ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
BAB 39


__ADS_3

Kehilangan sering kali membuat manusia merasa tak mendapat keadilan dari Tuhan, Bahkan terkadang manusia dengan lancangnya menyalahkan takdir Tuhan, padahal sejatinya kitalah yang lalai dengan apa yang telah Allah berikan. Menangis meratapi, tak akan mengembalikan sesuatu yang telah hilang.



Tanah hitam berbentuk gundukan, berjejer rapi menghiasi tanah pemakaman. Angin lembut menyapa, seolah berbisik agar mereka mengikhlaskan. Gandi menangis dalam dekapan Rara, mereka tatap lekat-lekat batu nisa yang bertuliskan nama putrinya.



Mencintai tak harus hidup berdampingan dengan kita, mencintai banyak bermacam cara. Seperti Rara saat ini, karna rasa cintanya pada sang buah hati, yang telah pergi mendahuluinya, ia cukup mengirimkan doa dengan tulus untuk si buah hati.


Wajar memang jika kita merasa kehilangan, namun hal itu tak patut pula untuk kita jadikan alasan untuk menyalahkan orang lain.


Setelah satu minggu menjalani perawatan secara intensif, akhirnya bayi mungil itu pulang kepangkuan sang ilahi robbi.



Gandi duduk termangu, di kenopi kamar mereka. Rara mendekat, menyapa sang kekasih hati.


"Mas, masuklah. Hari sudah malam, tak baik untukmu angim malam seperti ini. Nanti kamu sakit. Mas!"


Dengan lembut gadis itu mengingatkan suaminya. Gandi hanya menoleh sejenak, setelah itu Gandi berlalu meninggalkan Rara begitu saja.


Gadis itu tak marah, dengan sikap om suami yang terkesan dingin padanya. Rara menelan salivanya dengan serat. Gadis itu bingunh menghadapi sikap om suami yang berubah dingin. Semenjak kepergian anak mereka.


"Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini terus? Aku tau mas kehilangan, aku juga sama mas. Tapi kita harus ikhlaskan. Mas"


Rara terus mencoba memberi pengertian.



"Diamlah Ra, kamu semakin membuat mas pusing" Ucap Gandi tak bersahabat. Rara tak menyangka suaminya akan berucap seperti itu padanya.


"Maaf, jika aku mengusik ketenanganmu," Rara keluar dari kamarnya. Menuju kursi santai di taman belakang. Air mata gadis itu mulai merembas. Ia tak menyangka, jika kepergian buah hatinya menjadikan rumah tangganya menjadi dingin, sikap Gandi yang dingin seolah menyalahkan dirinya, karna tak becus menjaga kehamilannya.


Padahal waktu gadis itu sakit, Gandi dengan setia menemani di sisi Rara bahkan pria itu, sampsi tak memikirkan kesehatannya sendiri. Setelah bayinya tiada, semua menjadi berbanding terbalik.


Hati gadis itu serasa dicubit nyeri. Namun ia tak mampu berbuat apapun. Mata sembab itu menatap jau ke atas langit gelap yang di terangi cahaya bintang. Matanya mulai tertutup rapat, gadis cantik itu terlelap di kursi taman belakang.



Gandi melihat jam analog yang terpatri di atas dinding kamarnya, hari makin larut namun gadisnya belum juga masuk ke kamar mereka. Pria itu pikir istrinya itu tidur di kamar bayi mereka seperti biasanya. Maka dari itu ia tak mencari. Gandi mulai berbaring, memejamkan mata lelahnya.


Gandi terjaga dipertigaan malam. Ia lihat kasur di sebelahnya masih kosong. Akhirnya pria itu keluar menuju kamar bayi mereka, Namun sosok yang ia cari tak ia temukan.


Gandi turun ke lantai bawah, semua lampu masih menyala, namun sosok yang ia cari belum terlihat. Gandi melangkah ke taman belakang. disana gadisnya tengah terlelap sembari memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Ra, bangun. Kenapa kamu tidur di sini?"


Ucap Gandi sembari menepuk-nepuk pipi istrinya.


"Mas belum tidur"


Tanya balik Rara, saat matanya tercelang.


"Tadi sempat tidur sebentar"


Rara bangun dari atas kursi.


"Ayuk mas, masuk"


Ajak Rara manja. Gandi ikut melangkah menuju kamar mereka.


"Lainkali jangan buat mas hawatir"


Ucapnya dingin.


"Maaf mas, aku gak bermaksud, membuat mas hawatir dan merepotkan mas"


"Tidurlah sudah mau subuh"



"Mas, aku ingin tidur dalam pelukanmu, seperti biasanya" Pinta Rara berharap. Karna semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Gandi tak sekalipun tidur memeluk Rara.


