ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Berbaikan


__ADS_3

“Mama udah sehat?” tanya Gala begitu ia keluar dari kamarnya.


Dengan piyama dinasaurus hijau kesukaannya, Gala datang memelukku yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil ini. Lebih tepatnya sih memanaskan makanan yang kemarin dibawa ibu mertua dan kakak ipar.


“Lumayan. Gala sikat gigi dulu sana, habis itu bangunin papa terus kita sarapan.”


“Papa sama mama udah nggak berantem, kan?” tanya Gala dengan tatapan memelas.


Aih…apa dia masih kepikiran soal kemarin? Untung saja Gala nggak cerita soal pertengkaran kami pada Oma dan tantenya kemarin. Kalau tidak, mungkin kami sudah di sidang selama berjam-jam.


Aku terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya itu. Well….aku tak bisa bilang bahwa kami sudah baik-baik saja. Justru tadi malam terjadi hal yang membuatku tercengang sampai-sampai om sompret itu ingin kutelan hidup-hidup.


Setelah kejadian tersedak itu, Aiman mulai bertingkah aneh. Atau mungkin sebenarnya sudah aneh sejak aku sakit beberapa hari yang lalu.


Aiman mulai uring-uringan seperti kucing garong. Ke sana kemari mencari perhatianku lewat hal-hal kecil. Seperti menawarkanku membeli makanan yang ingin kumakan, memperhatikanku untuk minum obat secara teratur, mencoba untuk memasak walaupun hasilnya kacau balau, mengajakku bercerita, dan yang paling aneh adalah membiarkanku tidur satu ranjang dengannya.


“Mel….jangan maksain diri. Tidur di sofa bisa buat kamu masuk angin,” bujuknya yang malah membuatku teringat akan kata-katanya ketika kami tiba di Jakarta.


“Nggak. Di sini lebih nyaman daripada nanti takutnya terjadi apa-apa.”


Aku bisa mendengar suara deritan ranjangnya ketika aku selesai bergumam. Kuintip dia dari pantulan kaca yang ada di lemari besar. Aiman ternyata tengah berpose memiringkan badannya ke arahku sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangannya.


“Aku nggak akan apa-apain kamu, Mel.”


Aku kembali pura-pura tidur sambil mendengarkan ocehannya.


“Aku bisa jamin sampai kamu nerima kesepakatan baru kita.”


“Kesepakatan apa sih? Jadi istrimu kamu beneran?”


“Iya.”


“Enggak. Karena aku nggak mau sakit hati lebih dalam.”


Aiman terdengar menghela napas panjang lalu suara kakinya seperti mendekat ke arahku. Dan benar saja, tubuhku tiba-tiba terangkat dari sofa dikarenakan Aiman menggendongku. Ia membuatku berada dibuaiannya lalu dengan paksa membawaku ke atas tempat tidurnya. Aku sempat ngelag sebentar, hingga aku berontak setelahnya ketika ia meletakkanku dengan hati-hati ke ranjang sambil menatapku dengan sebuah senyuman kecil.


Senyuman penuh dengan niat tersembunyi.


“Ngapain sih? Aku udah biasa tidur di –“


Aiman dengan cepat menutup mulutku. Ia berusaha membuatku diam dengan telapak tangannya yang besar. Mata kami saling bertemu. Dan hal itu terjadi beberapa menit sebelum akhirnya Aiman berbisik di depan wajahku.


“Sekali-kali nurut kata suami, Mel. Aku janji nggak ngapa-ngapain kalau kita tidur seranjang.”


“Kenapa berubah pikiran? Dulu bukannya kamu yang nyuruh aku tidur di sofa?” tanyaku dengan masih berhadap-hadapan dengannya.


Apa kalian tahu? Aku bahkan bisa mendengar napasnya sanking dekatnya kami bicara saat ini.


“Situasinya kan beda. Kamu lagi sakit. Nanti nggak sembuh-sembuh.”


“Oh….jadi itu alasannya. Karena kamu nggak mau ibu sementaranya Gala kelamaan istirahat.”


Aiman menghela napasnya lagi sambil menggosok-gosokkan keningnya sendiri dengan jarinya. Mungkin speechless karena aku masih terus mengungkitnya.


