ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
7. Dunia belum terjamah.


__ADS_3

"Silakan kalau berani..!!" Kata Bang Ranjha membuat Kinan ragu.


"Ya sudah, Om boleh ikut, tapi dengan syarat..!!"


~


Kinan memberanikan diri untuk mandi. Di temani Bang Ranjha yang duduk membelakangi dirinya.


"Airnya dingin sekali Om..!!" Ucap Kinan dengan suara merdu mendayu ditambah suara khas menggigil kedinginan.


"Nanti juga terbiasa. Airnya tidak begitu dingin." Jawab Bang Ranjha. Bang Ranjha memang merasakan air terasa dingin tapi hatinya yang panas membuatnya tak merasakan air yang dingin itu.


"Om jangan disitu donk.. Kinan khan......"


"Nggak apa-apa. Cuci saja yang bersih. Jangan meninggalkan bekas apapun apalagi di daerah seperti ini. Di sambar penunggunya kamu nanti." Bang Ranjha berdiri lalu masuk dengan cepat dan mengambil plastik kecil untuk Kinan lalu kembali lagi ke tempat Kinan mandi. "Mana barangnya..!!"


Kinan terpaku memperhatikan wajah Bang Ranjha.


"Mana dek..!!" Bang Ranjha sudah mengulur tangannya dan kemudian menerima barang milik Kinan dengan ragu. "Ayo cepat, hari sudah mau gelap. Saya juga belum mandi." Kata Bang Ranjha.


"Tapi Kinan belum pakai sabun Om."


"Astaga, hampir satu jam kamu mandi. Apa saja yang di gosok. Duuuhh wadooonn..!!!" Bang Ranjha tak ambil pusing, ia segera membuka kaos dan celana lorengnya lalu ikut turun ke sungai.


"Abaaang, Kinan mandi dulu..!!!!!"


"Ya sudah mandi saja..!! Kamu menghadap Utara, saya menghadap ke selatan.. Tetap berdiri di sana..!!" Kata Bang Ranjha kemudian mereka mandi dengan beradu punggung.


Bang Ranjha masuk ke dalam air kemudian segera memakai sabun dan mandi seperti biasanya. Di sana Kinan melirik bagaimana cara pria untuk mandi di sungai, ia pun mengikuti cara Bang Ranjha.


bbleeepp..


Kinan menghilang tapi Bang Ranjha merasakan tersentuh hingga celana pendeknya tertarik oleh sesuatu dan merosot.


Bang Ranjha segera menarik celananya. "Kinan..!!!!" Tangan Bang Ranjha menyambar kain Kinan dan menariknya ke pelukannya.


Kinan gelagapan tapi kemudian menampar pipi Bang Ranjha.


plaaakk..


"Apa-apaan sih Om???" Kinan membenahi lilitan kainnya yang berantakan berharap Bang Ranjha tidak melihatnya.


"Kamu yang apa-apaan. Sudah di tolong.. pakai nampar lagi." Jawab Bang Ranjha salah tingkah karena baru saja dirinya melihat keindahan surga dunia. "Kamu itu yang pegang saya??"


"Pegang apa??? Kinan pegang kayu." Kata Kinan berkilah tanpa merasa bersalah.


"Kayu gundhulmu.. gagang keris itu." Jawab Bang Ranjha sampai naik darah.

__ADS_1


Kinan tak peduli dengan ucapan Bang Ranjha karena dirinya yang polos juga tak memahami maksudnya.


"Cepat ganti pakaian, yang sopan. Rekan saya mau kesini..!!" Kata Bang Ranjha.


...


"Abang punya istri?" Tanya Letda Tyo.


"Baru mau pengajuan." Jawab Bang Ranjha sambil merajang tubuh ular menjadi bagian yang kecil.


"Asli mana Bang?" Tanya Bang Tyo mulai kepo.


"Asli Indonesia." Jawab Bang Ranjha santai.


"Kenalkan sama kami donk Bang. Masa kamu tidak tau calon ibu Danki??" Kata Bang Tyo.


Praaakk..


Bang Ranjha menancapkan parang di papan iris yang ada di hadapannya dan itu membuat Bang Tyo dan seluruh anggota yang berada disana terdiam.


