
Perjalanan yang menyenangkan membuat hati Rara bahagia, bagaimana tidak. Ini pertama kalinya gadis itu menginjakkan kakinya di Jerman. Saat ini mereka sudah memasuki gerbang besar yang di namakan
Holstentor. Dalam bahasa Jerman artinya gerbang Holsten Sebuah gerbang besar terbuat dari batu bata merah dengan desain Gothik di kota Lubeck , Jerman. Holstentor bukan hanya sebuah gerban, tetapi sebenarnya adalah benteng.
Rara takjub dengan keindahan negri yang dijuliki Negara Hitler ini. Jerman juga terkenal dengan Negara industri.
Sebagai negara yang besar, Jerman tentu memiliki berbagai julukan. Hal itu karena Jerman memiliki keunggulan di berbagai bidang. Dengan keunggulan dan sejarah yang panjang, Jerman memiliki begitu banyak julukan.
Nama Jerman sendiri adalah padanan dalam bahasa Melayu yang mengadopsi penyebutan dalam bahasa Inggris, yaitu Germany. Nama tersebut berasal dari penyebutan orang Romawi untuk orang-orang di sekitar sungai Rhein, yaitu Germania. Padahal, bagi bangsa Jerman sendiri, negara mereka disebut Deutschland.
Netra Rara terus berkelana, dengan riangnya gadis itu berpose berbagai gaya di Brandenburg Gate. Yang Merupakan simbol utama gerbang Berlin. Sementara om suami duduk manis melihat tingkah istrinya.
Setelah puas menikmati pemandangan dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga besar Argandi Argam.
"Ayok sayang turun"
Gandi mengulurkan tangannya, untuk membantu istrinya itu turun dari mobil. Dengan senang gadis itu menyambut uluran tanga suaminya.
dari mobil terlihat keluarga besar Argam menyambut kedatangan dua pasang suami istri. Gandi berlari menuju paman dan keponakanya, Camera Rara tak lupa membidik suami dan keluarganya.
"Cucu oma" Ucap Mahdim lirih. Sembari membawa pria dewasa itu kedalam pelukan hangat wanita sepuh. Gandi melepas pelukannya, ia tatap mata senja milik omanya, dengan sayang Gandi menghapus linangan air mata kerinduan itu.
"Kamu lupa, sama oma nak, lama kamu gak berkunjung"
"Maafkan Arga, oma. Karna kesibukan cucu oma ini, sampai-sampai Arga gak ingat pulang" Mahdim tersenyum tulus, sembari mengelus rahang cucunya yang ditumbuhi jambang. Mata tua itu kemudian tertuju pada gadis cantik yang tersenyum ramah.
"Kemarilah Ini cucu menantu oma, Arga?"
"Iya oma, dia istri Arga!"
"Kamu cantik sayang" Mahdim terus membelai lembut pipi putih milik cucu menantunya itu.
Setelah puas melepas rindu, tak lupa Mahdim menjamu cucunya. Ia siapkan semua makanan kesukaan cucu kesayangannya itu. Seluruh keluarga besar Argam, berkumpul di meja makan.
Rara, takjub ternyata keluarga suaminya sangat banyak. Bahkan lebih dominan perempuan.
Mahdim tak lupa membuatkan bratwurst kesukaan Arga. Bratwurst itu sosis khas Jerman yang diolah dengan cara dipanggang. Setelah dipanggang, ia dihidangkan bersama dengan salad yang disebut Kartoffelsalat.
Sosis itu Mahdim buat dengan tangannya sendiri. Sungguh oma Arga sangat jago memasak.
"Heem, enak banget oma, bratwurstnya. Di indonesia susah sekali mencari bratwust yang pas di lidah Arga"
"Oh ya, kalau begitu nanti kalian oma ajari, cara membuatnya."
"Benarkah, oma?"
"Heem. Tentu sayang, oma akan ajarkan cucu menantu oma, masakan kesukaan Arga"
"Makasi oma"
Rara dengan sayang memeluk oma Mahdim.
__ADS_1
Usai menyantap menu olahan oma, Rara dan gandi ikut menuju dapur untuk belajar membuat masakan khas Jerman.
Oma mulai menyiapkan bahannya. sementara Rara dan Gandi tengah menguleni daging yang sudah digiling.
S
Sembari menunggu bratwurstnya selesai, Rara dengan lihainya memasak sup sapi, untuk santap siang bersama keluarga besar Argam.
Sementara Gandi dengan setia menemani, isyrinya, pria itu dengan sayang memeluk Rara yang tengah memotong sayur untuk campuran sup.
"Mas, awas tar baju mas bau bumbu dapur lo"
"Gak papa. Gampak, tinggal ganti baju. Sayang lihat, perutmu sudah kelihatan. Mas gak sabar pengen cepat-cepat anak kita lahir."
Ucap Gandi sembari terus memeluk sembari mengelus sayang perut Rara yang mulai membuncit itu. Tanpa mereka sadari oma tersenyum menatap kemesraan cucunya.
