
...Note : Maaf ya gak bisa tepati janji buat double up. Karena aku juga nulis di tempat lain dan itu keteteran. Jadi aku update sehari sekali aja yah. Mianhe...
...\=\=\=...
Siapa yang tidak terkejut setelah mendengar pengakuan Aiman tentang status kami?
Bagai petir di siang bolong, aku sumpahin giginya Aiman ompong!
Tanpa babibu, aku langsung mendorong Aiman menjauh dari pembicaraan ini. Tapi apalah daya, tenagaku tak cukup kuat untuk mendorongnya yang memiliki tubuh atletis bak binaragawan yang pernah ia pamerkan padaku di malam pertama kami tinggal bersama.
Akhirnya….aku hanya bisa misuh-misuh padanya sambil menyipitkan mata.
“Mau kamu apa sih! Lagi-lagi keluar dari perjanjian!”
“Perjanjian apa?” balas Aiman ikut berbisik.
“Kan aku ngasih syarat ke kamu….jangan sampai status aku terbongkar di kampus!“
“Mel,” panggil kak Rendi yang tanpa sadar sudah kubuat seperti emping kering karena kelamaan dijemur.
Tanpa sadar aku sudah menatap kak Rendi dengan pandangan iba, “Kak! Ini tuh –“
“Kamu nggak usah repot-repot jelasin. Aku udah tahu kalau kamu emang udah menikah,” ungkapnya yang membuatku terserang tekanan batin.
Yah..gagal deh punya rahasia seperti artis yang ada di televisi.
“Kakak tahu udah lama?”
“Aku tahunya dari Raline waktu kita ke kafe waktu itu.”
Aiman mendadak maju untuk mendengarkan, “Kamu ketemu Raline lagi?”
Kuhela napas dengan berat di depan Aiman yang memiliki postur tinggi semampai itu. Kalau kalian ingin tahu seberapa tingginya aku bila berhadapan dengan Aiman seperti ini, maka kubilang tinggiku cuma sampai di dagunya saja.
“Memangnya nggak boleh ketemu dia?”
“Bukan gitu. Pasti kamu salah paham kayak gini karena dia, iya kan?”
Aku tak menjawabnya karena memang aku tak punya jawaban apa-apa tentang tuduhannya tersebut. Mungkin benar, kalau aku sekesal ini ya…. karena si kutilang itu.
“Siapa yang salah paham? Kalian lagi berantem?”
Terdengar suara dari luar pagar. Suara seorang wanita yang pastinya jauh lebih tua dari kami yang berkumpul di sini. Pandanganku langsung tertuju pada mamanya Aiman yang datang bersama dengan anak tertuanya – Alina. Semuanya jadi saling menyapa tak terkecuali kak Rendi yang memang sudah mengenal mamanya Raka alias kak Alina.
“Mama ke sini kok nggak bilang-bilang?” tanya Aiman sambil membantu membawakan barang bawaan mama dan kakaknya tersebut.
Aku juga ingin melakukan hal yang sama, tapi bantuanku langsung ditolak dengan alasan kondisiku yang tengah sakit.
__ADS_1
“Mama cemas karena kata Raka istri kamu sakit udah dua hari nggak sembuh-sembuh.”
“Hari ini ada mual-mual nggak?” tanya kak Alina sambil mengamatiku dari ujung rambut hingga ke ujung jempol kakiku.
Kami berdua tentu melirik bingung pertanyaan kak Alina itu. Seolah ia sedang memindai penyakitku yang mungkin ada hubungannya dengan muntah-muntah.
“Eh? Nggak ada kok kak. Siapa yang bilang kalau aku muntah-muntah?”
“Raka yang bilang. Dia pikir kamu hamil.”
Dih amit-amit jabang bayi! Awas aja ye Raka. Balik ke sini aku cincang-cincang!
Aku langsung menyangkal dugaan Raka tersebut sambil melambaikan tangan. Sekaligus akupun menyangkal hal itu demi menghindari prasangka kak Rendi yang sejak tadi terus terdiam.
“Dusta itu kak. Raka sembarangan ngomong.”
“Yah…padahal mama udah ngarep banget nambah cucu lagi. Kakak juga udah kangen mau gendong bayi,” tukas kak Alina dengan nada bercanda.
Aku menelan ludah mendengar candaan ibu-ibu ini. Memang tak salah semua keluarga berharap demikian. Ibuku yang di Medan pun ikut menanyakan hal yang sama. Hanya saja tak kujawab karena memang aku tak ingin.
Sudah niatku untuk menikmati masa muda seperti yang kutuliskan di binder. Wishlist keluar negeri saja juga sudah kutulis di sana dengan harapan akan terlaksana beberapa tahun ke depan. Mana mungkin aku memiliki bayi di saat semua list itu tengah menungguku?
Dan lagi mana mungkin itu terjadi. Karena aku dan Aiman tak akan mungkin saling kontak fisik mengingat kami adalah pasangan yang saling bertolak belakang.
