“Pak pak pak! Berhenti pak! Saya mau turun!”
“Jangan neng. Bahaya! Itu pasti serangan *******,” ungkapnya sok tahu.
Tapi biasanya memang seperti itu. ******* pasti selalu ada karena sumbernya belum dimusnahkan.
“Iya pak saya tahu. Tapi saya khawatir pak sama polisi tadi!”
“Biarin aja neng, kan emang tugas mereka.”
Kenapa aku yang sakit hati yah mendengarnya? Apa polisi bukan manusia?
“Mereka kan tugasnya ngejagain kita. Kalau nggak gitu,mereka nggak kerja!” ucap pak supir taksi lagi yang sepertinya punya dendam kesumat sama polisi. Nadanya sinis. Dan dia seperti tak merasa bersalah sudah bicara seenaknya tentang profesi seseorang.
“Berhenti pak! Saya bayar sampai sini!”
Melihatku yang ngotot minta turun, akhirnya pak supir itupun menghentikan mobilnya. Kuserahkan uang lima puluh ribu terakhirku untuknya sambil membuka pintunya kasar. Sebelum keluar, aku menoleh lagi padanya yang ternyata masih memperhatikanku.
“Suami saya pekerja keras! Dia bukan seperti yang bapak pikirkan!” ujarku ketus.
Baru kali ini ngamuk-ngamuk di depan orang tua sambil menyebut Aiman sebagai suamiku. Aih…mungkin habis ini aku harus kumur-kumur air tujuh rupa supaya nggak kebiasaan.
Lagi pula, kenapa aku sakit hati yah saat pekerjaan Aiman diremehkan seperti itu? Semua pekerjaan kan mulia. Kenapa orang-orang selalu menganggap karena itu pekerjaannya maka biarkan dia yang kerjakan. Karena kalau tidak, maka orang itu nggak punya kerjaan.
Like stupid people said to tukang sapu jalanan atau kebersihan.
Karena dia tugasnya bersihin sampah di jalan dan tempat umum, jadi kita tidak melakukan tugas kita untuk bersihin sampah kita sendiri, begitu? Membiarkan sampah di buang sembarangan karena sudah ada yang bekerja melakukan itu.
Itu childish kan? Kebersihan adalah milik kita semua. Tempat umum itu punya umum maka kebersihannya pun harus dijaga oleh umum bukan cuma si tukang kebersihan.
Menciptakan kedamaian dan kenyamanan juga bukan tugas polisi, tapi kita masyarakat umum juga berperan untuk tidak melakukan tindakan asusila atau keributan di masyarakat. Saling rukun antar sesama itu tugas kita sebagai masyarakat umum, bukan cuma polisi atau tentara. Hindari kerusuhan. Jauhi perbuatan anggar jago seperti begal atau geng motor, itu adalah bentuk kesadaran masyarakat untuk menciptakan kedamaian.
Ah…kenapa aku jadi politis seperti ini? kayaknya aku terlalu berlebihan memikirkan semua ini.
Iring-iringan mobil brimob mulai berdatangan ke lokasi. Ternyata selain aku, banyak juga masyarakat yang bandel tetap mendekati lokasi tembak menembak terjadi. Sterilisasi tempat kejadian langsung dilakukan begitu para polisi berpakaian lengkap berdatangan. Kami yang membandel ini, disuruh menjauh sekitar lima puluh meter dari tempat kejadian.
Aku memasuki kerumunan untuk mencari keberadaan Aiman. Tapi sayangnya, dari jarak sejauh ini, aku tak bisa mengenali wajah siapapun. Aku berdesak-desakan untuk bisa semakin dekat dengan garis polisi. Sampai aku mendapatkan petunjuk bahwa ada Aiman di sekumpulan bapak-bapak gagah berani yang tengah mengenakan rompi anti peluru untuk perlindungan.