"Tidurlah Ra, Jangan banyak menuntut"


Rara kaget dengan ucapan suaminya itu, seketika tangan mungil Rara, menarik tubuh Gandi, hingga pria itu terlentang.


"Kamu aneh mas semenjak kepergian anak kita, apa kamu masih kekeh menyalahkanku mas?"


Gandi melirik Rara sekilas, kemudian bibir pria itu berucap, yang sebelumnya tak pernah gadis itu bayangkan.


"Ini semua, karna sikap kekanak-kanaanmu. Ra! yang menyebabkan anak kita pergi, semua apa yang kamu kehendaki harus dituruti, coba waktu itu kamu tak merengek memintaku, untuk membawamu ke bangunan tua itu, pasti saat ini anak kita masih dalam keadaan baik-baik aja"


Rara terdiam, dada gadis itu serasa di tikam belati. Ia tak menyangka suaminya akan menyalahkannya sejauh itu.


"Kamu pikir, kamu aja yang merasa kehilangan mas. Aku juga sedih, aku juga kehilangan, aku yang mengandung anak kita, di dalam rahimku ini dia sempat bersemayam, aku juga yang merasakan mabuk, saat usia kandunganku masih muda, mutah mual itu yang aku rasakan setiap hari. Lantas kamu pikir aku sengaja mencidrai diriku sendiri dan bayi kita? pemikiranmu terlalu picik mas, tanpa kamu sadari ucapanmu itu, seolah menuduhku, akulah yang membunuh anakku"


Gandi terdiam. Ia lihat gadisnya berucap sembari menangis. Gandi mendekat, meraih tubuh Rara, nanun sayang gadis itu menepis tangan Gandi dengan kasar.


"Maafkan mas, masgak bermaksut menuduhmu"

__ADS_1


Rara tertawa hambar, seolah mengejek ucapan suaminya.


"Ya, kamu tidak menuduhku secara langsung mas, tapi kamu menyalahkanku atas kematian putri kita" Rara bangkit dari tempat tidur gadis itu berlari keluar kamar mereka.


Melihat itu Gandi hawatir, karna luka oprasi Rara masih basah.


"Dek jangan lari, lukamu belum kering"


Ucap Gandi hawatir. Gadis itu tak menggubris, hatinya terlanjur sakit.


Rara terus berlari menuruni anak tangga, Tanpa perduli akibatnya, saat injakan terakhir Rara terpeleset,


"Hati-hati Ra!"


Pekik Gandi histeris. Namun naas gadis itu sudah keburu jatuh tengkurap.


Gandi terkejut melihat apa yang terjadi. Dengan cepat Gandi mendekat kearah Rara.


Gadis itu masih keras kepala, Ia tak mau dibantu suaminya.


"Jangan perdulikan aku, mas! aku istri yang buruk yang tega melukai buah hatinya sendiri"


Rara berusaha bangun, saat berhasil bangun terlihat bajunya basah terkena bercak warna merah darah.


"Dek, perutmu" ucap Gandi terkejut. Gadis itu hanya terdiam, melihat nanar kearah perutnya.


"Ayo, kerumah sakit. Itu luka oprasimu robek lagi" Ucap Gandi panik. Gadis itu tak menjawab, ia terisak pilu. setelah berapa menit barulah, Rara bersuara.


"Biarkan aku seperti ini mas, Agar aku bisa menyusul putriku, agar hatiku tak sakit kamu salahkan terus menerus"


Gandi terdiam. pria itu merasa bersalah atas ucapannya yang telah menyakiti hati istrinya. Gandi baru sadar, justru Raralah yang harusnya lebih terpukul atas kejadian ini. Harusnya ia sebagai suami menguatkan hati isyrinya, bukan sebaliknya menyalahkan gadisnya hingga gadisnya merasa sedih.


"Mas minta maaf, sungguh mas khilaf atas apa yang telah mas ucapkan."


Rara tak menghiraukan ucapan suaminya, karna telinga gadis itu mulai berdengung, pandangannya berkunang-kunang, taklama Rara lunglai, tubuhnya ambruk ke lantai.


Gandi panik, Pria itu berlari memanggil pak Tejo.


"Pak, tolong keluarkan mobil, kita bawa Rara kerumah sakit"


Perintah Gandi pada sopirnya.


"Iya, baik tuan"


Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit Rara langsung mendapat perawatan.Kata dokter luka oprasinya robek, jadi Rara harus dioprasi ulang, untuk memperbaiki luka oprasinya.


Gandi terduduk lesu, menyesali sikapnya terhadap Rara, harusnya ia sadar semua yang terjadi atas kehendak Allah, semua yang ada di dunia hanyalah titipan, termasuk anak mereka. Penyesalan selalu datang terlambat, itulah sifat manusia.


__ADS_2