ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
3. Usil yang di sengaja.


__ADS_3

"Si_ap.. saya tidur." Jawab Bang Ranjha terdengar sedikit ragu.


Kening Ayah Rojaz berkerut. Sudah pasti dirinya yang lebih senior paham dengan keadaan.


...


"Kamu naksir putri saya?"


"Siap.. Ijin.. tidak berani komandan." Jawab Bang Ranjha.


"Putri saya cantik atau tidak?"


"Siap..... Cantik komandan." Bang Ranjha menurunkan nada suaranya.


"Bohong kamu, kalau begitu Kinan tidak cantik donk..!!" Entah apa tujuan Ayah Rojaz, pertanyaannya seakan memancing situasi.


"Cantik hanya bagian dari ilusi mata. Semua wanita adalah makhluk yang cantik."


"Kalau ini???" Ayah Rojaz melempar sebuah foto di hadapan Bang Ranjha. "Itu Shima putri saya."


"Usianya beda beberapa bulan dari Gumarang." Kata Ayah Rojaz.


Kening Bang Ranjha berkerut, jelas dirinya tidak paham silsilah keluarga Pak Rojaz, tapi semua ini sangat membingungkan.


"Jika di matamu Shima cantik, mungkin karena dia sudah lebih dewasa tapi ingat Ranjha, Shima adalah putri kandung saya.. tapi kecil bukan berarti Kinan tidak memiliki kecantikan itu. Yang jelas keduanya adalah putri kesayangan saya. Jadi, jangan pernah mempermainkan putri saya..!!"


"Siap Dan."


...


Sepanjang jalan tadi Bang Ranjha terus memikirkan ucap Pak Rojaz. Ia membuang jauh pikirannya tentang Shima tapi pikirannya hanya terpaku dengan satu nama. Kinan. Ia pun memanggil staff di Batalyonnya.


"Pak Erky, bisa saya minta data diri tentang Pak Rojaz??"


"Siap.. ijin Dan, Mohon maaf.. ada masalah apa?"


"Saya, hanya penasaran dengan jati diri putrinya Kinan." Jawab Bang Ranjha.


"Baik Dan." Kata Sertu Erky menyanggupi.


~


Bang Ranjha menunduk memejamkan matanya sejenak. "Jadi Wening Kinantan Nilakantri adalah putri almarhum Kapten Armayudha. Tapi kedekatan Pak Rojaz dan Kinan tidak seperti mereka bukan ayah dan anak."


"Jhaaa.. pinjam baju olahraga mu donk..!! Aku malas pulang ke mess." Pinta Bang Ardhito langsung membuka ruangan Bang Ranjha.


"Mau apa??"


"Mau lari siang. Anaknya Pak Rojaz datang dari Jogja."

__ADS_1


"Siapa?? Kinan??" Tanya Bang Ranjha.


"Aahh.. kau ini hanya tau Kinan saja, Kinan masih anak-anak. Shima, putrinya yang bernama Shima." Jawab Bang Dhito dengan semangat perjuangan.


"Kau saja, aku malas. Ambil sendiri bajunya di lemariku..!!" Kata Bang Ranjha.


Bang Dhito berlari setelah membanting pintu ruangan Bang Ranjha. "Apeeell.. apeeell.. lari siang..!!!" Terdengar perintah Bang Dhito meneriaki anggotanya.


"Sekarang Dan?" Tanya seseorang di luar sana.


"Besok ba'da maghrib.. ya sekarang..!!!!!" Jawab Bang Dhito.


"Apa sih rasanya jatuh cinta? Semua wanita hanya bisa menyusahkan. Aku sering pacaran tapi belum pernah merasakan apa yang di jabarkan Dhito. Apa 'tegang' juga bagian dari jatuh cinta??" Gumamnya.


tok.. tok.. tok..


"Ijin Abang..!!"


"Masuk..!!" Bang Ranjha melihat Bang Gumarang masuk ke dalam ruangannya. "Mau kirim resep obatnya Kinan ya?"


"Bukan Bang, saya mau minta tanda tangan Abang untuk kegiatan kesehatan besok. Obatnya Kinan sudah saya tebus."


"Mana nomer rekeningmu? Kinan tanggung jawab saya..!!" Kata Bang Ranjha sambil menggores pena di selembar kertas yang di bawa Bang Gumarang. "Boleh saya tanya?"


"Siap.. silakan Bang."


"Ijin Abang.. sedikit cerita. Papa saya. Kapten Lanang Armayudha, adik saya.. Kinantan Nilakantri.. Papa meninggal karena... sakit. Setelah itu Ayah Rojaz menikahi Mama, yang sudah memiliki Shima dan Katon. Ayah dan Mama memutuskan untuk tidak punya anak lagi, tapi bulan kemarin Ayah memberi kabar kalau ternyata Mama......" Bang Gumarang malu juga untuk bercerita tapi memang begitulah keadaannya.