“Kan itu hari udah dibahas, Ma. Mela belum bisa hamil dulu karena masih kuliah.”
“Tapi kalau kebobolan juga nggak apa-apa toh. Rejeki jangan ditolak,” sahut mama sambil berjalan masuk ke dalam rumah tanpa diminta.
Alamak. Makin runyam saja urusan ini.
“Mel, kalau gitu aku pamit dulu.”
“Eh kak Rendi tunggu! Nggak mau masuk dulu?” tanyaku basa-basi.
“Sebenarnya banyak yang mau aku obrolin ke kamu, tapi nggak enak karena ada keluarga om Aiman. Di kampus aja kalau kamu udah sembuh,” balasnya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya itu.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Tak lama kemudian, kak Rendi pun pamit dengan kepala yang terus tertunduk. Ia sempat melambaikan tangan ketika sudah berada di mobil antiknya. Ketika mobil pun mulai melaju, lambaian tangan itupun mulai menjauh pergi.
Aku masuk ke rumah sambil menghela napas panjang. Mana bisa aku istirahat kalau ada keluarga Aiman di rumah?
“Kamu udah makan, Mel?”
“Udah –“
__ADS_1
“Belum kak. Mela ngeyel nggak mau makan,” potong Aiman yang sama sekali tak kutatap wajahnya.
“Nih….kakak udah buatin soto medan buat kamu. Kali aja kamu jadi selera makannya.”
“Wah! Udah lama banget nggak makan soto! Makasih kak!” sahutku dengan antusias.
Semua orang terlihat senang ketika aku mulai mau makan. Begitu pula dengan Aiman yang mengambil kesempatan ini untuk cari muka di depan emak dan kakaknya itu. Aku tahu ia sedang berusaha keras untuk menunjukkan rumah tangga kami tengah baik-baik saja – yang padahal kalau kubilang sudah nyaris di ujung tanduk.
“Kamu mesti peka dong Man….istri kamu maunya apa kalau lagi sakit. Apalagi dia sendirian di sini. Anak perantauan juga. Kalau bukan kita yang perhatiin Mela, terus siapa lagi?” nasehat kak Alina yang kutelan bulat-bulat dipikiranku seperti aku yang sedang menelan tulang ayam ke dalam mulutku.
Karena terlalu menikmati, aku menyantap semua masakan itu dengan lahapnya. Lalu tiba-tiba, akupun tersedak tulang.
“Uhuk!”
“Kamu kenapa, Mel?”
Tenggorokanku terasa sakit juga aliran napasku mulai tersendat. Kupukul-pukul dadaku agar tak lagi tersedak, namun tak berhasil. Minum air satu teko pun, tetap tak membuat tulang itu keluar.
“Man! Aiman! Mela kenapa?” Mama mulai histeris.
“CPR Man! Mela kesedak kayaknya,” sambung kak Alina yang juga membantuku dengan cara menepuk-nepuk bagian punggung.
“Coba batuk, Mel.”
Aku sudah melakukannya sejak tadi namun tetap tak bisa. Karena kedua cara itu tak berhasil, Aiman berdiri di belakangku lalu memelukku dari belakang. Kedua tangannya berada tepat di bawah ulu hatiku dengan satu tangannya yang terkepal.
Tiba-tiba aku mulai merasa canggung. Posisi ini seperti sedang dipeluk erat olehnya, kan?
“Ini mungkin terasa sakit, tapi rileks aja ya Mel,” pesan Aiman dengan hati-hati.
Aiman mulai mengeratkan tangannya disertai dengan gerakan menghentak. Rasanya sakit sekali karena ulu hati ditekan dengan tangannya yang super kuat itu. Aiman terus melakukannya hingga lima kali. Lalu tak lama kemudian, akupun mulai mengeluarkan tulang ayam yang membuat aku harus tersedak seperti ini.
Semuanya merasa lega karena aku telah selamat dari musibah ini. Mama sampai mengurutkan dada sanking cemasnya. Sedangkan kak Alina geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolku yang makan sampai harus tersedak. Lalu Aiman….kenapa dia masih melingkarkan tangannya ke pinggangku? Karena penasaran, aku menoleh ke arahnya dari sebelah kanan bahu. Karena gerakanku, tanpa sengaja bibirku malah bertemu dengan sudut bibirnya yang tebal dan kenyal itu.
Aku terbelalak kaget tapi tak berlaku kepadanya. Aiman malah diam saja dan menikmati momen singkat itu.
Dasar om-om mesum! Bisa-bisanya dia nyari kesempatan!
“Udah dong meluknya. Kalau mau peluk-pelukan di dalam kamar aja,” sindir kak Alina yang ternyata sejak tadi memperhatikan.
“Tahuu nih! Nggak malu, apa?” omelku yang malah ditanggapi dengan diam oleh Aiman.
Dengan cepat aku melepas paksa pelukan Aiman tersebut lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kudengar dari dalam kamar mandi, kak Alina terus menggoda Aiman atas perbuatan tak sengaja tadi.
__ADS_1