
Kadang, air mata adalah satu-satunya cara bagaimana mata berbicara ketika bibir tak mampu menjelaskan apa yang telah membuat perasaan kita terluka.
Hati mungkin tak terima dengan apa yang telah terjadi. air mata mungkin membasahi pipi. Tapi ingat, Tuhan selalu ada di sisi. Dia pasti akan buat kita tersenyum lagi.
Dengan hati yang gundah, Rara melangkahkan kaki yang gemetar hebat. Tulangnya seketika terasa lumpuh. Air matanya mulai mengalir membentuk anakan sungai.
Perlahan tubuhnya ambruk memeluk tubuh suaminya yang terbujur diatas branker rumah sakit. Pria itu tak sadarkan diri akibat kecelakaan yang menimpanya.
"Kemanapa bisa beginisih om?"
Rara terisak menatap tubuh pucat suaminyan.
"Maaf ibu, ibu diminta menemui dokter Imran"
Pinta salah satu perawat rumah sakit
"Baik sus, terimakasih"
"Pa, Rara titip om Gandi sebentar, Rara mau jumpain dokter"
"Iya, nak pergilah"
Saat ini, Rara berada tepat di hadapan dokter Imran.
"Dok, bagai mana kondisi suami saya?, apa luka di kepalanya cukup parah?"
"Ibuk yang sabar, akibat benturan yang cukup kuat, sehingga pak Gandi mengalami cdera kepala hematoma intrakranial"
"Apa itu berbahaya dok?"
"Sangat berbahaya buk, hematoma intrakanial itu pecahnya pembuluh darah di dalam otak atau di antara tengkorak dan otak. Akumulasi darah hematoma dapat menempati jaringan otak Pak Gandi. Sehingga, gumpalan darah bisa menyebabkan tekanan dalam tulang tengkorak hingga penderitanya hilang kesadaran atau mengalami kerusakan otak permanen. Seperti saat ini, pak Gandi mengalami hilang kesadaran."
Rara membekap mulutnya,
"Apa suami saya bisa diselamatkan dok?"
"Insya Allah bisa ibuk, dari hasil CT scan kami akan ambil tindakan operasi pada pak Gandi, untuk mengobati hematoma intrakranial, oprasi kami lakukan untuk mengambil akumulasi darah pada jaringan otaknya.
Pada kasus hematoma intrakranial,
yang dialami pak Gaindi, kami akan ambil tidakan oprasi besar, dengan tindakan pembukaan bagian tengkorak kraniotomi untuk menghilangkan darah.
"Apa ibu setuju dengan penanganan yang akan dilakukan, seperti yang sudah saya jelaskan tadi?"
Tanya dokter Imran, meminta persetujuan.
"Lakukan Dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya"
"Insya Allah ibu, bantu kami dengan doa. Silahkan ibu temui bagian administrasi, guna menandatangani Informed Consent Sebelum dilakukannya tindakan oprasi pembedahan"
"Iya dok terima kasih"
__ADS_1
Rara dengan segera, menuju ruangan administrasi guna melancarkan penanganan suaminya. Selesai menandatangai dokumen yang dibutuhkan pihak rumah sakit, Rara kembali menunggu di koridor ruang UGD.
Hati gadis itu was-was. Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Gandi dibawa ke ruang pesakitan yang mengerikan untuk Rara. Rara dengan setia menunggu sang suami di depan ruang oprasi, tampak di sana tim dokter jalan tergesa.
Rara tak putus-putus memanjatkan pengharapannya pada sang maha kuasa. Tak muluk-muluk gadis itu hanya meminta pada sang pencipta untuk memberikan keselamatan pada sang suami.
Lama menunggu akhirnya ruangan itu terbuka, tampak disana petugas medis yang mengenakan baju khusus oprasi. Rara mendekat.
"Bagaimana dok, suami saya?"
"Alhamdulillah oprasi berjalan dengan lancar, namun bapak belum bisa dijenguk"
Rara seketika berucap syukur pada Allah.
"Terimakasih dok"
"Sama-sama ibu"
Dokter Imran berlalu meninggalkan ruang oprasi.
Rara memeluk sang ayah, untuk meluapkan kebahagiaan, sekaligus kesedihannya.
"Sudah jangan menangis sayang, Gandi akan baik-baik saja"
"Iya pa, tapi Rara takut pa"
Setelah melalui, waktu berjam-jam akhirnya Gandi boleh untuk di jenguk. Rara tak sabar, gadis itu segere menerobos masuk.
"Ayo bangun om, kita pulang kerumah, papa udah izinkan kita untuk pulang, hukuman kita sudah selesai, om. Yakan pa?"
Tanya Rara minta persetujuan pria paruh baya di sebelahnya.