"Ya.. yaaa.. saya paham. Kebobolan. Ya sudah itu urusan kepala suku. Hmm.. jadi memang sedekat itu ya Ayah dan Mamamu?"


"Siap.. kami sekeluarga tidak ada yang saling iri dengki Bang. Semua saling sayang, meskipun terlihat jelas Ayah sayang sekali dengan Kinan, itu karena dulu Kinan sering sakit Bang. Sakit Asma Bang, tapi Kinan juga bisa masuk kuliah perawat dengan persyaratan sakitnya tidak kambuh lagi selama kurang lebih satu tahun. Jadi karena alasan itulah Ayah mengijinkan Kinan sekolah perawat. Sakitnya kambuh di tempat dingin Bang."


Bang Ranjha mengangguk paham. Ia kembali membaca salinan surat ijin.


"Besok ada pengecekan kesehatan dari rumah sakit sebelum kita berangkat terjun Bang. Abang berkenan di periksa dokter saja atau berkenan jika perawat praktek ikut memeriksa Abang." Tanya Bang Gumarang.


"Adikmu juga nggak apa-apa Rang." Jawab Bang Ranjha. "Hmm.. maksud saya kalau adikmu salah check up, biar saya saja yang tau. Butuh penilaian juga khan mahasiswanya??" Alasan Bang Ranjha.


"Siap.. betul Abang." Bang Gumarang menyetujui pemikiran Bang Ranjha.


"Oke.. saya siap saja."


***


"Pagi Dan..!!" Para anggota memberi hormat dan jalan untuk Bang Ranjha dan Bang Dhito.


"Pagi bro.."


"Ya.. selamat pagi." Jawab Bang Ranjha memang tidak pernah meninggalkan wibawanya.

__ADS_1


Kinan melihat data di pasien yang akan di check up kesehatan olehnya. Nama Lettu RIASAT RANJHA HARMAPALA ada disana.


"Silakan duduk..!!" Kata Kinan berusaha profesional. "Saya cek dulu tekanan darahnya ya Pak."


"Saya yang akan banyak menekan, jangan khawatir.. pasti stabil." Ucap lirih Bang Ranjha.


Jawaban itu langsung membuat wajah Kinan menjadi masam.


"Normal, silakan di tampung urine nya ya Pak Riasat." Kinan meletakan tabung kecil sedikit kasar di hadapan Bang Ranjha.


"Test urine itu yang bagaimana? Saya nggak paham." Goda Bang Ranjha dengan senyum menyebalkan.


"Jangan pura-pura Pak Ranjha. Ingat disini banyak obat lumpuh. Mau???" Jawab Kinan dengan jengkel.


Bang Dhito yang biasanya usil sampai ternganga. Tak biasanya sahabatnya itu celamitan dan banyak bicara seperti ini apalagi berinteraksi dengan wanita.


Bang Ranjha pun beranjak.


"Jangan lama-lama ya Pak. Mau test darah juga..!!" Kata Kinan.


Bang Ranjha hanya mengacungkan jempolnya. Para anggota disana merasa takjub karena bisa melihat momentum langka Letnan Ranjha menggoda seorang wanita.


:


Bang Ranjha meletakan sample urine nya lalu menuju meja Kinan lagi.


Kinan sedikit gugup karena Bang Ranjha adalah orang pertama yang akan menjadi bahan prakteknya setelah kemarin dirinya hanya mempelajari situasi lewat teori.


"Om.. ini praktek pertama Kinan. Kalau Kinan salah tusuk, jangan marah ya Om." Bisik Kinan sambil meletakan ujung jarum suntik di lipatan siku Bang Ranjha.


Bang Ranjha mendekatkan wajahnya pada wajah Kinan. "Om Ranjha tusuk balik." Bisiknya sembari mengedipkan mata tapi tangan kekarnya sedikit menggeser letak jarum suntik tersebut lalu menusuknya.


Kinan kaget dan gugup sampai darah Bang Ranjha tercecer di atas meja. "Oomm.. darahnya..!!!" Kinan bingung mencari peralatan medisnya yang belum terlalu siap di meja.


"Eegghh.. Saya mau mati kehabisan darah..!!" Bang Ranjha memercing kesakitan kemudian tiba-tiba Bang Ranjha lemas, matanya terpejam hingga kemudian tak sadarkan diri. Para anggota lumayan kaget, tapi mereka tetap membantu Letnan Ranjha yang tiba-tiba tak lemas dan pingsan.


Dari jauh ada empat pasang mata yang melihat kejadian tersebut.


"Bang, benarkah tentara selemah itu?" Tanya Ayah Rojaz dengan wajah berang.


"Saya juga bingung, sebenarnya dia tentara atau aktor FTV. Firasatku, sebentar lagi kita akan gelar pedang pora." Jawab Papa Renash.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2