Pertanyaanku tetap sama dari dulu. Kenapa cuma bagian badan yang di lindungi? Memangnya penjahat nggak akan menyerang bagian kepala?
Ah entahlah. Nanti kutanyakan pada Aiman kalau dia berhasil menyelesaikan tugas berbahayanya ini.
Mereka berkumpul di sebalik mobil besar anti huru hara yang memiliki moncong peluru seperti tank. Setelah berdiskusi mereka kan mulai beroperasi mendekati penyerang. Baku tembak kembali terjadi. Suaranya bisa terdengar sampai ke sini. Entah bagaimana suasana mencekam itu bisa dilakukan dengan tenang oleh personil kepolisian. Padahal nyawa bisa kapan saja melayang.
Ada yang berseru mengatakan ada yang jatuh tergeletak. Entah siapa yang menjadi korban, aku hanya bisa berharap itu bukanlah Aiman. Lagi, ada yang menjadi korban. Katanya anggota kepolisian yang tak mengenakan rompi lengkap seperti para brimob. Mendengar itu aku spontan berteriak memanggil nama Aiman. Sampai aku tak menyadari bahwa aku sudah menangisi dirinya takut terjadi apa-apa dengannya.
Ambulan polisi kemudian datang. Baku tembak berhenti setelah diketahui bahwa para penyerang sudah ditembak mati seluruhnya. Ada tiga yang mati karena ledakan yang mereka lakukan di kedai kopi, sedangkan yang lain karena baku tembak yang terjadi cukup sengit tadi.
__ADS_1
Setelah kondisi sudah cukup kondusif, aku baru berani mendekat. Melewati garis polisi yang sudah dibuat. Orang bebal sepertiku memang menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku mau tahu apakah yang terluka itu Aiman?
“Pak! Pak! Itu yang kena tembak siapa pak?”
“Mbak siapa? Silahkan menjauh mbak. Tkp bukan untuk orang umum,” ujar pak brimob yang mengenakan penutup mulut berwarna hitam.
“Saya mau cari suami saya pak. Tadi dia ke sini buat –“
“Mela? Kok masih di sini?”
Itu suara Aiman. Iya…itu suara dia.
Astaga…kenapa aku mewek begini? Begitu Aiman jalan mendekat ke arahku, aku langsung menghamburkan diri ke dalam pelukannya. Seperti anak kecil yang diemong ayahnya, mungkin begitulah aku terlihat oleh orang lain karena perbedaan tinggi badan kami ini.
“Kok kamu masih di sini? Bukannya tadi udah naik taksi?”
Sialan! Bukannya tanya kenapa aku nangis, beliau ini malah ngomongin itu. Tapi enggak apa-apalah, dia kan emang nyebelin dan nggak peka!
“Aku cuma punya pegangan goban, mana sampek ke rumah!”
Aiman terlihat sedang berpikir keras, “Goban itu berapa?”
“Limapuluh rebu! Ih nyebelin!” amukku.
Tanpa pikir panjang kupukuli dadanya sambil menangis. Aiman malah tertawa terpingkal-pingkal melihatku memukulinya. Tak lama, Aiman memelukku dengan meletakkan kepalanya ke pundakku agar aku bisa memeluknya dengan leluasa.
“Emang aku nggak boleh nangisin kamu?”
“Kan udah kelar.”
“Aku khawatir tau!”
Aiman tersenyum lebar padaku, “Makasih, tapi sekarang udah aman kok,” katanya sambil mengusap kepalaku.
Gila! Aku kayaknya semakin pangling melihat Aiman. Dari ciuman itu, jantungku udah berdetak nggak normal setiap berhadapan dengannya. Meski dia nyebelin, aku juga sudah tak membencinya seperti dulu. Sekarang malah mikirin dia terus kayak sekarang.
Aku benci mengakui ini, tapi sepertinya…aku mulai terpesona pada suamiku sendiri.
“Beneran udah aman?” tanyaku sambil mengusap airmata.