Ya! Begitulah sifat wanita. Mereka mudah memaafkan, tapi tidak dengan melupakan!


“Masih aja ngomong gitu,” balasnya dengan nada ngambek. “Saya minta maaf soal itu. Saya janji nggak akan ngomong kayak gitu lagi,” tuturnya kali ini dengan lembut.


Aku mengacuhkannya sambil mencebik.


“Dan satu lagi. Saya nggak punya hubungan apa-apa sama Raline. Sumpah, demi Allah.”


“Tapi dia ngejer-ngejer kamu tuh.”

__ADS_1


“Kan dia yang ngejer saya, bukan sebaliknya.”


“Tapi kamu mau-mau aja. Pasti tahu kan kalau Raline tuh ngejer kamu? Nggak mungkin enggak. Elah dasar playboy karet.”


Aiman malah senyum-senyum sendiri ketika aku sedang menginterogasinya. Sungguh…menyebalkan sekali bapak-bapak ini.


“Kamu cemburu, Mel?”


Eh, masa’ sih aku cemburu?


“Enggaklah!” sangkalku.


“Tapi saya cemburu lihat kamu akrab sama Rendi.”


Eh?


Dasar om-om labil. Katanya sudah sulit buat suka sama seseorang. Tapi kenapa pakai cemburu segala?


“Mana mungkin. Kamu kan nggak suka sama saya.”


“Tapi itu yang saat ini saya rasakan.”


“Itu namanya egois. Kamu nggak berhak bilang cemburu sama orang yang bahkan nggak kamu suka.”


Begitu mendengar ucapanku, Aiman langsung terdiam. Dia menatapku cukup lama sampai akhirnya aku sendiri lah yang melepaskan diri karena risih terus-terusan ditatap seperti Ozan.


Tapi tak lama Aiman kembali merangkulku sampai aku tenggelam dalam pelukannya. Dan kalian tahu Wak gimana rasanya dipeluk Aiman?


Nyamaaaaan banget karena dia punya dada yang bidang selebar lapangan pingpong. Belum lagi dia wangi. Beuuh! Boneka beruangku pun kalah!


“Kasih saya waktu, Mel. Saya akan belajar untuk melupakan rasa sakit hati di masa lalu. Setelah itu….saya akan coba mencintai lagi. Dan itu cuma sama kamu,” ungkapnya dengan yakin.


Bagaimana saudara-saudara? Apa ucapan Aiman bisa dipercaya?


Aku sih…enggak.


Kembali ke pertanyaan Gala.


Dengan tenang kusampaikan berita bagus untuknya bahwa kami sudah tak bertengkar lagi. Yah….mungkin untuk saat ini. Ke depannya tak ada yang tahu. Bisa jadi akulah yang merusak suasana nantinya. Atau bisa jadi malah Aiman yang memulai kisah baru dengan seseorang.


Aku harus siap sedia dengan hubungan ini. Karena memang dari awal kehidupan rumah tangga ini dibangun bak cangkang telur yang mudah rapuh. Kapan saja bisa retak dan kapan saja bisa hancur berantakan.


Ada saat-saat di mana aku merasa nyaman dengan keluarga kecil ini. Kakiku seperti enggan untuk pergi walaupun baru beberapa bulan kami bersama.


Namun adapula saat-saat seperti ini terjadi kan? Di mana aku mulai serakah dan ingin menjadi satu-satunya, tapi nyatanya lawan jenisku tak menganggapku selamanya akan ada bersama mereka. Lantas bagaimana aku harus bersikap? Bertahan tanpa dianggap apapun, itu perbuatan sia-sia.


Aku bukan tipe perempuan yang rela dimanfaatkan!


“Enggak kok. Kita berdua udah baikan.”


“Serius?”


“Dua rius Gala,” sahut Aiman yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.


Aiman datang mendekati putranya. Ia lantas menggendong Gala naik ke pundaknya lalu diguncang-guncang hingga anak itu tertawa sambil mengeluarkan airmata. Setelah puas menghibur putranya, Aiman pun berhenti. Mereka berdua lekas duduk di pantry dapur yang di sana sudah kusajikan dua piring nasi goreng yang siap untuk disantap.


“Kalau papa udah baikan sama mama, cium dong kayak waktu itu.”