Mahdim mendekati sepasang suami istri itu.
"Heem. Cucu oma, Udah gak lihat tempat lagi ya"
Gandi nyengir, sementara Rara tersenyum malu.
"Mas, malu itu dilihat oma"
"Gak papa, oma udah biasa lihat yang beginian"
Ucap Gandi santai, Sementara Mahdim geleng kepala.
"Gimana sayang, udah matang supnya?"
"Udah oma"
"Wah, masakan cucu menantu oma enak sekali, sayang. Sapa yang ngajarimu masak, pasti mamamu ya sayang?"
Seketika Rara terdiam kemudian tersenyum simpul.
"Bukan oma. Guru masak Rara, mas Gandi?"
Mendengar jawaban cucunya itu, oma tersenyum.
"Benarkah?" Tanya oma tak percaya.
"Bener dong oma, kan dulu oma yang selalu ajari Arga masak"
Mahdim menepuk pipi cucu kesayangannya.
"Cucu oma memang hebat"
Setelah keluarga Argam, mencicip menu makan siang, akhirnya mereka pergi jalan jalan keliling tempat wisata, yang memang Rara belum pernah mengunjunginya.
"Wah Mas. bagus banget, lihat di sana saljunya tebal banget. Aku suka. Ayo mas, kita kesana!"
Rara menarik tangan suaminya menuju tempat yang gadis itu inginkan. Mereka tak lupa mengabadikan setiap momennya.
"Hati-hati sayang" Om suami tak lupa mengingatkan istrinya. Karna Gandi hawatir, terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.
"Iya mas"
Mereka berfose bersama keluarga besar Argam. Terlihat oma mengenakan kacamata dalam foto.
__ADS_1
Setelah puas bergaya dan bermain salju Rara dan gandi berjalan menelusuri bangunan-bangunan kuno. Di sana gadis itu berjalan beriringan dengan om suami, Namun saat kakinya hendak melangkah menginjak tangga, Kaki Rara terpleset. Sehingga gadis cantik yang sedang hamil itu tergelincir.
Gandi syok, melihat istrinya yang terkapar di tanah.
"Sayag, bangun. Kamu baik-baik aja bukan. Tenanglah mas akan mencari bantuan, untukmu." Gandi terus memanggil keluarganya. Saat hendak membopong istrinya, netranya menatap tajam kearah celana yang dikenakan Rara.
Di sana darah segar merembas di paha sintal Rara. Gandi menjerit sembari membawa istrinya kedalam pelukan.
Pria itu menangis, ia takut terjadi sesuatu pada Rara dan anaknya.
Bagaimana mungkin ia bisa lalai menjaga istrinya, yang berada tak jauh dengannya.
Setelah keluarganya datang membawa mobil. Gandi dengan cepat membopong tubuh Rara yang bersimbah datah.
Oma terkejut melihat cucu menantunya yang bersimbah darah.
"Apa yang terjadi dengan cucuku, ya Allah.Cepat bawa Rara kerumah sakit terdekat, selamatkan cucuku!"
Oma terus berucap sembari menangis dalam pelukan Maya.
"Tenanglah oma, kita do'akan yang terbaik untuk Rara dan bayi yang ada dalam kandungannya. Semoga tidak terjadi apa-apa"
Ucap Maya menenangkan oma Mahdim, nenek dari sepupunya itu.
Setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat.
Gandi berlari sembari membopong istrinya, Namun petugas medis dengan sigap menyambutnya dengan brankar. Tim dokter ikut langsung menarik branker, karna keadaan Rara sangat darurat.
Tubuh Rara mulai memasuki ruangan UGD. Gandi ikut masuk kedalam untuk mengantarnya.
"Tolong, toling selamatkan istri dan anak saya dok" Pinta Gandi pada sang dokter dengan wajah hawatir.
"Insya Allah kami akan melakukan yang terbaik pak, bersabarlah, agar penanganannya cepat, silahkan bapak tunggu di luar saja"
Ucap dokter itu lembut.
"Bai dok, lakukan yang terbaik"
Ucap Gandi tegas.
Sebelum keluar dari ruang UGD. Gandi mendekatkan wajahnya, taklupa pria itu mencium kening istri tercinta. Sembari berucap lirih.
"Bertahanlah sayang, kamu pasti baik-baik saja"
Dokter mulai memasang alat-alat medis ke tubuh lemah Rara. Sementara Gandi tampak cemas di luar sana. Pria itu mondar-mandir di depan pintu UGD.
"Duduklah nak, berdoa yang terbaik untuk istrimu" Ucap oma mengingatkan cucunya itu. Gandi menuruti permintaan omanya, Pria itu duduk tepat di samping sang oma, Mahdim meraih tubuh kekar cucunya yang tampak rapuh.
__ADS_1
Wanita sepuh itu dengan penuh cinta memeluk cucunya, mengusap lembut kepala Gandi yang tertunduk. Bahunya berguncang hebat, pria itu tampak menyesal, atas apa yang menimpa istrinya.