
“Kelas hari ini selesai. Kalau ada yang mau ditanyakan saya buka sesi pertanyaan.”
Aku sedang memandangi maha karya Allah yang kini tepat berada di depan kelasku hari ini. Yang jelas saat masuk kelas pertama hari ini, aku terkejut melihat kak Rendi ternyata adalah asisten dosen sejak semester lalu. Dan aku juga baru dengar dari teman baruku di sini – Eca namanya, kalau kak Rendi ini asdos idaman para perempuan di kampus.
Ya iyalah. Modelannya aja udah charming gini. Kalau mas Adi si pegawai Indoapril dulu ku visualisasikan sebagai Song Kang, kalau kak Rendi ini kayak aktor Ahn Hyo Seop yang dramanya booming di serial berbayar N. Di rumah, Aiman sampai cabut sakelar karena aku nonton sampai tak berkedip.
Memang sih, kalau mau dibandingin sama suamiku di rumah, kak Rendi masih belum mateng. Istilahnya dari bobot, kak Rendi itu kayak masih kuncup-kuncupnya. Kalau buah mangga yah masih hijau-hijau begitu. Sedangkan Aiman dari segi umur, postur tubuh yang gagah dan pekerjaan pastinya sudah seperti mangga yang siap dipetik dan manis rasanya kalau dimakan.
Tapi ya itu tadi, kadang-kadang kelakuannya balik lagi reset ke mode anak-anak. Jahil minta ampun dan suka ngerjain aku di rumah. Selalu ada saja tingkahnya untuk membuatku tidak diam, bengong dan duduk nonton dengan tenang. Katanya, kalau aku diam bengong begitu takutnya kesambet setan.
Ya kali setan! Dia tuh setannya.
Bayangkan! Dia pernah pulang dari kantor tengah malam dan sengaja kusambut dia untuk tahu apa keperluannya. Sudah kutanya mungkin beliau ini mau makan tapi dia keukeuh bilang nggak laper dan milih cepat tidur saja. Tapi baru beberapa menit setelah dia mandi, AIman bangunin aku dengan paksa minta dibuatkan mie yang pernah kumasak waktu itu.
Beneran nyebelin kan? Padahal sebelum itu sudah kutawarkan dengan baik-baik tapi dia menolak. Setelah aku tidur nyaris terlelap, Aiman bangunin aku cuma minta dibuatkan mie!
Yang lebih kacau dari itu waktu dia berangkat dan kehilangan kaus kaki. Katanya dia yakin udah simpan di lemari kaus kaki kesukaannya itu, sampai kubantu bongkar lemari buat nyariin. Setelah semua pakaian di lemari sudah keluar, dia baru bilang padaku kalau kaus kakinya itu ketinggalan di gedung latihan polisi. Langsung saja aku melorot ke lantai karena harus membereskan semua pakaian kembali ke tempatnya.
Jangan sebut aku preman Medan kalau aku menyerah sama kelakuannya. Dia bisa menyiksaku semaunya, tapi aku tidak akan menangis tersedu-sedu minta dipulangkan ke Medan sebelum meraih gelar S1.
“Mel…iler Mel. Elap,” bisik Eca yang luar dalemnya kayak Donita juga di kampung. Aku menyikut lengannya sambil tertawa.
Setelah beberapa waktu lalu mendaftar ulang untuk jurusan teknik sipil, aku langsung bertemu dengan Eca yang kebetulan sendiri waktu itu. Awalnya sih dia jaim gitu, baru kenal dua hari sikap aslinya keluar. Anaknya selalu bikin aku bengek.
“Ganggu aja sih Ca –“
“Ya gue yang malu lihatnya. Kalau naksir coba minta nomer whatssapnya dong.”
“Emang bisa segampang itu?” tanyaku sambil nyengir. “Kak Rendi kan banyak yang naksir.”
Aku sengaja beritngkah seperti tak punya suami. Kalau Aiman tahu aku begini, bisa dipiting leherku pakai teknik judo-nya.
“Namanya juga usaha. Kali aja lucky.”
Eca bisa bicara dengan percaya diri karena speknya juga seorang dewi. Dia cantik dan tidak sombong. Tapi sayangnya sudah sold out alias sudah punya pacar. Jadi Eca ini bermaksud untuk menjodohkanku dengan asdos ganteng itu karena dia tak tahu aku bahkan sudah menikah.
“Nggak usah ngaco deh, nanti aku didatengin fansnya,” bisikku pada Eca yang sedang menahan tawanya agar tidak keluar.
“Kalau nggak ada pertanyaan lagi, kelas bubar yah. Ketemu lagi hari jumat.”
__ADS_1
Kelas pun selesai dan aku mulai melangkahkan kaki keluar dengan malas. Eca pamit pulang lebih cepat karena sudah ditunggu pacarnya. Rasa iri mulai bergelayut dihatiku. Para gadis seumuran Eca ini memang sedang menikmati masa-masa indahnya pacaran. Beda sekali denganku. Belum pernah merasakan pacaran sudah dinikahkan dengan duda beranak satu pula.
