
Setiap hal dalam tubuhmu itu sama berharganya dengan apa yang ku punya. Dalam siksaan dan sakit, itu tetap saja sama aku juga merasakannya. Aku telah memilihmu, menjadi kanmu milikiku seutuhnya. Aku tak membutuhkan apa-apa lagi, kecuali nafasmu.
Tersenyumlah, karna dengan senyumanmu seluruh dunia berhenti bergerak dan memandangmu sejenak, karena kamu luar biasa, apa adanya. Tanpa ada yang direka.
Pagi yang indah menampilkan cahaya terang yang memancar ke tubuh kekar Argandi Argam. Pria itu tengah menghabiskan watu paginya dengan berolahraga. Rara datang dengan membawa satu gelas jus buah segar untuk om suami.
"Pagi mas"
Sapa Rara manja sembari mengecup pipi suaminya yang lembab karna guyuran keringat. Tangannya terulur menghapus bulir bening yang mengalir dari kening suaminya. Handuk putih nan lembut itu bermanja di atas wajah, leher dan dada bidang suaminya.
Gandi terpejam meresapi setiap sentuhan lembut jemari istrinya.
"Sayang, tanganmu terlalu lembut hanya untuk sekedar menghapus peluhku. Sentuhan jemarimu membuat tubuhku menuntut seseatu yang lebih"
Bisik Gandi manja tepat di ceruk leher istrinya.
"Mas ini di ruang terbuka, bagaimana jika mbok Jah melihat kita?"
Gandi tak menjawab, pria itu membopong istrinya menuju kolam renang. Gandi menuruni tangga kolam renag dengan Rara dalam gendongannya.
Tubuh mereka mulai tenggelam di dasar kolam. Gandi memeluk tubuh sintal itu penuh kehangatan. Kemudian Gandi berbisik dengan aura kegelapan.
"Mas, menginginkan sesuatu yang beda sayang"
"Tapi mas. ini di kolam loh. Bagaimana jika tiba tiba mbok Jah ke belakang."
"Tenang sayang, semua akses untuk masuk ke taman belakang sudah mas tutup otomatis, jadi kamu gak perlu hawatir."
Bisik Gandi serak, suaranya mulai tercekat.
Gandi terus mencicipi suguhan hangat yang ada pada tubuh istrinya. Setiap pergerakan tubuh mereka menciptakan gelombang pasang dalam kolam.
"Maaass"
Bisik Rara manja.
"Heeem, gumam Gandi menahan suaranya. Yang terdengar menghoda.
Mata Rara terus terpejam, membentuk gerakan yang sempurna di setiap kelopaknya.
"Pelan-pelan, kasihan dedeknya di dalam, kalau mas terlalu kuat"
"Maaf mas kelepasan"
Gandi kembali menciptakan gelombang kejut di dalam kolam renang. Seketika Rara mencengkram lembut punggung suaminya. Mereka semakit mengetatkan pelukan mereka masing masing.
Setelah gelombang-gelombang itu mulai tenagang, Gandi menangkup Rara dengan kedua telapak tangan besarnya. Membisikkan lembut kata pujian tepat di wajah basah Rara.
"Meski perutmu besar, kamu masih lincah dalam setiap gerakan, kamu istri yang luar biasa, sayang"
Rara mendongak menatap suaminya untuk mensejajarkan tinggi mereka, bibirnya tersenyum sedikit terbuka, seolah benda kenyal nan basah itu minta untuk di jamah.
Mereka melanjutkan seolah tengah bermain-main air, namun dengan sensasi yang berbeda, Ia terus memanggil gelombang itu lagi hingga mereka merasakan tubuh yang benar-benar lelah.
Gandi kembali membopong wanita yang tengah berbadan dua dengan hati-hati. Setelah mengenakan pakaiannya Gandi membawa istri kecilnya masuk kedalam rumah.
Setelah enam bulan berlalu tak terasa Rara tengah hamil empat bulan.Gadis itu kebobolan, ia hamil lebih cepat dari yang ditentukan dokter pasca oprasi. Namun tidak ada masalah, yang penting Rara harus rutin cek ke dokter kandungan.
Tak hanya itu penglihatan Gandipun telah pulih kembali, meski belum pulih total, penglihatannya masih sedikit membayang.