“Iya. Tinggal berberes. Tapi aku masih perlu ke kantor buat laporan.”
“Jadi?” tanyaku bingung.
“Jadi yah hari ini lembur. Kamu nggak bisa ikut.”
Penonton kecewa. Padahal aku berharap bisa lama-lama di sini dengannya.
“Ya udah deh. Tapi janji langsung pulang kalau sudah selesai,” pintaku pada Aiman.
__ADS_1
Ngomong-ngomong kata-kataku tadi sudah mirip istri beneran kan? Ah entahlah!
“Iya. Langsung pulang kok.”
“Pak Aiman! Dipanggil pak brigjen!” ujar temannya yang entah siapa namanya.
Aiman mengeluarkan dompetnya lalu memberiku beberapa lembar uang. Ternyata dia menganggap serius soal aku yang tak punya uang tadi. Astaga…aku benar-benar sudah seperti anaknya karena diberi uang saku di depan polisi lain yang masih hilir mudik mengurus tempat ini.
“Kali ini beneran pulang yah.”
“Oke,” jawabku lesu. Entah kenapa aku begitu. Pokoknya aku benar-benar sedih berpisah seperti ini.
Ya elah Mel…di rumah kan ketemu lagi.
Lagi asik meratapi nasib, Aiman tiba-tiba menaikkan daguku agar aku bisa menatapnya. Aku langsung terkesiap saat Aiman melakukan ini padaku.
“Kok merengut?”
“Enggak kok. Siapa yang merengut?”
“Ya kamu,” tudingnya.
Aku menggelengkan kepala lalu menatapnya ceria, “Enggak kok. Ya udah sana. Aku mau pulang.”
Aiman mengerutkan dahi lalu mengusap kepalaku lagi.
“Hati-hati,” pesannya.
Tadinya, Aiman sudah berjalan meninggalkanku. Tapi kemudian dia balik lagi untuk berbisik padaku. Seketika wajahku memerah karena ucapannya itu.
Biasanya aku akan marah setiap dia mengatakan hal yang tidak penting atau senonoh, tapi kali ini aku malah biarkan dia mengatakannya hingga responku padanya malah kaku seperti ini. Spontan aku berlari keluar dari lokasi untuk bergegas pulang.
Setelah beberapa jam berlalu, aku pikir tidak akan kepikiran ucapan Aiman sore tadi. Tapi ternyata aku salah. Aku terus memikirkannya sampai menunggu dia pulang.
Pukul sepuluh malam, bel rumah berbunyi. Aku menyambutnya di pintu depan. Aiman pun pulang dengan rambut yang agak basah. Mungkin terkena hujan ketika turun dari mobil tadi. Saat pandangan kami saling bertemu disitulah aku teringat dengan bisikan setan om-om satu ini.
“Sampai di rumah, aku boleh lanjutin yang di mobil tadi?”
Aku meneguk ludah ketika Aiman masuk ke rumah. Jantungku semakin tak berperasaan ketika mengingat ucapannya itu. Aku coba alihkan supaya tak mengacaukan suasana.
“Gimana di kantor tadi?”
“Gala udah tidur?” Aiman mengabaikan pertanyaaku.
Aku mengangguk singkat untuk menanggapinya. Setelah melihat responku, tanpa babibu Aiman mendorongku ke belakang hingga aku terhimpit diantara dirinya dan dinding. Mendapat serangannya yang seperti di film atau drama korea yang biasa kutonton, seketika itu juga kepalaku pusing, kakiku tremor dan layu seperti orang yang terkena cikungunya.
Aiman tak melupakan ucapannya. Dan lebih gilanya lagi, secara teknis, akulah yang memulai pendekatan. Melakukan pelekatan bibir yang membuatku seperti melayang di atas awan.
Bapak…ibuk…maafkan Mela. Kayaknya anakmu ini mulai kecanduan dicium olehnya.
__ADS_1