"Saya di jodohkan. Sudahlah, istri saya itu nggak seperti bayangan kalian, banyak minusnya."


"Oomm.. baju Kinan mana ya??"


"Oom??????" Tawa menggelegar di seluruh area dapur.


Bang Ranjha menghantam kembali parang yang masih di pegangnya.


"Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Ranjha berlari cepat dan mendorong tubuh Kinan agar kembali masuk ke dalam kamar.


Mata para anggota sudah terbelalak, mulutnya ternganga melihat paras wajah ibu Danki serta sekilas moleknya tubuh istri Lettu Ranjha.


"Kamu ini apa sih dek. Banyak rekan saya..!! Nggak sopan..!!!!" Tegur keras Banh Ranjha.


"Baju Kinan nggak ada Om."


"Lantas apa isi satu koper besar yang kamu bawa???"


Kinan membukanya di hadapan Bang Ranjha.


"Ya Allah Tuhan." Bang Ranjha menepuk dahinya saat melihat koper Kinan hanya berisi foto keluarga, boneka, make up, pakaian dalam, pembalut dan beberapa buah barang wanita.


"Kinan pakai baju apa Om?"


"Karung." Jawab Bang Ranjha sampai menggaruk kepalanya. Secepatnya ia membongkar pulsac dan ranselnya untuk mencari pakaian yang setidaknya pas di badan Kinan.


"Dingin Oomm, cepat..!!"

__ADS_1


Bang Ranjha menepak ranselnya. "Kau ini memang tumpul dengkul ya. Dengan kepandaian sejentik kuku kau berani kabur dari rumah..!!!"


"Yang penting Kinan sudah niat.."


"Allahu Akbar.. sudah salah, ngeyel pula..!!!!" Bentak Bang Ranjha.


Sesaat kemudian wajah Kinan berubah mendung dan saat itu juga hati Bang Ranjha lemah dan merasa tidak tega.


"Pakai ini, karena belum ada baju yang pas.. nanti pakai jaket saya. Besok saya belikan baju."


"Nggak usah, Kinan bawa uang." Kata Kinan dengan sombongnya.


Belajar dari pengalaman, Bang Ranjha tak lantas percaya dengan ucapan Kinan. "Oya, bawa berapa?"


"Ini.." Kinan meletakan uang di atas nakas.


"Alhamdulillah.. dua belas ribu dapat baju. Di dalam mainan bongkar pasang."


Bang Ranjha keluar dari dalam kamar sambil mengelus dada. Sungguhkah dirinya harus hidup bersama gadis seperti Kinan tapi kemudian senyumnya mengembang, ia pun menggeleng sembari mengusap wajahnya. "Semprul."


...


Kinan tidak selera makan saat melihat menu makan malam hari ini. Rica ular, lalapan timun, sayur kangkung rebus dan nasi dari ketela.


"Nggak ada makanan lain kah Om?" Tanya Kinan berbisik mendekat pada Bang Ranjha.


"Nggak ada, ini saja sudah mewah."


Kinan menunduk tak bisa melihat makanan tersebut meskipun tampilan dan bumbunya terlihat sangat menarik.


Bang Ranjha tau Kinan belum bisa makan makanan seperti itu. Ia pun berinisiatif menyuapi Kinan. "Coba dulu..!!"


Awalnya Kinan menolak keras saat Bang Ranjha menyodorkan makanan ke mulutnya tapi karena dirinya sudah merasa lapar, mau tidak mau Kinan membuka mulutnya juga.


"Nggak ada nasi?"


"Nggak ada, kalau mau nasi berarti harus beli beras dulu ke kota. Siapa kemarin yang mau ikut saya kesini?? Jadi jangan rewel..!!" Perlahan Bang Ranjha mengajari Kinan kemandirian. "Makan dulu yang ada..!!"


Meskipun terasa aneh di lidah tapi Kinan tetap melahap makannya juga.


Saat itu tak sengaja mata Bang Ranjha melihat Letda Tyo yang tengah tersenyum menatap Kinan.


"Tolong bagi para anggota untuk jaga mata, sebelum saya jatuhkan perintah untuk putar bumi..!!" Tegur Bang Ranjha sambil menyuapi Kinan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2