Aku berjalan sambil memasukkan buku ke dalam tas sehingga tak melihat ada orang di depanku. Jadinya, aku tak sengaja menabrak seseorang hingga nyaris terhuyung ke belakang. Orang tersebut lantas menarik tanganku agar tak terjatuh meski akibatnya buku-buku ku tadi malah berceceran di lantai. Aku mendongak untuk melihat siapa orang yang kutabrak itu, dan rupanya dia adalah kak Rendi. Asisten dosenku.
“Ma….maaf,Pak.”
Aku gugup karena sebelum tahu dia siapa, aku memanggilnya dengan sebutan kak. Dan selama sesi kelas tadi, aku menggantinya dengan sebutan Pak karena dia dosenku.
Ka Rendi tersenyum lebar ala pepsodent sambil membantuku mengutip buku di lantai.
“Kok jadi manggil bapak?”
Aku nyengir mendengar pertanyaannya itu, “Ya kan, kakak itu eh bapak itu dosen saya.”
“Panggil aja kayak biasa.”
“Emang di dalem kelas boleh aku panggil kak?” candaku.
Kak Rendi tersenyum tipis dan itu manis banget kayak lapis legit, duh!
“Boleh. Khusus buat kamu.”
Oalah buk. Amalan apa sih yang ibu buat waktu hamil anakmu ini? Kenapa aku bisa di kelilingi oleh pria-pria tampan?
“Heh! Mana bisa begitu.”
“Gimana waktu pulang pelantikan om Aiman kemarin? Gala nggak apa-apa kan?”
Aku sempat bengong beberapa saat untuk mencerna ucapannya. Setelah kuingat-ingat kejadian waktu itu, barulah aku aku sadar apa yang tengah ia pertanyakan.
“Oh itu. Nggak apa-apa kok. Gala aman-aman aja.”
“Kadang memang suka gitu. Jadi polisi apalagi kayak om AIman yang kerjanya di bagian sat reskrim bisa bikin was-was karena sering dapet ancaman.”
Aku tak nyaman jalan bareng dengan kak Rendi saat ini. Karena setelah kupantau, aku sedang dilihatin oleh para mahasiswi yang kebetulan kami lewati. Dan mereka kelihatan sinis.
“Ancaman apa kak?”
“Ya semacam orang-orang yang nggak terima anggota keluarga atau rekan mereka ditangkap karena kasus tertentu, jadinya kalau ada yang kenal sama anggota keluarga polisi itu, mereka sering meneror gitu,” tukas kak Rendi dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Aku yang tadinya tak serius mendengarkan, setelah mendengar penuturan kak Rendi barusan jadi kepikiran soal ini. Jalan manusia mana yang tak punya hambatan? Apalagi seorang Aiman yang sering berhadapan dengan orang jahat.
“Iya juga yah. Jadi gimana dong?”
Kak Rendi meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku. Tentu saja sambil mengusap-usapnya dengan lembut. Dia yang setinggi tiang listrik tentu saja membuatku mendongak kaget. Sampai aku tak berani untuk menoleh ke kiri atau ke kanan.
“Ya mudah-mudahan nggak begitu. Lagian kan kamu ponakannya. Biasanya yang diincer mah istri atau anak.”
Nah itu dia bang! Aku ini biniknya. Terancam lah nyawaku!
“Mudah-mudahan nggak terjadi hal semacam itu. Jarang kok. Satu banding sepuluh sih yang begitu,” terangnya.
“Opps. Kakak udah bikin aku jantungan tadi.”
Dia malah tertawa nyaring sekali. Aku tak mengerti, dari sudut mana aku ngelawak untuknya.
“Boleh tukeran nomer nggak?”
“Hah? Untuk apa kak?”
“Ya kalau ada apa-apa dan om Aiman nggak bisa bantu, kamu bisa hubungin aku. Yah kita bisa saling jaga aja.”
Eca mana Eca? Kalau dia ada di sini, dia pasti ketawa paling kenceng karena bukan aku yang ngemis minta nomernya tapi malah kak Rendi sendiri yang nawarin diri.
Tapi siap-siap aja, mungkin kegiatan ngampusku jadi kurang nyaman karena lirikan sinis para fans-nya kak Rendi sejak tadi.
“Maaf kak, aku nggak hapal nomerku sendiri.”
“Minta sama Raka boleh?”
Kak Rendi masih berusaha.
“Dia juga belum simpen nomer aku.”
Raut wajahnya berubah sedih. Ya tentu saja karena aku tak memberinya nomer ponselku. Bukan aku nggak mau sih, tapi aku sedang malas dikepoin sama si Aiman nantinya. Meskipun aku punya kebebasan untuk bisa dekat sama siapapun, tapi kenapa hatiku gelisah yah kalau kulakukan tanpa sepengetahuannya?
Apa AIman juga ngerasa begitu?
Aneh sih, padahal kami berdua jelas-jelas menikah tapi nggak berperan seperti suami istri yang sebenarnya. Kenapa pula aku harus merasa tak enak seperti itu? Apa aku mulai ke bawa peran jadi istri beneran yang ingin setia?
__ADS_1
Wah…kacau nih.