Aku yang sedang minum, langsung tersedak mendengar ocehan bocah itu. Berbanding terbalik pula dengan Aiman, yang malah dengan santainya menarik pundakku lalu mencium pipiku tanpa izin di hadapan anaknya.


“Udah kan? Nanti cerita ke om Raka sana kalau papa sama Mama udah baikan.”


Gala tertawa nyengir sambil menunjukkan dua jempol mungilnya. Aku masih mengerutkan kening ke arah Aiman yang terlihat bahagia sekali.

__ADS_1


“Terus-terusan yah nyari kesempatan,” cubitku di bagian perutnya.


Aiman tergelak sambil memitingku dengan sebelah tangannya.


“Namanya juga usaha —”


“Usaha apaan?”


“Kalau beneran udah fit, kita ke taman Safari yuk,” Aiman mengalihkan pembicaraan.


“Safari? Kemana tuh?”


“Yey! Kita mau ke taman Safari, Pa?”


Aiman mengangguk sambil menggendong Gala lagi.


“Iya. Mau nunjukkin mama, hewan apa yang mirip sama mama kamu ini.”


Dih pasti mau nunjukkin yang jelek-jelek.


“Mau ya, Ma. Gala mau mama ikut,” rengeknya yang membuat hatiku tentu saja langsung melunak.


“Emang kamu nggak kerja?”


“Kan masih ngambil cuti.”


Tanpa ba-bi-bu aku mengiyakan ajakan tersebut. Dan Aiman memberiku dua jempolnya lagi sebagai bentuk rasa terima kasihnya.


Tapi kepalaku langsung pusing karena ajakan ke taman Safari yang mendadak dangdut ini. Maka jadilah persiapan pun tak dilakukan secara sempurna.


“Nggak usah repot-repot. Kita bisa beli aja kalau ada yang kurang.”


“Yakin bawa ini aja cukup?” tanyaku yang cuma bawa sedikit cemilan, air minum, serta baju ganti yang mungkin diperlukan.


Untuk bekal pun, aku cuma masukkan bekal lauk yang kupanaskan tadi. Rasanya ada yang kurang. Tapi Aiman memastikan itu tak jadi masalah karena nanti bisa disusul belinya.


“Oke. Nggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Aiman saat ia mulai mengunci pintu rumah.


Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, terdengar suara mobil lain yang berhenti tepat di depan pagar rumah. Aku pikir itu Raka karena memang setiap hari dia pasti mampir ke sini.


Tapi ternyata bukan.


Dia Susan —mantan istri Aiman— yang datang membawa hand bag besar yang langsung dia berikan kepada Gala yang berdiri tepat di sampingku.


Sebenarnya….aku sedikit terganggu dengan caranya menarik Gala dari peganganku. Ia menarik Gala seolah-olah aku telah merebut anak itu darinya.


Tapi ya sudahlah. Aku tak bisa melawan. Karena bagaimanapun, Gala memang anaknya Susan yang sampai kapanpun, aku tak berhak untuk melarang mereka untuk bertemu, kan?


“Kok ke sini nggak bilang-bilang dulu?” tanya Aiman dengan nada sedikit ketus.


“Mau ketemu anak sendiri kok pake bilang-bilang sih mas?”


“Kan waktu itu aku udah —”


“Yayaya aku tahu itu salah. Tapi aku nggak bisa lagi mas kamu gituin. Karena rasa rindu aku ke Gala itu besar banget. Kamu udah bawa dia ke Medan cukup lama. Jadi boleh dong kalau aku sering-sering tengokkin Gala.”


Aiman terlihat memijit keningnya sambil menunduk. Beliau mungkin tak bisa berkata-kata karena Susan sepertinya cukup keras kepala untuk dinasehati.


Kasihan juga om ini. Dapat istri dan mantan istri yang sama-sama keras. Hah!


“Terserah kamu aja. Tapi hari ini nggak bisa karena kita mau keluar.”


“Oh! Pada mau kemana? Aku boleh ikutan nggak? Udah lama loh mas, kita nggak jalan-jalan. Boleh kan?”

__ADS_1


Alamak. Situasi macam apa ini?


Kenapa yah perasaanku jadi nggak enak setelah janda ini muncul di sini?


__ADS_2