
Bang Ranjha panik karena Kinan belum juga sadar bahkan saat dirinya menekan dada Kinan.
"Tolong bawa mobil kesini, antar saya ke rumah sakit..!!" Perintah Bang Ranjha pada Prada Ariel.
...
Dokter Iksan senior Bang Ranjha yang menerima Kinan di ruang UGD langsung menangani tapi kemudian keningnya berkerut. "Kamu mau mengurus surat pengajuan nikah ya Ran?" Tanya Dokter Iksan.
"Siap Bang."
"Sebentar ya, saya agak sedikit curiga nih. Istrimu di periksa Baraq saja..!!" Dokter Iksan pun meninggalkan ruang UGD.
Tak berapa lama Bang Iksan datang bersama Bang Baraq di belakangnya.
"Lho Ran.. ada apa nih?" Sapa Bang Baraq saat melihat littingnya ada di ruang UGD.
"Kinan, tiba-tiba pingsan dan tercebur di sungai." Jawab Bang Ranjha dengan wajah cemas.
Bang Baraq segera memeriksa keadaan Kinan. Saat Bang Iksan menempelkan stetoskop di dada Kinan, Bang Ranjha langsung menepaknya.
"Aku saja..!!" Bang Ranjha mengambil stetoskop dari tangan Bang Baraq lalu memeriksa keadaan Kinan dan mencatatnya di buku rekam medis pasien. "Hmm.. ini tanda apa ya? Aku nggak paham"
"Makanya jangan asal serobot tugas dokter, mana streoskopku..!!" Bang Baraq merebut kembali stetoskopnya dan memeriksa Kinan tapi masih saja Bang Ranjha sedikit menjauhkan dari besarnya dada Kinan dan mengarahkan di dekat leher. "Tolong kau jangan ikut campur, aku ini dokter yang di sumpah, berbeda denganmu yang hanya mengandalkan ilmu kira-kira dan pemikiran mesum saja..!!"
"Eehh Baraq, terlepas dari semua itu.. jelas aku berhak melindungi istriku. Apa salah???" Kata Bang Ranjha membalas ucap Bang Baraq.
"Terserah lah. Kau ini posesif sekali. Mudah-mudahan Kinan bisa tahan dengan segala kelakuanmu." Ucap Bang Baraq.
"So far Kinan malah suka aku yang kaku." Jawab Bang Ranjha yang sama sekali tidak bisa di debat.
"Begitu ya, kalau begitu nikmati hasil kekakuanmu..!! Kinan hamil. Kau masih pengajuan nikah. Lalu bagaimana kau akan menyelesaikan hasil kerja kerasmu????" Bang Baraq membungkam telak mulut Bang Ranjha.
Kini hati Bang Ranjha menjadi tak karuan. Takut, cemas namun juga sangat bahagia mendengar kabar bahwa Kinan tengah mengandung benihnya.
"Alhamdulillah..!!" Ucapnya lirih. "Lalu bagaimana kondisi keduanya?"
"Kupastikan pakai alat USG dulu. Karena kemungkinan calon anakmu masih sangat kecil sekali." Kata Bang Baraq.
__ADS_1
...
Bang Ranjha membantu Kinan untuk duduk. Selang oksigen masih terpasang di wajahnya.
"Kinan mual Mas, nggak bisa nafas."
"Pelan-pelan dek, jangan terburu-buru..!!" Kata Bang Ranjha. Hatinya teriris pedih mengetahui kenyataan bahwa Kinan memiliki masalah dengan paru-parunya dan hal itu juga mempengaruhi janin yang baru saja bertumbuh di dalam kandungan.
Perlahan Kinan menarik nafas hingga udara perlahan masuk ke tubuhnya tanpa hambatan.
"Kinan kenapa Mas? Sekujur tubuh Kinan sakit, Kinan mual."
"Bukannya kamu bilang kalau kamu hamil. Inilah rasanya hamil." Kata Bang Ranjha menghibur hati Kinan.
"Oohh.. begini ya rasanya??" Setitik air mata Kinan menetes. Ia memejamkan matanya.
"Apa yang kamu rasakan? Bilang sama Mas..!!" Bang Ranjha membelai rambut Kinan dengan lembut.
"Kinan........"
