ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
10. Menuju 'Halal'.


__ADS_3

Kinan tidur pulas usai bertempur habis-habisan melawan musuh.


Bang Ranjha pun segera meninggalkannya untuk menemui Bang Wibisana juniornya yang entah bagaimana keadaannya saat ia tinggalkan tadi.


:


"Nggak apa-apa Bang." Bang Wibi masih menyumpal hidungnya yang berdarah.


"Benar nih??? Awas saja kalau saya nggak di maafkan..!!" Kata Bang Ranjha dengan nada mengancam.


'Ini senior niat minta maaf atau tidak sih.'


"Mas Wibiii.. Masss..!!!" Ovi istri Bang Wibi seketika masuk ke ruangan dan mendamprat Bang Ranjha. Karenanya Bang Wibi langsung menarik istrinya itu.


"Eehh nggak boleh begitu, nanti yang di perut jadi galak. Tadi mas olahraga sama Bang Ranjha, terus terbentur lantai. Kamu datang kesini langsung marah aja. Ayo minta maaf sama Bang Ranjha..!!" Kata Bang Wibi dengan lembut.


"Maaf..!!" Ovi memalingkan wajahnya.


"Ii_iya." Jawab Bang Ranjha masih syok.


"Saya minta maaf Bang. Ovi hamil muda, dua bulan. Sensitif sekali, pemarah pula."


"Gitu ya kalau wanita hamil. Manja, pemarah, merepotkan sekali. Sepertinya saya nggak punya kesabaran sepertimu deh Bi." Kata Bang Ranjha masih meragukan dirinya sendiri, tak berani membayangkan hal jauh di luar kapasitas pikirannya.


"Tadinya saya juga begitu Bang, tapi kalau lihat istri hamil pasti segalanya akan berubah Bang."


Belum selesai urusannya dengan Bang Wibi, Kinan pun ikut masuk ke dalam ruangan dengan di antar Prada Ariel.


"Siapa yang hamil??" Tanya Kinan.


Bang Ranjha langsung was-was melihat raut wajah Kinan.


"Ii_ni.. Ovi." Kata Bang Ranjha sembari memastikan ekspresi wajah Kinan.


"Kenapa Om jahat sekali sih..!! Kinan khan juga hamil. Katanya Om mau tanggung jawab..!!"" Pekik Kinan sampai kemudian memukul Bang Ranjha membabi buta.


"Laahh mati aku kalau begini caranya. Eehh.. Kinaan, kamu hamil sama siapa?? Tenang dulu, malu banyak orang dek..!!"


"Nggak usah belaga lupa sama kejadian tadi ya Om..!!"

__ADS_1


Bang Ranjha semakin tak bisa menyembunyikan wajahnya yang belang bagai lampu traffic light di perempatan jalan saking malunya.


Ovi yang tadinya marah jadi ternganga sedangkan Bang Wibi menunduk terkikik geli.


"Okeee.. saya salah. Ayo pulang dulu. Kita bicara di rumah..!!" Secepatnya Bang Ranjha menggiring Kinan dan membawanya pulang. "Kamu juga harus hafalkan mars dan hymne khan??" Bujuk Bang Ranjha.


"Itu.. sepupu Mas ya??"


"Iya. Itu si Kinan, yang pernah mas ceritakan." Jawab Bang Wibi.


"Ya ampun Mas, bar-bar."


"Baru mau delapan belas tahun dek. Tugas Bang Ranjha tuh, momong istri muda. Padahal Bang Ranjha sendiri sumbu pendek. Jadi.. lihat saja nanti..!!"


...


Kinan sampai menangis karena sampai sore hari dirinya belum bisa menghapal apapun yang menjadi syarat pengajuan nikahnya.


Bang Ranjha pun mempersiapkan diri untuk esok hari melaksanakan test kekuatan renang sabagai salah satu syarat bisa lolos untuk pengajuan nikah.