Rahmat tak tega melihat putrinya itu, pria berwajah tegas penuh wibawa, tampak mengedipkan matanya untuk menghalau rasa hangat yang mulai ia rasakan di klopak matanya. Rahmat tampak menyesal atas apa yang ia perbuat terhadap putri dan menantu kesayangannya.
"Maafkan papa sayang, ini semu karna papa, jika saja papa tak membawamu pulang ke rumah, mungkin ini tidak akan terjadi"
Rara bangkit dari atas tubuh suaminya, ia tatap lekat wajah sendu sang papa, gadis itu berjalan mendekat, ia raih tangan tua yang mulai terlihat keriput.
"Tidak pa, ini semua sudah menjadi ketetapan Allah, jika Allah sudah berkehendak, maka kita sebagai manusia tak pantas menyalahkan siapapun. Allah telah menitipkan rencana baru di balik kejadian ini. Jangan salahkan diri papa"
Rara menatap lembut ke arah wajah tua papanya, Rara peluk tubuh gempal itu. Sebagai isarat, jika semua akan baik-baik saja. Seketika Rahmat membalas pelukan putrinya. Disaat itu pula suara Gandi memanggil lirih istrinya.
"Ra, kamu dimana, sayang. Kenapa gelap"
Panggil Gandi lirih.
Rara seketika melepas pelukan Rahmat.
"Om, ini Rara, Rara ada di sini om!"
__ADS_1
Gandi mulai menggerak-gerakkan tangannya untuk mencari keberadaan istrinya. Gadis itu bingung, menatap pergerakan tangan suaminya yang kesana kemari. Rara dengan lembut meraih jemari suaminya.
"Om, ini Rara" Ucapnya sembari mengecup lembut jemari suamimya. Mata pria itu terus ia gerak-gerakkan, untuk mencari satu titik terang yang sulit ia dapatkan.
"Om, kenapa"
Rara mulai gelisah melihat suaminya yang tampak aneh. Gadis itu dengan cepat memencet tombol yang tertempel di dindimg.
Tak lama dokter dan perawat masuk keruang rawat Gandi.
"Dok, ada apa dengan suami saya? dia terlihat mencari sesuatu"
"Iya, sebentar ya bu, biarkan dokter memeriksanya sebentar.
"Pak Gandi bisa dengar saya?"
Tanya dokter Imran lembut.
"Iya dok saya dengar. Tapi Dok, kenapa mata saya gak bisa melihat, apakah saat ini sedang mati lampu?"
"Bapak tenang dulu ya. Maaf coba saya priksa sebentar mata bapak. Apa bapak merasakan silau?."
Doktet imran mencoba untuk cari tau.
"Saya tidak bisa melihat apapun Dok. Kenapa dengan mata saya Dok?"
"Kita lihat hasil dari pemeriksaannya nati ya. pak, bapak jangan hawatir"
Ucap dokter imran menenangkan.
"Ibu Rara, bisa ikut saya sebentar. Ada yang harus saya bicarakan dengan ibu"
Rara menuruti kemauan dokter Imran, gadis itu ikut menuju ruangan dokter.
"Begini ibu, sepanjang pengamatan dan pemeriksaan, bapak Gandi juga mengalami
trauma Tumpul pada matanya. Hal itu yang menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan penglihatan sementara.
Pak Gandi masih beruntung, karna trauma tumpul yang disebabkan oleh kecelakaan itu, tidak sampai menyebabkan terputusnya saraf penglihatan. Jadi ibu gak perlu hawatir troma mata pak gandi tidak menimbulkan kebutaan permanen. Namun pak gandi akan tetap mengalami kebutaan untuk sementara waktu. Untuk itu pak Gandi harus menjalani terapi mata, untuk memulihkan penglihatannya. Dari kasus pak Gandi ada yang ibu tanyakan? "
Dokter Imran memberikan ruang untuk Rara bertanya mengensi suaminya.
"Jadi Dok, berapa lama suami saya bisa melihat normal lagi? "
"Bisajadi tiga sampai empat bulan, tapi semua itu tergantung dari kondisi tubuh pak Gandi, Jadi ibu jangan hawatir, pak Gandi akan ditangani oleh dokter mata terbaik yang ada di rumah sakit kami."
"Baik Dok, terima kasih atas bantuannya. Saya permisi"
"Iya ibu, silahkan"
Rara berjalan dengan hati yang gamang, rasanya ia tak sanggup menyampaikan hal buruk itu pada suaminya, gadis itu takut berita buruk ini dapat mempengaruhi cidra pada otaknya."
Rara terduduk di kursi tunggu. Gadis itu terisak, cobaan ini tarlalu berat untuk gadis berusia delapan belas tahun.
__ADS_1
Air matanya terus runtuh membentuk aliran yang menggenang.