Seakan paham apa yang di rasakan Kinan, Bang Ranjha memeluk istri mudanya itu. Sekelebat ia teringat dengan perlakuan manis Ayah Rojaz pada Mama Rhena. Ia pun mencobanya.
'Ya Allah Tuhan, inikah rasanya punya istri yang sedang mengandung. Tidak tega melihatnya menangis.'
"Nanti Mas bilang sama Ayah. Kamu jangan banyak pikiran ya..!!" Bisik Bang Ranjha di telinga Kinan.
//
Ayah Rojaz sedang bersitegang dengan Papa Renash karena sudah beberapa waktu ini tidak bisa menghubungi Bang Ranjha. "Aku mau membatalkan usulan Abang untuk menjodohkan Ranjha dan Kinan. Ranjha sangat emosian, aku tidak mau Kinan menjadi korban galaknya Ranjha."
"Ranjha tidak begitu Jaz, percayalah..!!"
"Nggak Bang, aku nggak mau mereka tinggal dalam satu rumah. Mau jadi apa Kinan kalau di apa-apakan Ranjha. Wibi pun menjawab mengambang. Pokoknya aku mau kesana Bang."
***
Ayah Rojaz tiba di asrama Batalyon dan meletakan tasnya di mess transit. Sesaat setelah tiba, ia meninggalkan Rhena dan langsung menuju kediaman Danki.
__ADS_1
Mungkin karena tidak ingin hal buruk terjadi pada keponakan nya, Papa Renash pun ikut bersama Ayah Rojaz.
Sungguh kaget hati seorang ayah melihat putri kesayangannya berduaan dengan seorang pria di dalam rumah. Ia mengira putrinya Kinan memilih tinggal di luar asrama.
Para tetua melihat Bang Ranjha sedang berciuman panas dengan Kinan. Terlihat sekali dengan sangat jelas nafsu bi_rahi seorang Riasat Ranjha yang meluap ingin di salurkan.
"B******n... Ranjhaaaaaaaaa..!!!!!!!!!" Bentak Ayah Rojaz.
Mendengar suara tersebut Bang Ranjha terperanjat dan langsung menutup rok Kinan dan merapatkan bagian dada wanitanya tersebut.
"Kau benar-benar tidak bisa di percaya Ranjhaaa..!!"
Buuugghhh..
Bang Ranjha sama sekali tidak melawan hantaman Ayah mertuanya dan hal itu membuat murka Ayah Rojaz semakin menjadi.
Melihat Bang Ranjha mendapat hantaman, Kinan pun tidak tinggal diam, ia berlari tepat di depan Bang Ranjha, sebuah tendangan kuat yang seharusnya mengarah pada Bang Ranjha malah meleset mengarah pada Kinan. Untung saja tangan Bang Ranjha sigap menepis dan mengenai tangannya meskipun tendangan tersebut juga sempat menekan perut Kinan.
"Kinaaan..!!!! Kenapa kamu bodoh sekali dek..!!!!" Tangan Bang Ranjha sampai gemetar mengusap perut Kinan.
"Cepat bilang Ayah..!!" Pinta Kinan yang melirik sang Ayah yang juga terpaku karena syok.
Bang Ranjha menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Tolong restui hubungan kami. Kinan sedang mengandung anak saya..!!"
"Ranjhaa.. kamu..!!" Ayah Rojaz seakan kehabisan kata. Kakinya lemas hingga Papa Renash harus menyangga tubuhnya.
"Semua duduk dulu. Kalau emosi begini semua masalah tidak akan selesai..!!" Kata Papa Renash. Papa Renash mengarahkan Ayah Rojaz untuk duduk dan mengatur nafas agar lebih tenang. "Tidak ada yang perlu di cemaskan. Mereka sudah ku nikahkan."
Ayah Rojaz kembali syok. Ia menyentuh dadanya dan bersandar tanpa daya. Bang Ranjha mengangkat Kinan dan merebahkannya di sofa, pria itu sibuk sendiri merawat gadis kecilnya.
"Apakah karena aku hanya seorang ayah sambung? Apapun yang telah terjadi.. aku mencintai Kinan seperti putriku sendiri." Ayah Rojaz terlihat sangat kecewa dengan kenyataan yang baru saja di ketahuinya.
.
.
.
__ADS_1
.