"Om masih enak, hanya renang saja nggak pakai mikir. Kinan harus mikir sampai pusing." Protes Kinan.


"Kalau nggak mau punya istri ngomel ya jangan nikahi Kinan. Kinan bisa besarkan anak Kinan sendiri." Kata Kinan.


"Anak lagi.. kamu itu hamil sama siapa??"


"Ya sama Om. Bodo amat lah kalau Om nggak mau tanggung jawab." Kinan berjalan masuk ke dalam kamar.


"Ya Allah Ya Rabb, mumet.. mumet, suwe-suwe aku mati enom mikir kowe. Baru juga di charge, nggak mungkin langsung isi lah, bagaimana cara pikirmu itu????" Gerutu Bang Ranjha.


***


Bang Ranjha mengangkat tubuhnya keluar dari dalam kolam. Ia langsung berbaring di tepi kolam.


"Nilai yang bagus Bang, semangat halal Bang." Kata Bang Wibi menyemangati.


"Mana helm sama ranselnya Bang..!!" Bang Tyo membantu Bang Ranjha melepas helm.


"Sengsara sekali menuju halal. Kenapa masih banyak prajurit kita yang memilih mendua padahal menuju halal juga sangat berat. Jika kita mau di lantik menjadi seorang prajurit, maka mental dan fisik kita yang ditempa.. tapi jalan menuju halal, pikiran.. mental dan hati di uji habis-habisan secara bersamaan." Bang Ranjha menarik nafas yang perlahan mulai stabil.

__ADS_1


"Siap.. benar Bang." Jawab Bang Wibi.


"Dantooon.. ijin Dan. Ibu kabur pulang karena tidak mau mengikuti arahan melantunkan hymne." Teriak Prada Ariel dari jauh.


"Duuuhh.. kapan pengajuan ini cepat selesai kalau begini caranya." Gumam Bang Ranjha kemudian berlari mencari Kinan.


:


"Kinan nggak mau di perintah. Apa sih maunya meminta Kinan melakukan ini dan itu."


"Dimana pun kita berada pasti harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Menjadi seorang istri abdi negara memang tidak mudah. Semua yang ada bukan untuk memerintah ataupun mengaturmu, tapi lebih kepada agar hidupmu lebih tertata. Fisik, mental, morilmu akan di tempa untuk menunjang karir suamimu..!!" Bang Ranjha turut membujuk Kinan agar mau kembali mengikuti aturan yang ada sebelum masuk pada jenjang pernikahan. "Saya serius sama kamu Kinan. Inilah bukti dari janji saya bahwa saya akan bertanggung jawab atas diri kamu, seutuhnya."


Kinan terdiam sejenak. Sungguh semua ini tidak sesuai dengan pribadinya yang ingin bebas karena selama ini dirinya belum pernah merasa 'lepas'.


"Pelan-pelan saja tidak apa-apa. Jalani hidup ini sesuai prosesnya. Ayo saya antar kembali, nanti saya temani..!!"


...


Kinan berjalan menuju ruangan dan Bang Ranjha hanya mengantarnya hingga depan halaman.


Di saat yang sama samar telinganya mendengar suara bisik-bisik ibu pengurus ranting.


"Masih kecil sekali istri Letnan Ranjha, kasihan sekali ya Letnan Ranjha harus dapat istri semacam itu. Istri yang tidak bisa di andalkan dan hanya membuat malu."


"Benar sekali. Pak Ranjha adalah pria yang tegas. Bagaimana bisa mau menikahi gadis belahan tahun." Jawab ibu selanjutnya.


"Iya kalau masih gadis.."


"Hahahaha.."


Tawa riuh itu terdengar kencang. Kinan sedikit kesal mendengarnya ia pun membuka pintu ruangan tersebut.


"Atas nama pribadi dan nama calon suami saya.. saja mohon maaf, kita lanjutkan kegiatan hari ini." Kata Kinan menutupi perasaannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2