"Mas, Rara bahahia bisa menghabiskan waktu libur bersama mas. Semenjak mas mulai aktif di kantor, waktu mas banyak berkurang untuk Rara"
Ucap Rara manja sembari mengalungkan tangan putih itu di leher kekar suaminya.
"Maaf, mas benar-benar sibuk sayang, kamu tauhkan, semenjak mas kehilangan penglihatan mas, banyak pekerjaan mas yang terbengkalai"
Jelas Gandi pada istrinya.
"Iya mas, Rara paham betul jika soal itu. Rara hanya bersyukur kok, hari ini kita bisa menghabiskan waktu berdua dengan indah.
Gandi tersenyum manis. Menatap bulu mata istrinya yang lentik.
Setelah sampai di kamar mereka, dengan hati-hati pria itu membaringkan istrinya di atas ranjang. Saat ini Gandi ingin memanjakan sang istri.
"Makan dulu yadek! baru tidur. Mas bawakan nasinya ke sini. udah siang soalnya."
Rara menganggukkan kepalanya manja.
Saat Gandi hendak beranjak, Rara menarik tangan suaminya.
__ADS_1
"Ada apa?
Tanya Gandi bingung. Rara meraba lembut leher kekar suaminya.
"Maaf, leher mas kotor karna jejak Rara"
Gandi tersenyum manis kearah istrinya.
"Gak papa sayang, itu bukti cinta kamu kepada mas"
"Tapi mas, bagaimana besok mas ke kantor, dengan leher yang penuh bercak seperti itu?"
Gandi kembali tersenyum.
"Gak papa, emang sapa yang berani protes dengan leher mas, lagi pula ini tanda cinta dari kamu mas suka itu. Palingan Reno yang protes"
"Iya tapikan mas, tetap aja Rara malu, apa kata mereka nanti, palingan mereka mencibir Rara, kecil-kecil ganas gitu"
Melihat kehawatiran istrinya Gandi tertawa, sedikit terbahak.
"Kamu itu lucu Ra. Kok mikirnya sampe ke sana, mas aja gak kepikiran sampe kesitu."
Ucap Gandi jujur. Rara manyun cantik menatap suaminya.
Lalu gadis itu turundari ranjang, ingin duduk di sofa.
"Ya sudah, mas kebawah dulu ambil makan untuk kita"
Gandi turun menuju meja makan
"Mbok, tolong siapin makanan di nampan ya, kami makan di atas saja"
"Iya tuan. Sebentar simbok siapkan."
Setelah menikmati santap siang, akhirnya mereka berdua tidur, menghabiskan waktu istirahat siang.
Setelah lima bulan berlalu, kehamilan Rara semmakin mendekati waktu-waktu bersalin.
Saat ini Gandi tengah di kantor, sementara Rara dirumah bersama mbok rum.
Rara berjalan-jalan santai di taman belakang sembari menikmati taman mawar yang beraneka warna.
"Mbok, bisa buatkan Rara jus mangga."
"Iya non, bentar simbok buatin"
"Mbok, aduh mbok perut Rara, mbok"
Mbok Jah berlari mendekat.
"Ya Allah non. Non mau melahirkan! "
"Aduh mbok, sakit mbok! "
"Ya non sebentar, simbok telpon tuan dulu"
Mbok Jah berlari kedalam rumah, menelpon majikannya. Lama rasanya menunggu telponnya diangkat, mbok jah gelisah. dengan nekat mbok jah akhirnya hanya memanggil suaminya yaitu pak Tejo.
Mereka saat ini sudah sampai di rumah sakit bersalin diantar Pak Tejo.
"Ya Allah, mbok sakit rengek Rara. Saat mereka menuju Ruang bersalin ternyata Gandi datang, karna di telpon pak Tejo.
Pria itu tampak, berlari tak sabar ingin segera sampai di samping istri tercinta.
"Sayang, maaf mas terlambat"
"Mas, sakiiiiit!"
Rengek Rara manja.
"Iya sayang, mas tau itu sakit. bertahanlah sebentar lahi bayi kita akanlahir.
Setelah tim dokter menangani, akhirnya Putra mereka dilahirkan dengan semangat.
"Selamat pak, anak bapak laki-laki."
Gandi Bahagia mendengarnya.
"Terima kasih dok."
Dengan sayang pria itu menggendong putranya, dengan rasa bangga ia mengazankan putranya. Sungguh itu kebahagiaan yang luar biasa.
__ADS_1
Tak ada yang tau atas takdir tuhan, dulu mereka banyak menghadapi cobaan untuk sampai ketitik ini. Namu saat ini Gandi dan Rara hidup bahagia bersama buah hati mereka tercinta.
Setelah dua tahun membesarkan putra semata wayangnya tak terasa tumbuh menjadi putra yang tampan
"Sayang, sepertinya Kiano minta dedek baru"
Bisik Gandi menggoda.
"Maaas, Kiano masis kecil"
"Gak papa sayang, yang penting kita usaha dulu"
"Ya Allah mas. Bukannya tiap malam kamu gencar banget ya usahannya."
Gangi nyegir malu menatap istrinya.
"Mas mau usahanya sekatang, Ra"
Rara tepuk jidat lihat tingkah mesum suaminya.
"Kiano belum tidur mas"
Terang Rara lembut.
"Sini biar mas tidurin, Kianonya"
Dengan sabar Gandi menidurkan buah hatinya. Setelah tidur Gandi buru-buru keluar dari kamar putranya.
"Udah tidur? "
Tanya Rara pada sang suami.
"Udah"
Bisik Gandi lembut tepat di ceruk leher isyrinya. Perlahan Pria itu mendorong istrinya ke arah tembok. Ia endus setiap celah tubih istrinya. Ia lilitkan tangan kekar itu kemanapun ia mau, Rara terpejam meresapi setiap permainan sang suami.
Satu persatu kain penutup luruh ke atas lantai, sementara tangan putih Rara melingkar cantik di leher om suami hingga Rara seperti kukang yang tengah bergelayut manja.
Gandi bopong tubuh sintal itu menuju ranjang mereka, Gandi terus mencecap kebahagian dari setiap hembusan nafas sang istri, Perlahan Gandi mulai mengungkung tubuh mulus di hadapannya.
"Pelan-pelan, mas!"
Bisik Rara manja.
Gandi mengangguk tanda mengerti. Saat pucuk itu mulai bersarang. Ada suara yang tak asing di pendengaran mereka. Rara seketika mendorong tubuh suaminya cepat.
Sementara Gandi terduduk lesu di atas ranjang.
"Pa, pa, bobok" kata itu terus diulang, sembari tangan kecilnya terus memukul mukul daun pintu kamar papannya.
"Iya sayang kok gak tidur sih, papakan mau boboin mama. Kiano! " Ucap Gandi putus asa.
"Mas, kok gitusih ngomongnya sama anak kecil. Gandi meringis kemudian berjongkok menggendong putra krcilnya.
Akhirnya mereka batal buat dedek baru untuk Kiano, Rara dan gandi membawa Kiano bermain dan mewarna.Sungguh tak ada lagi kebahagiaan yang sempurna yang melebihi dari memiliki keluarga utuh.
Kesuksesan dan harta, bukanlah jaminan bisa membuat keluarga bahagia. Akan tetapi rasa cinta, waktu, dan kepedulian kita itu yang mereka dambakan. Sayangnya terkadang sangat sulit untuk mengungkapkan rasa sayang kita kepada keluarga.
Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Begitu juga dengan harta yang melimpah. Kalau punya harta banyak tapi tidak punya keluarga, hidup juga akan terasa hampa.
Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati.
Bersama keluarga, selalu saja terasa ramai dan damai, menyenangkan dan menenangkan.
Keluarga adalah satu-satunya tempat kita belajar arti kebahagiaan dalam kebersamaan.
Keluarga adalah ikatan jiwa yang penuh kasih, saling mempercayai dan saling memahami. Tak ada yang lebih penting dari keluarga.
Salam sayang dari author, 😘😘😘😘 untuk pembaca setia ISTRI MUDA semoga kita selalu dalam lindungaan Allah, baca terus yuk karya author yang lainnya.
DOSEN GRAY
AIR MATA CINTA
PERAWAN TUA. (khusus perawan tua masih author revisi)
AND
__ADS_1